IHSG Tembus Rekor, Investor Asing Borong Saham Rp2,5 Triliun
Senin, 11 Januari 2021 - 20:01 WIB
loading...
A
A
A
Defisit fiskal Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan berada di angka 6,09% dari Produk Domestik Bruto (GDP) berdasarkan realisasi APBN sebelum diaudit. Penerimaan pajak melemah karena pendapatan perusahaan-perusahaan terpukul dampak langkah-langkah yang diberlakukan oleh pemerintah untuk membatasi pandemi. Ini menyebabkan pendapatan negara pada tahun 2020 berada lebih rendah 17% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Head of Research Creative Trading System Argha Jonathan Karo Karo mengatakan, saat ini menjadi momentum bagi saham-saham farmasi menjelang vaksinasi Covid-19 yang dijadwalkan dimulai pada Rabu (13/1) mendatang.
Baca Juga : Wijaya Karya Tegaskan Tidak Ada Endorsement Saham ke Ustaz Yusuf Mansur
“Kita lihat sendiri sektor farmasi seperti KAEF, INAF, IRRA auto reject atas. Jadi ini memang momentumnya saham farmasi. Cuma saham-saham ini tidak bisa mengikut asing karena memang asing tidak main di saham-saham ini,” ujarnya pada closing market IDX Channel.
Menurut dia, saham farmasi lebih banyak dikuasai pemain besar lokal sehingga momentum ini bisa dimanfaatkan. Meski begitu, dia mengingatkan agar investor jangan terlalu berharap mendapatkan dividen besar pada saham-saham tersebut. Dia menyarankan trading jangka pendek pada saham farmasi.
“Tentunya tidak ada hubungannya dengan vaksin karena vaksinnya akan dikasih gratis. Jangan harap dapat dividen besar dari KAEF atau INAF karena secara perusahaan, perusahaan ini tidak menghasilkan banyak uang. Vaksinnya pun akan dikasih gratis. Cuma harga sahamnya menarik dinaik-turunkan,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, penyebab melonjokknya indeks kemarin disebabkan aksi jual yang dilakukan oleh investor lokal yang ditampung oleh investor asing. Investor asing mencatatkan net buy atau beli besar sekitar Rp2,5 triliun.
Sementara itu, Head of Research Creative Trading System Argha Jonathan Karo Karo mengatakan, saat ini menjadi momentum bagi saham-saham farmasi menjelang vaksinasi Covid-19 yang dijadwalkan dimulai pada Rabu (13/1) mendatang.
Baca Juga : Wijaya Karya Tegaskan Tidak Ada Endorsement Saham ke Ustaz Yusuf Mansur
“Kita lihat sendiri sektor farmasi seperti KAEF, INAF, IRRA auto reject atas. Jadi ini memang momentumnya saham farmasi. Cuma saham-saham ini tidak bisa mengikut asing karena memang asing tidak main di saham-saham ini,” ujarnya pada closing market IDX Channel.
Menurut dia, saham farmasi lebih banyak dikuasai pemain besar lokal sehingga momentum ini bisa dimanfaatkan. Meski begitu, dia mengingatkan agar investor jangan terlalu berharap mendapatkan dividen besar pada saham-saham tersebut. Dia menyarankan trading jangka pendek pada saham farmasi.
“Tentunya tidak ada hubungannya dengan vaksin karena vaksinnya akan dikasih gratis. Jangan harap dapat dividen besar dari KAEF atau INAF karena secara perusahaan, perusahaan ini tidak menghasilkan banyak uang. Vaksinnya pun akan dikasih gratis. Cuma harga sahamnya menarik dinaik-turunkan,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, penyebab melonjokknya indeks kemarin disebabkan aksi jual yang dilakukan oleh investor lokal yang ditampung oleh investor asing. Investor asing mencatatkan net buy atau beli besar sekitar Rp2,5 triliun.
Lihat Juga :