Terbongkar! Erick Thohir Ungkap 3 BUMN Pemilik Utang Paling Besar

loading...
Terbongkar! Erick Thohir Ungkap 3 BUMN Pemilik Utang Paling Besar
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, setidaknya ada tiga perseroan negara yang memiliki utang paling besar. Foto/SINDO Photo
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, setidaknya ada tiga perseroan negara yang memiliki utang paling besar. Sejumlah perusahaan plat merah yang terlilit utang selama pandemi Covid-19 berlangsung adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, BUMN Karya, serta Holding PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Baca Juga: Saham BUMN Moncer, Erick Thohir Pamer ke Anggota Dewan

Karenanya, restrukturisasi utang menjadi fokus Kementerian BUMN sepanjang 2022. Erick Thohir menambahkan, utang BUMN tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19. Di mana, ada 90% perusahaan negara yang kinerjanya terdampak.

"Tantangan yang kami hadapi ini ada tiga BUMN salah satunya PTPN yang mempunya nilai utang cukup besar Rp40 triliun lebih, dan juga (BUMN) karya yang memang masih berjalan dan beberapa hal lain di industri yang saat ini kondisinya masih harus kita hadapi seperti pariwisata, ini realita yang harus kami lakukan," ujar Erick dalam RDP bersama Komisi VI DPR, Rabu (20/1/2021).

BUMN karya yang dimaksud adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT PP Tbk (PTPP). Saat ini utang BUMN karya tengah direstrukturisasi.



Mantan Bos Inter Milan itu mengutarakan, utang BUMN sektor konstruksi itu berkaitan dengan kebutuhan dana untuk menggenjot sejumlah proyek yang tengah dijalankan emiten. "Sekarang ini suka tidak suka pembangunannya butuh dana sangat besar, tetapi karena masih Covid-19 penurunannya sangat signifikan," katanya.

Baca Juga: Erick Thohir Beberkan Perbedaan Vaksin Mandiri dan Subsidi

Sementara untuk PTPN, utang perseroan tercatat mencapai Rp48 triliun. Sedangkan KAI mengalami penurunan penumpang lebih dari 15% setahun.

"Hal ini tentu akibatnya ada perusahaan yang sejak awal utangnya cukup tinggi harus direstrukturisasi. Alhamdulillah kita punya track record yang baik ketika mencoba restrukturisasi KRAS," ujar dia.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top