Dewata Freight Siap Bangun Gudang Logistik Distribusi Cold Chain
Kamis, 28 Januari 2021 - 00:38 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan, pada Oktober 2020, nilai impor dari industri pengolahan barang konsumsi untuk industri farmasi, produk obat kimia dan produk obat tradisional mencapai USD65,89 miliar. Potensi tersebut menjadi pasar potensial bagi perusahaan guna memulai model bisnis logistik terintegrasi.
Tidak hanya itu, melalui kerjasama tersebut ini membuka peluang bagi anak usaha PT Arrow Chain Management Logistics (ACML) untuk dapat mengembangkan pergudangan dan transportasi distribusi rantai pasok dingin (Coldchain). Pengembangan ini membuat pihaknya dapat memiliki sumber pendapatan baru (secara konsolidasi) untuk mendukung kinerja keuangan.
Sekretaris Perusahaan DEAL Nur Hasanah menambahkan, penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan langkah awal masuk ke industri farmasi dan alat kesehatan. "Ini merupakan awal, yang mana saat ini kami lebih berfokus kepada penanganan kargo infrastruktur, pembangkit tenaga listrik dan pengiriman alat-alat berat," kata dia.
Baca Juga: Mengenal Cold Chain, Rantai Dingin Distribusi Vaksin
Dia menyebut, penjualan perusahaan pada kuartal III-2020 turun 26% secara tahunan (yoy) dengan DER 1,63X. Tahun 2021, emiten DEAL masih optimistis dapat kerek penjualan secara konsolidasi hingga 300% yoy. Adapun, belanja modal atawa capital expenditure (capex) di 2021 disiapkan sebesar Rp 100 miliar untuk pembangunan infrastruktur rantai pasok dingin, pusat logistik berikat dan logistik pertambangan (logistics mining). "Sumber pendanaan capex kami berasal dari penambahan utang kepada perbankan dan non perbankan serta dari kas perusahaan," pungkas dia.
Tidak hanya itu, melalui kerjasama tersebut ini membuka peluang bagi anak usaha PT Arrow Chain Management Logistics (ACML) untuk dapat mengembangkan pergudangan dan transportasi distribusi rantai pasok dingin (Coldchain). Pengembangan ini membuat pihaknya dapat memiliki sumber pendapatan baru (secara konsolidasi) untuk mendukung kinerja keuangan.
Sekretaris Perusahaan DEAL Nur Hasanah menambahkan, penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan langkah awal masuk ke industri farmasi dan alat kesehatan. "Ini merupakan awal, yang mana saat ini kami lebih berfokus kepada penanganan kargo infrastruktur, pembangkit tenaga listrik dan pengiriman alat-alat berat," kata dia.
Baca Juga: Mengenal Cold Chain, Rantai Dingin Distribusi Vaksin
Dia menyebut, penjualan perusahaan pada kuartal III-2020 turun 26% secara tahunan (yoy) dengan DER 1,63X. Tahun 2021, emiten DEAL masih optimistis dapat kerek penjualan secara konsolidasi hingga 300% yoy. Adapun, belanja modal atawa capital expenditure (capex) di 2021 disiapkan sebesar Rp 100 miliar untuk pembangunan infrastruktur rantai pasok dingin, pusat logistik berikat dan logistik pertambangan (logistics mining). "Sumber pendanaan capex kami berasal dari penambahan utang kepada perbankan dan non perbankan serta dari kas perusahaan," pungkas dia.
(nng)
Lihat Juga :