Jika IPO BUMN Jadi, Investor Bakal Datang Menyerbu
Jum'at, 05 Februari 2021 - 11:10 WIB
loading...
foto/ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan bahwa akan ada delapan hingga 12 perusahaan, baik itu anak ataupun cucu perusahaan BUMN , yang akan melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, Erick belum menjelaskan perusahaan-perusahaan mana saja yang akan IPO nantinya.
Melihat hal tersebut, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, rencana IPO perusahaan BUMN disebut akan dibanjiri peminat oleh investor Indonesia. Dia menyebut ada dua faktor yang mendorong tingginya minat para investor.
"Faktor pertama, memang saham-saham BUMN lebih dipercaya oleh publik, ini biasanya lebih diminati. Faktor kedua adalah BUMN lebih dikenal, biasanya perusahaan-perusahaannya lebih bisa dipercaya karena punya pemerintah," ujar Hans saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jumat (5/2/2021). ( Baca juga:Ini 8 Perusahaan Anak BUMN yang Ingin Melantai di Bursa Saham )
Hans menambahkan, tak dipungkiri terdapat beberapa perusahaan yang masuk ke bursa, namun ternyata bisnisnya tidak terlalu jelas sehingga mengalami kerugian dan itu memiliki risiko yang lebih tinggi.
Berbeda dengan BUMN, dia menyebut perusahaan pelat merah yang telah go public bisnisnya berpeluang memiliki sustainable atau berkelanjutan yang lebih tinggi, meskipun ada yang mengalami kerugian dan memiliki kinerja tidak bagus.
Melihat hal tersebut, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, rencana IPO perusahaan BUMN disebut akan dibanjiri peminat oleh investor Indonesia. Dia menyebut ada dua faktor yang mendorong tingginya minat para investor.
"Faktor pertama, memang saham-saham BUMN lebih dipercaya oleh publik, ini biasanya lebih diminati. Faktor kedua adalah BUMN lebih dikenal, biasanya perusahaan-perusahaannya lebih bisa dipercaya karena punya pemerintah," ujar Hans saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jumat (5/2/2021). ( Baca juga:Ini 8 Perusahaan Anak BUMN yang Ingin Melantai di Bursa Saham )
Hans menambahkan, tak dipungkiri terdapat beberapa perusahaan yang masuk ke bursa, namun ternyata bisnisnya tidak terlalu jelas sehingga mengalami kerugian dan itu memiliki risiko yang lebih tinggi.
Berbeda dengan BUMN, dia menyebut perusahaan pelat merah yang telah go public bisnisnya berpeluang memiliki sustainable atau berkelanjutan yang lebih tinggi, meskipun ada yang mengalami kerugian dan memiliki kinerja tidak bagus.
Lihat Juga :