Harapan Baru Industri Asuransi

Rabu, 10 Februari 2021 - 05:59 WIB
loading...
A A A
Khusus kasus Asabri dan Jiwasraya yang tersandung masalah karena diduga terlalu berani melakukan investasi pada portofolio berisiko tinggi. Ina juga melihat kedua perusahaan itu berinvestasi tanpa memperhatikan kehati-hatian.

"Fungsi pengawasan tidak berjalan padahal ada lampiran jelas Rencana Kegiatan Anggaran Tahunan setiap tahun sudah terbaca apa yang akan diajukan. Tapi itu bila proses manajemen di dalamnya bagus," kata dia.

Ina juga menyoroti tersangka kasus Jiwasraya dan Asabri yang nyatanya menyeret orang yang sama. Menurutnya, perlu pengusutan lebih lanjut untuk membuktikan aktor yang terlibat di dalamnya.

"Bukan hanya soal saham gorengan saja namun orang-orang yang sama mengapa bisa terlibat. Semoga bisa ditemukan kebenaran dan uang masyarakat mendapat kejelasan," ujarnya.

Sementara itu, menanggapi masalah gagal bayar pada asuransi Bumiputera, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengakui, pihaknya bekerja keras agar semua kasus nasabah yang dirugikan oleh asuransi dapat memiliki solusi. Salah satu masalah asuransi yang pelik, menurutnya, adalah AJB Bumiputera 1912 . Pasalnya, banyak pemilik polis tidak paham bentuk Bumiputera merupakan mutual atau usaha bersama.

"Khusus Bumiputera itu mutual, yaitu pemegang polis adalah pemilik perusahaan. Tapi masih banyak yang tidak mengerti. Mereka memiliki BPA yang dibentuk mewakili pemilik polis. Jadi mereka harus duduk bersama mencari solusi. OJK hanya sebatas mediator," ujar Wimboh dalam live streaming yang dilakukan Ikatan Alumni UNS, Sabtu (6/2) lalu.

Dia menegaskan, OJK akan selalu transparan dalam sektor keuangan Indonesia. Namun, kata dia, keunikan Bumiputera karena satu-satunya asuransi mutual di Indonesia, bahkan di seluruh dunia pun sudah tidak banyak jumlahnya. Saat ini memang banyak asuransi dalam proses penanganan.
"Kami akan minta pertanggungjawaban apa yang sudah dilakukan pengurus atau pemilik asuransi," tegasnya.
(ynt)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1395 seconds (11.252#12.26)