Strategi Hadapi Skenario Terburuk Dampak Covid-19 ke Ekonomi RI
Senin, 18 Mei 2020 - 16:33 WIB
loading...
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah mengkaji skema pemulihan ekonomi Indonesia dan mengantisipasi skenario terburuk perekonomian RI yang terdampak wabah Covid-19. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah mengkaji skema pemulihan ekonomi Indonesia dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19). Adapun pemulihan ekonomi bisa dilakukan jika suatu wilayah sudah dikategorikan zona hijau dari gugus tugas Covid-19.
Artian zona hijau yakni adanya penurunan angka positif corona dalam wilayah tersebut. "Jadi kalau zona hijau itu bisa dilakukan pemulihan ekonomi, tapi kalau merah masih belum bisa dilakukan," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani di Jakarta, Senin (18/5/2020).
(Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Kemiskinan Bisa meningkat 4,86 Juta orang )
Lebih lanjut Ia mengakui, bahwa pandemi virus corona (Covid-19) memberikan pukulan besar bagi sektor konsumsi dan juga produksi dari dunia usaha. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonom kuartal I-2020, di mana kedua sektor tersebut terkoreksi sangat tajam.
Adapun, dari sisi permintaan konsumsi termasuk lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) pertumbuhannya hanya berada di 2,7% pada kuartal I-2020. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,3% .
"Padahal sektor konsumsi kontribusi atau sharenya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 59,4%," katanya.
Menurutnya penyebaran covid di seluruh dunia menyebabkan kepanikan dan gejolak pada sektor keuangan yang menimbulkan dampak terhadap persepsi risiko dan turunnya confidence dari pelaku eknomi. "Termasuk fight to quality dari investor yang megang surat berharga baik saham dan SBN," jelasnya.
Artian zona hijau yakni adanya penurunan angka positif corona dalam wilayah tersebut. "Jadi kalau zona hijau itu bisa dilakukan pemulihan ekonomi, tapi kalau merah masih belum bisa dilakukan," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani di Jakarta, Senin (18/5/2020).
(Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Kemiskinan Bisa meningkat 4,86 Juta orang )
Lebih lanjut Ia mengakui, bahwa pandemi virus corona (Covid-19) memberikan pukulan besar bagi sektor konsumsi dan juga produksi dari dunia usaha. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonom kuartal I-2020, di mana kedua sektor tersebut terkoreksi sangat tajam.
Adapun, dari sisi permintaan konsumsi termasuk lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) pertumbuhannya hanya berada di 2,7% pada kuartal I-2020. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,3% .
"Padahal sektor konsumsi kontribusi atau sharenya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 59,4%," katanya.
Menurutnya penyebaran covid di seluruh dunia menyebabkan kepanikan dan gejolak pada sektor keuangan yang menimbulkan dampak terhadap persepsi risiko dan turunnya confidence dari pelaku eknomi. "Termasuk fight to quality dari investor yang megang surat berharga baik saham dan SBN," jelasnya.
Lihat Juga :