Butuh Duit USD167 Miliar Buat Bikin Pengembangan EBT Jalan Maju
Selasa, 09 Maret 2021 - 22:29 WIB
loading...
Dana yang dibutuhkan untuk kemajuan energi terbarukan memakan biaya sebesar USD167 miliar. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Perkembangan energi bersih terus dikejar untuk mencapai target yang diharapkan. Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Chrisnawan Anditya mengatakan, pemerintah terus melakukan evaluasi pada 2012 sampai 2019 yang hasilnya terdapat pertumbuhan Energi Baru Terbarukan (EBT) . Namun, percepatan EBT masih kurang meyakinkan.
“Ya antara realisasi dengan target belum bisa matching karena menurut RPNJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) di tahun 2015 sampai 2019 itu percepatan EBT-nya meningkat, namun antara energi terbarukan itu lebih kecil dibanding pembangkit tenaga batu bara,” jelasnya saat webinar Katadata yang bertajuk ‘Opportunities and Challenging’ pada Selasa (9/3/2020).
Baca Juga: Babak Baru SKK Migas ke Depan: Ngurus Energi Baru Terbarukan
Selain itu, tantangan yang dihadapi adalah investasi . Jika energi terbarukan ini ingin berkembang pesat di Indonesia, maka diperlukan incumbent utility atau utilitas milik investor. Ini dilakukan untuk memperkuat sistem jaringan transmisi dan distribusi. Dana yang dibutuhkan untuk kemajuan energi terbarukan memakan biaya sebesar USD167 miliar.
“Ini tidak saja tugas kementerian ESDM di Bappenas tapi tugas semua stakeholder, energi terbarukan. Tanpa integrasi harmonisasi hanya di sektor energi, industri transportasi, dan lain-lain, tanpa ada satu perencanaan yg terintegrasi, tidak bisa mempercepat pelaksanaan akselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan,” tandasnya.
“Ya antara realisasi dengan target belum bisa matching karena menurut RPNJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) di tahun 2015 sampai 2019 itu percepatan EBT-nya meningkat, namun antara energi terbarukan itu lebih kecil dibanding pembangkit tenaga batu bara,” jelasnya saat webinar Katadata yang bertajuk ‘Opportunities and Challenging’ pada Selasa (9/3/2020).
Baca Juga: Babak Baru SKK Migas ke Depan: Ngurus Energi Baru Terbarukan
Selain itu, tantangan yang dihadapi adalah investasi . Jika energi terbarukan ini ingin berkembang pesat di Indonesia, maka diperlukan incumbent utility atau utilitas milik investor. Ini dilakukan untuk memperkuat sistem jaringan transmisi dan distribusi. Dana yang dibutuhkan untuk kemajuan energi terbarukan memakan biaya sebesar USD167 miliar.
“Ini tidak saja tugas kementerian ESDM di Bappenas tapi tugas semua stakeholder, energi terbarukan. Tanpa integrasi harmonisasi hanya di sektor energi, industri transportasi, dan lain-lain, tanpa ada satu perencanaan yg terintegrasi, tidak bisa mempercepat pelaksanaan akselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan,” tandasnya.
Lihat Juga :