Defisit APBN Capai Rp1.028,5 Triliun, DPR Ingatkan Skandal BLBI dan Century
Selasa, 19 Mei 2020 - 17:23 WIB
loading...
A
A
A
"Namun tiba-tiba, Sri Mulyani mengubahnya lagi. Kali ini defisit membengkak hingga Rp1.028,5 triliun atau 6,27% dari PDB. Angka defisit cepat sekali berubahnya. Patut dicurigai apa yang mendasari peningkatan defisit tersebut. Angkanya pun fantastis," urainya.
Heri pun mengingatkan kasus BLBI dan bailout Bank Century yang angkanya juga cepat berubah-ubah. "Jangan sampai skenario ini membuka celah terulangnya kedua megaskandal tersebut. Sebab, di sisi lain, BI juga sudah disiapkan sebagai calon pembeli SBN pemerintah," tuturnya. Baca: Misbakhun Ingatkan Menkeu Tak Seenaknya Ubah Postur APBN
Dalam hal ini, menurut Heri, pemerintah perlu diingatkan. Sebab, pembobolan paling mudah dilakukan adalah saat terjadinya krisis. "Masih hangat di pikiran kita saat krisis 1997/1998 yang melahirkan megaskandal BLBI. Krisis 2008 melahirkan skandal Bank Century. Modusnya sama, mengubah-ubah angka," paparnya.
Dirinya heran negara dengan mudahnya mengubah proyeksi angka-angka. Kondisi ini, menurut Heri, bisa mengindikasikan dua hal. Pertama, Sri Mulyani makin tidak kompeten sebagai Menteri Keuangan. Kedua, ada kekuatan besar yang ingin mengeruk keuntungan dari keuangan negara di tengah kekacauan situasi saat ini.
"Tentu ini harus diwaspadai. Jangan sampai pandemi Covid-19 hanya dijadikan Kuda Troya untuk mewujudkan agenda-agenda terselubung kelompok tertentu. Kasihan rakyat. Sudah berapa uang negara yang berasal dari pajak dihabiskan di tengah pandemi ini," tuturnya.
Heri pun mengingatkan kasus BLBI dan bailout Bank Century yang angkanya juga cepat berubah-ubah. "Jangan sampai skenario ini membuka celah terulangnya kedua megaskandal tersebut. Sebab, di sisi lain, BI juga sudah disiapkan sebagai calon pembeli SBN pemerintah," tuturnya. Baca: Misbakhun Ingatkan Menkeu Tak Seenaknya Ubah Postur APBN
Dalam hal ini, menurut Heri, pemerintah perlu diingatkan. Sebab, pembobolan paling mudah dilakukan adalah saat terjadinya krisis. "Masih hangat di pikiran kita saat krisis 1997/1998 yang melahirkan megaskandal BLBI. Krisis 2008 melahirkan skandal Bank Century. Modusnya sama, mengubah-ubah angka," paparnya.
Dirinya heran negara dengan mudahnya mengubah proyeksi angka-angka. Kondisi ini, menurut Heri, bisa mengindikasikan dua hal. Pertama, Sri Mulyani makin tidak kompeten sebagai Menteri Keuangan. Kedua, ada kekuatan besar yang ingin mengeruk keuntungan dari keuangan negara di tengah kekacauan situasi saat ini.
"Tentu ini harus diwaspadai. Jangan sampai pandemi Covid-19 hanya dijadikan Kuda Troya untuk mewujudkan agenda-agenda terselubung kelompok tertentu. Kasihan rakyat. Sudah berapa uang negara yang berasal dari pajak dihabiskan di tengah pandemi ini," tuturnya.
(bon)
Lihat Juga :