Dibiayai IDB Rp820,5 miliar Pembangunan Untirta Gunakan Konstruksi SLL
Rabu, 17 Maret 2021 - 01:42 WIB
loading...
Konstruksi sarang laba-laba digunakan untuk pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Foto/Dok.
A
A
A
JAKARTA - Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di SIndangsari, Kabupaten Serang, Banten, yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo memanfaatkan penggunaan konstruksi sarang laba-laba (SLL).Pembangunan kampus baru ini terdiri dari 12 gedung yang sepenuhnya dibiayai dari pinjaman Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/ IDB) senilai USD56,9 juta (setara Rp820,5 miliar). Sebanyak 8 gedung menggunakan konstruksi sarang laba-laba.
"Penggunaan konstruksi sarang laba-laba karena selain merupakan karya anak bangsa juga karena konstruksi ini tahan gempa dan tentunya mempertimbangkan efisiensi mengingat gedung yang kami bangun hanya empat lantai," kata Ketua Tim Teknis dan PIC Civilwork Kampus Untirta Sindangsari, Rifky Ujianto, dalam keterangan tertulisnya Selasa (16/3/2021).
(Baca Juga : Sebelum Anies Lengser pada 2022, PAN Dorong Pelepasan Saham Bir )
Konstruksi sarang laba-laba merupakan inovasi yang patennya dipegang PT Katama. Sesuai namanya konstruksi ini merupakan pondasi yang dibentuk dari rangkaian sirip berbentuk segitiga terbuat dari kombinasi besi dan beton. Apabila dilihat dari atas menyerupai jaring laba-laba.Pondasi ini sudah banyak dimanfaatkan untuk bangunan-bangunan tahan gempa di Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu, bahkan juga dimanfaatkan untuk landasan glinding/ taxiway Bandara Juata Tarakan, Kalimantan Utara serta beberapa ruas jalan di tanah ekstrim.Rifky mengakui hadirnya konstruksi sarang laba-laba membantu dosen dan mahasiswa untuk mempelajari konstruksi terutama untuk mengetahui kemampuannya untuk menahan gempa.
Anggota Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) M. Arif Toto R mengatakan, penggunaan konstruksi laba-laba selain pertimbangan kekuatannya terhadap gempa juga karena lebih efisien khususnya bangunan empat lantai.Mengenai kekuatan konstruksi SLL, Toto mengatakan berdasarkan hasil lokakarya nasional dan rekomendasi Ditjen CIpta Karya Kementerian PUPR, konstruksi ini memiliki kemampuan memperkecil risiko terjadinya pergeseran tanah karena kekuatannya menggunakan daya dukung tanah yang dipadatkan.
"Penggunaan konstruksi sarang laba-laba karena selain merupakan karya anak bangsa juga karena konstruksi ini tahan gempa dan tentunya mempertimbangkan efisiensi mengingat gedung yang kami bangun hanya empat lantai," kata Ketua Tim Teknis dan PIC Civilwork Kampus Untirta Sindangsari, Rifky Ujianto, dalam keterangan tertulisnya Selasa (16/3/2021).
(Baca Juga : Sebelum Anies Lengser pada 2022, PAN Dorong Pelepasan Saham Bir )
Konstruksi sarang laba-laba merupakan inovasi yang patennya dipegang PT Katama. Sesuai namanya konstruksi ini merupakan pondasi yang dibentuk dari rangkaian sirip berbentuk segitiga terbuat dari kombinasi besi dan beton. Apabila dilihat dari atas menyerupai jaring laba-laba.Pondasi ini sudah banyak dimanfaatkan untuk bangunan-bangunan tahan gempa di Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu, bahkan juga dimanfaatkan untuk landasan glinding/ taxiway Bandara Juata Tarakan, Kalimantan Utara serta beberapa ruas jalan di tanah ekstrim.Rifky mengakui hadirnya konstruksi sarang laba-laba membantu dosen dan mahasiswa untuk mempelajari konstruksi terutama untuk mengetahui kemampuannya untuk menahan gempa.
Anggota Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) M. Arif Toto R mengatakan, penggunaan konstruksi laba-laba selain pertimbangan kekuatannya terhadap gempa juga karena lebih efisien khususnya bangunan empat lantai.Mengenai kekuatan konstruksi SLL, Toto mengatakan berdasarkan hasil lokakarya nasional dan rekomendasi Ditjen CIpta Karya Kementerian PUPR, konstruksi ini memiliki kemampuan memperkecil risiko terjadinya pergeseran tanah karena kekuatannya menggunakan daya dukung tanah yang dipadatkan.
Lihat Juga :