Perhatikan Produksi Dalam Negeri
Selasa, 23 Maret 2021 - 06:44 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan impor di saat paceklik dan harga tinggi merupakan salah satu cara membangun ketahanan pangan nasional. Namun tentunya kebijakan impor ini harus didampingi dengan regulasi yang ketat sehingga tidak dimanfaatkan oleh para pemburu rente. Namun dalam jangka panjang, pemerintah harus bisa membangun teknologi pertanian yang bisa mengurangi pengaruh variabel musim.
Komoditas cabai harus bisa ditanam kapan saja tanpa dipengaruhi oleh musim hujan atau kemarau. Contohnya adalah dengan menanam cabai menggunakan teknologi rumah kaca sehingga tidak dipengaruhi oleh musim hujan atau musim kemarau. “Dengan tekonologi tersebut maka pasokan di pasar akan stabil sehingga harga sembako juga akan stabil,” ungkapnya.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPP APDI) Asnawi mengatakan, hingga saat ini Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri dari hasil produksi dalam negeri. Akibatnya kekurangannya harus ditutupi dari produk impor.
Untuk impor daging, Indonesia mendapat pesaing dari negara-negara lain. Ketika ada banyak kompetitor untuk impor daging, barang yang diinginkan sama, dan kondisi produksi berkurang, maka secara otomatis harga daging impor ketika tiba dan dijual di Indonesia akan naik.
"Walaupun Indonesia negara besar, selama lebih tiga dasawarsa atau hampir empat dasawarsa Indonesia adalah daging dan sapi dari Australia. Nah kalau memang kita sudah bergantung pada satu negara, terjadinya kompetitor, kita masih impor, otomatis kan perubahan harga terjadi. Daging dari Australia kan ada kenaikan, kalau begitu ada dong dampaknya ke sapi-sapi lokal naik," ujar Asnawi kepada KORAN SINDO, kemarin.
Dia mengungkapkan, sapi timbang hidup yang diimpor dari Australia sebelum Juli 2020 harganya sebesar USD2,8 per kilogram dikalikan sekitar Rp14.000 sehingga setara sekitar Rp39.200. Ketika masuk Agustus hingga September 2020 harganya sebesar USD3,2 per kilogram dikalikan sekitar Rp14.000 sehingga setara Rp44.800.
Dia menggariskan, para pedagang daging sapi termasuk di pasar-pasar Indonesia tidak pernah berniat menaikkan harga apalagi menjelang Ramadan 2021. Menurut Asnawi, selama masa pandemi Covid-19 termasuk menjelang Ramadan kali ini para pedagang daging malah lebih banyak tidak balik modal.
Bahkan kata dia, sudah ada lima perusahaan importir daging yang gulung tikar alias bangkrut. Sejumlah pedagang daging sapi di pasar-pasar banyak yang tidak berdagang. r ratna purnama/sabir laluhu
Komoditas cabai harus bisa ditanam kapan saja tanpa dipengaruhi oleh musim hujan atau kemarau. Contohnya adalah dengan menanam cabai menggunakan teknologi rumah kaca sehingga tidak dipengaruhi oleh musim hujan atau musim kemarau. “Dengan tekonologi tersebut maka pasokan di pasar akan stabil sehingga harga sembako juga akan stabil,” ungkapnya.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPP APDI) Asnawi mengatakan, hingga saat ini Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri dari hasil produksi dalam negeri. Akibatnya kekurangannya harus ditutupi dari produk impor.
Untuk impor daging, Indonesia mendapat pesaing dari negara-negara lain. Ketika ada banyak kompetitor untuk impor daging, barang yang diinginkan sama, dan kondisi produksi berkurang, maka secara otomatis harga daging impor ketika tiba dan dijual di Indonesia akan naik.
"Walaupun Indonesia negara besar, selama lebih tiga dasawarsa atau hampir empat dasawarsa Indonesia adalah daging dan sapi dari Australia. Nah kalau memang kita sudah bergantung pada satu negara, terjadinya kompetitor, kita masih impor, otomatis kan perubahan harga terjadi. Daging dari Australia kan ada kenaikan, kalau begitu ada dong dampaknya ke sapi-sapi lokal naik," ujar Asnawi kepada KORAN SINDO, kemarin.
Dia mengungkapkan, sapi timbang hidup yang diimpor dari Australia sebelum Juli 2020 harganya sebesar USD2,8 per kilogram dikalikan sekitar Rp14.000 sehingga setara sekitar Rp39.200. Ketika masuk Agustus hingga September 2020 harganya sebesar USD3,2 per kilogram dikalikan sekitar Rp14.000 sehingga setara Rp44.800.
Dia menggariskan, para pedagang daging sapi termasuk di pasar-pasar Indonesia tidak pernah berniat menaikkan harga apalagi menjelang Ramadan 2021. Menurut Asnawi, selama masa pandemi Covid-19 termasuk menjelang Ramadan kali ini para pedagang daging malah lebih banyak tidak balik modal.
Bahkan kata dia, sudah ada lima perusahaan importir daging yang gulung tikar alias bangkrut. Sejumlah pedagang daging sapi di pasar-pasar banyak yang tidak berdagang. r ratna purnama/sabir laluhu
(bai)
Lihat Juga :