Kunjungi Pabrik Mangkrak, Bahlil: Jangan A Sampai Z Dikelola Perusahaan
Kamis, 01 April 2021 - 14:16 WIB
loading...
Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pihaknya akan memfasilitasi investasi mangkrak yang terjadi di PT Bintang Smelter Indonesia (BSI) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Sejak didirikan tahun 2013 lalu, PT BSI merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA) pada sektor industri logam dasar mulia dan logam dasar bukan besi lainnya dengan realisasi investasi sebesar USD 23 juta. Selama dua tahun terakhir ini, PT BSI berhenti berproduksi karena menghadapi kendala terkait inefisiensi produksi. ( Baca juga: Bahlil Tegaskan Investor Harus Kolaborasi dengan UMKM di Daerah )
Selama ini perusahaan menggunakan kokas batu bara sebagai bahan bakar produksi. Ke depan agar lebih efisien, PT BSI akan mengubah teknologi dari blast furnace menjadi rotary klin-electric furnace (RKEF) dengan rencana investasi USD110 juta.
Dalam kunjungannya kecperusahaan itu, Bahlil menyampaikan bahwa dengan perubahan teknologi menggunakan RKEF tersebut, maka perusahaan akan lebih efisien dalam produksinya. Investasi yang dijalankan PT BSI dapat diadopsi oleh para investor lokal dengan investasi tidak terlalu besar serta penggunaan teknologi yang tidak terlalu rumit.
“Nah sekarang kan banyak anak-anak Sultra atau kita yang ada di Indonesia ini enggak ingin membangun smelter. Ini prospek soalnya. Bisa kita mengadopsi yang kayak gini. Saya lihat kokas ya masalahnya. Kokas diubah ke listrik. Jadi masalah besarnya di situ saja. Ketika terjadi perpindahan, efisiensi pasti akan terjadi,” ucap Bahlil dalam keterangannya, Kamis (1/4/2021).
Kendala lain yang dihadapi oleh PT BSI adalah rencana pembangunan kawasan industri (KI) seluas 1.400 Ha melalui afiliasinya, PT. Tinanggea Kawasan Industri. Saat ini kawasan tersebut tidak termasuk dalam peruntukan industri.
“Tinggal tata ruangnya yang ada sedikit masalah. Tapi kita minta sama mereka, kalau sudah jadi PT BSI harus menggandeng pengusaha lokal. Kalau tidak, mungkin bupati akan berpikir dua kali untuk rencana tata ruang wilayah (RTRW) diubah,” ucap Bahlil.
Sejak didirikan tahun 2013 lalu, PT BSI merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA) pada sektor industri logam dasar mulia dan logam dasar bukan besi lainnya dengan realisasi investasi sebesar USD 23 juta. Selama dua tahun terakhir ini, PT BSI berhenti berproduksi karena menghadapi kendala terkait inefisiensi produksi. ( Baca juga: Bahlil Tegaskan Investor Harus Kolaborasi dengan UMKM di Daerah )
Selama ini perusahaan menggunakan kokas batu bara sebagai bahan bakar produksi. Ke depan agar lebih efisien, PT BSI akan mengubah teknologi dari blast furnace menjadi rotary klin-electric furnace (RKEF) dengan rencana investasi USD110 juta.
Dalam kunjungannya kecperusahaan itu, Bahlil menyampaikan bahwa dengan perubahan teknologi menggunakan RKEF tersebut, maka perusahaan akan lebih efisien dalam produksinya. Investasi yang dijalankan PT BSI dapat diadopsi oleh para investor lokal dengan investasi tidak terlalu besar serta penggunaan teknologi yang tidak terlalu rumit.
“Nah sekarang kan banyak anak-anak Sultra atau kita yang ada di Indonesia ini enggak ingin membangun smelter. Ini prospek soalnya. Bisa kita mengadopsi yang kayak gini. Saya lihat kokas ya masalahnya. Kokas diubah ke listrik. Jadi masalah besarnya di situ saja. Ketika terjadi perpindahan, efisiensi pasti akan terjadi,” ucap Bahlil dalam keterangannya, Kamis (1/4/2021).
Kendala lain yang dihadapi oleh PT BSI adalah rencana pembangunan kawasan industri (KI) seluas 1.400 Ha melalui afiliasinya, PT. Tinanggea Kawasan Industri. Saat ini kawasan tersebut tidak termasuk dalam peruntukan industri.
“Tinggal tata ruangnya yang ada sedikit masalah. Tapi kita minta sama mereka, kalau sudah jadi PT BSI harus menggandeng pengusaha lokal. Kalau tidak, mungkin bupati akan berpikir dua kali untuk rencana tata ruang wilayah (RTRW) diubah,” ucap Bahlil.
Lihat Juga :