UMKM Masih Tersandera Masalah Klasik, Rendahnya Produktivitas dan Daya Saing
Jum'at, 02 April 2021 - 23:55 WIB
loading...
Menkop UKM Teten Masduki di Kampus Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Jatinangor, Bandung, Jumat (2/4/2021). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengakui, rendahnya produktivitas dan daya saing masih menjadi problem klasik yang mengganjal perkembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Tanah Air.
Salah satu penyebabnya, para pelaku UMKM yang didominasi usaha mikro, masih melakukan kegiatan usahanya secara perorangan. Bahkan, dengan jumlah yang mendominasi sektor usaha nasional, kontribusi UMKM terhadap PDB hanya 60%. Baca Juga: Pelaku UMKM Sangat Membutuhkan Komunitas Usaha yang Sehat
"Untuk itu, koperasi bisa menjadi model bisnis di Indonesia dengan berbasis UMKM," tandas Teten, pada sacara sarasehan Membangun Ekosistem Perkoperasian Nasional Dalam upaya Pemulihan Ekonomi, di Kampus Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Jatinangor, Bandung, Jumat (2/4/2021).
Dalam rangkaian acara Dies Natalis Ikopin ke-39 tersebut, dia mencontohkan sektor pangan (kedelai, beras, jagung, dan sebagainya) yang masih impor. "Produktivitas petani kita rendah karena usaha perorangan tidak bisa masuk skala ekonomi," jelas Teten.
Menurut Teten, mayoritas petani kita memiliki lahan yang sempit, sehingga tercipta keterbatasan dalam hal kualitas dan suplai produk. "Lagi-lagi, dalam kondisi seperti itu, koperasi bisa mengonsolidasi petani-petani berlahan sempit tersebut," kata dia.
Salah satu penyebabnya, para pelaku UMKM yang didominasi usaha mikro, masih melakukan kegiatan usahanya secara perorangan. Bahkan, dengan jumlah yang mendominasi sektor usaha nasional, kontribusi UMKM terhadap PDB hanya 60%. Baca Juga: Pelaku UMKM Sangat Membutuhkan Komunitas Usaha yang Sehat
"Untuk itu, koperasi bisa menjadi model bisnis di Indonesia dengan berbasis UMKM," tandas Teten, pada sacara sarasehan Membangun Ekosistem Perkoperasian Nasional Dalam upaya Pemulihan Ekonomi, di Kampus Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Jatinangor, Bandung, Jumat (2/4/2021).
Dalam rangkaian acara Dies Natalis Ikopin ke-39 tersebut, dia mencontohkan sektor pangan (kedelai, beras, jagung, dan sebagainya) yang masih impor. "Produktivitas petani kita rendah karena usaha perorangan tidak bisa masuk skala ekonomi," jelas Teten.
Menurut Teten, mayoritas petani kita memiliki lahan yang sempit, sehingga tercipta keterbatasan dalam hal kualitas dan suplai produk. "Lagi-lagi, dalam kondisi seperti itu, koperasi bisa mengonsolidasi petani-petani berlahan sempit tersebut," kata dia.
Lihat Juga :