Gara-Gara Usaha Besar Melemah, Penyaluran Kredit pun Meletot
Jum'at, 09 April 2021 - 16:28 WIB
loading...
Foto/ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebut bahwa pertumbuhan kredit saat ini masih minus di angka 2%. Kondisi itu diakibatkan lemahnya pertumbuhan kredit usaha besar sehingga menyebabkan pertumbuhan minus.
Wimboh mengatakan, selama demand belum tumbuh maka akan sulit untuk kredit besar dapat meningkat di masa pandemi Covid-19. (Baca juga: OJK Dukung IIA Perkuat Tata Kelola Risiko dan Kontrol di Industri Jasa Keuangan )
"Bagaimana hotel akan kita berikan kredit kalau pengunjung belum ada? Bagaimana transportasi akan suruh ngambil modal tambahan kalau gak ada penumpangnya? Bagaimana restoran suruh ambil kredit lagi kalau pengunjungnya belum banyak," ujar Wimboh dalam acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional Temu Stakeholders di Bali, Jumat (9/4/2021).
Namun, Wimboh menyebut saat ini leading indicator telah menunjukkan adanya tanda-tanda pertumbuhan, sehingga seluruh pihak harus bersiap agar semua sektor tumbuh cepat terutama di sektor pariwisata, seperti perhotelan, kafe, dan restoran.
"Ini ada 7.000 pengunjung ke Denpasar, sehingga hotel-hotel harus siap-siap menyiapkan utilitynya. Jadi barangkali ini silakan untuk mulai berkomunikasi dengan bank dan bank untuk mendata nasabah terutama pariwisata, apa yang bisa dibantu dalam persiapan bangkit kembali," kata dia.
"Dan semua kita harapkan orkestra ini jangan sampai miss karena kalau nanti pengunjung sudah banyak, tapi belum siap akan sangat bahaya," sambungnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wimboh juga berterima kasih kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani karena dalam penjaminan ada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) baru yang memungkinkan pemerintah ikut memberi penjaminan bagi kredit yang disalurkan kepada korporasi mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 32/PMK.08/2021 yang merevisi PMK 98/2020. ( Baca juga: Anies Pamer Desain Rumah Panggung Kampung Melayu, Warganet: Solutif Banget )
"Terima kasih Bu Menteri Keuangan dalam penjaminan ada PMK baru, isu teknikal udah ditekel, termasuk jumlah kriteria perusahaan yang jumlah pegawainya udah diturunkan dan ini sektor pariwisata perhotelan dan restoran jadi sangat prioritas, terutama di Denpasar," tandas Wimboh.
Wimboh mengatakan, selama demand belum tumbuh maka akan sulit untuk kredit besar dapat meningkat di masa pandemi Covid-19. (Baca juga: OJK Dukung IIA Perkuat Tata Kelola Risiko dan Kontrol di Industri Jasa Keuangan )
"Bagaimana hotel akan kita berikan kredit kalau pengunjung belum ada? Bagaimana transportasi akan suruh ngambil modal tambahan kalau gak ada penumpangnya? Bagaimana restoran suruh ambil kredit lagi kalau pengunjungnya belum banyak," ujar Wimboh dalam acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional Temu Stakeholders di Bali, Jumat (9/4/2021).
Namun, Wimboh menyebut saat ini leading indicator telah menunjukkan adanya tanda-tanda pertumbuhan, sehingga seluruh pihak harus bersiap agar semua sektor tumbuh cepat terutama di sektor pariwisata, seperti perhotelan, kafe, dan restoran.
"Ini ada 7.000 pengunjung ke Denpasar, sehingga hotel-hotel harus siap-siap menyiapkan utilitynya. Jadi barangkali ini silakan untuk mulai berkomunikasi dengan bank dan bank untuk mendata nasabah terutama pariwisata, apa yang bisa dibantu dalam persiapan bangkit kembali," kata dia.
"Dan semua kita harapkan orkestra ini jangan sampai miss karena kalau nanti pengunjung sudah banyak, tapi belum siap akan sangat bahaya," sambungnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wimboh juga berterima kasih kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani karena dalam penjaminan ada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) baru yang memungkinkan pemerintah ikut memberi penjaminan bagi kredit yang disalurkan kepada korporasi mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 32/PMK.08/2021 yang merevisi PMK 98/2020. ( Baca juga: Anies Pamer Desain Rumah Panggung Kampung Melayu, Warganet: Solutif Banget )
"Terima kasih Bu Menteri Keuangan dalam penjaminan ada PMK baru, isu teknikal udah ditekel, termasuk jumlah kriteria perusahaan yang jumlah pegawainya udah diturunkan dan ini sektor pariwisata perhotelan dan restoran jadi sangat prioritas, terutama di Denpasar," tandas Wimboh.
(uka)
Lihat Juga :