KKP Berantas Aksi Ilegal Kelautan Sampai Titik Darah Penghabisan
Jum'at, 23 April 2021 - 22:07 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pencurian dan penyelundupan ikan masih menjadi tantangan yang dihadapi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam menjaga sumber daya perairan Indonesia. Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan KKP Drama Panca Putra mengakui, sepanjang tahun lalu tindak pencurian ikan di perairan Indonesia sempat meningkat.
Baca juga:Mudik 2021 Dilarang, Indonesia Tidak Ingin Bernasib Sama seperti India
“Untuk kapal ikan asing memang awal-awal Indonesia terkena Covid-19 tahun lalu meningkat pencuriannya. Terbaca lewat radar kita. Sehingga hasil tangkapan KKP, Maret sampai Juni 2020 banyak sekali, terutama di wilayah 711 atau laut Natuna utara,” kata Drama dalam diskusi virtual MNC Trijaya FM dengan topik "Potensi dan Ancaman Sektor Perikanan di Indonesia", Jumat (23/4/2021).
Tapi saat ini angka pencurian mulai menurun, berkat kerja sama pengawasan multi instansi. “Alhamdulilah mulai berkurang karena kerja sama KKP, dengan Bea Cukai, Polair, Bakamla dan TNI Angkatan Laut, kita kompak. Ada juga pencurian yang kita gagalkan atas laporan masyarakat,” ujar Drama.
Selain pencurian, aksi penyelundupan juga jadi pekerjaan rumah bagi KKP. “Paling banyak (penyelundupan) kita temukan melalui perbatasan RI-Singapura. Jambi, Batam, dan sekitarnya itu jadi daerah operasional mereka. Yang diselundupkan kebanyakan ikan Dori dan benih lobster. Dilihat dari jenis komoditasnya, kita duga penyelundupan berasal dari Singapura dan Vietnam,” jelas Drama.
KKP mengakui penyelundupan masih terjadi karena ada permintaan, terutama dari industri yang membutuhkan bahan baku dengan modal rendah. Tapi masalahnya, banyak ikan selundupan yang dijual untuk industri, akhirnya bocor ke pasar tradisional.
“Dampaknya menjadi tidak fair terhadap pelaku perikanan dalam negeri. Karena harga bahan selundupan yang masuk lebih murah, akhirnya pelaku usaha yang tertib jadi dirugikan. Iklim ini yang harus benar-benar kita jaga,” tegasnya.
Baca juga:Mudik 2021 Dilarang, Indonesia Tidak Ingin Bernasib Sama seperti India
“Untuk kapal ikan asing memang awal-awal Indonesia terkena Covid-19 tahun lalu meningkat pencuriannya. Terbaca lewat radar kita. Sehingga hasil tangkapan KKP, Maret sampai Juni 2020 banyak sekali, terutama di wilayah 711 atau laut Natuna utara,” kata Drama dalam diskusi virtual MNC Trijaya FM dengan topik "Potensi dan Ancaman Sektor Perikanan di Indonesia", Jumat (23/4/2021).
Tapi saat ini angka pencurian mulai menurun, berkat kerja sama pengawasan multi instansi. “Alhamdulilah mulai berkurang karena kerja sama KKP, dengan Bea Cukai, Polair, Bakamla dan TNI Angkatan Laut, kita kompak. Ada juga pencurian yang kita gagalkan atas laporan masyarakat,” ujar Drama.
Selain pencurian, aksi penyelundupan juga jadi pekerjaan rumah bagi KKP. “Paling banyak (penyelundupan) kita temukan melalui perbatasan RI-Singapura. Jambi, Batam, dan sekitarnya itu jadi daerah operasional mereka. Yang diselundupkan kebanyakan ikan Dori dan benih lobster. Dilihat dari jenis komoditasnya, kita duga penyelundupan berasal dari Singapura dan Vietnam,” jelas Drama.
KKP mengakui penyelundupan masih terjadi karena ada permintaan, terutama dari industri yang membutuhkan bahan baku dengan modal rendah. Tapi masalahnya, banyak ikan selundupan yang dijual untuk industri, akhirnya bocor ke pasar tradisional.
“Dampaknya menjadi tidak fair terhadap pelaku perikanan dalam negeri. Karena harga bahan selundupan yang masuk lebih murah, akhirnya pelaku usaha yang tertib jadi dirugikan. Iklim ini yang harus benar-benar kita jaga,” tegasnya.
Lihat Juga :