Ekonomi Asia Positif, Harga Batu Bara Dipatok USD89,74 per Ton
Selasa, 04 Mei 2021 - 09:07 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) sebesar USD89,74 per ton pada perdagangan sepanjang bulan Mei 2021. Besaran ini meningkat USD3,06 per ton dari bulan April sebelumnya, yakni USD86,68 per ton.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di Asia menjadi faktor utama atas kenaikan HBA di bulan Mei.
"Ekonomi Asia mulai membaik pada kuartal I tahun 2021. Perubahan pergerakan ini masih didominasi dari (ekonomi) China," kata Agung dalam keterangan tertulis, Selasa (4/5/2021).
Baca juga: Revenue Indonesia dari eSport Tembus Rp25,1 Triliun, Naik 32,7% Setiap Tahun!
Agung menambahkan, permintaan konsumsi batu bara China sepanjang periode tersebut mengalami lonjakan pesat. Hal ini tak sebanding dengan hasil produksi domestik yang terus menipis. "Permintaan batu bara banyak datang guna memenuhi kebutuhan pembangkit China," jelasnya.
Dia melanjutkan, tingginya kebutuhan batu bara China turut memengaruhi kebijakan impor negara tersebut. Pasalnya, China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun 2021 ini naik 7-8% dibanding tahun 2020. Selanjutnya pemerintah China pun melakukan relaksasi impor sehingga turut mengerek harga batu bara global.
Berdasarkan data Refinitiv, sepanjang minggu lalu harga kontrak batu bara ICE Newcastle naik lebih dari 6%. Di akhir perdagangan pekan lalu, bahkan harga batu bara thermal acuan semakin mendekati USD92 per ton.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di Asia menjadi faktor utama atas kenaikan HBA di bulan Mei.
"Ekonomi Asia mulai membaik pada kuartal I tahun 2021. Perubahan pergerakan ini masih didominasi dari (ekonomi) China," kata Agung dalam keterangan tertulis, Selasa (4/5/2021).
Baca juga: Revenue Indonesia dari eSport Tembus Rp25,1 Triliun, Naik 32,7% Setiap Tahun!
Agung menambahkan, permintaan konsumsi batu bara China sepanjang periode tersebut mengalami lonjakan pesat. Hal ini tak sebanding dengan hasil produksi domestik yang terus menipis. "Permintaan batu bara banyak datang guna memenuhi kebutuhan pembangkit China," jelasnya.
Dia melanjutkan, tingginya kebutuhan batu bara China turut memengaruhi kebijakan impor negara tersebut. Pasalnya, China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun 2021 ini naik 7-8% dibanding tahun 2020. Selanjutnya pemerintah China pun melakukan relaksasi impor sehingga turut mengerek harga batu bara global.
Berdasarkan data Refinitiv, sepanjang minggu lalu harga kontrak batu bara ICE Newcastle naik lebih dari 6%. Di akhir perdagangan pekan lalu, bahkan harga batu bara thermal acuan semakin mendekati USD92 per ton.
Lihat Juga :