Ustad Yusuf Mansur Kritik Bank Syariah Mahal, Ini Respons KNEKS

Jum'at, 21 Mei 2021 - 10:38 WIB
loading...
Ustad Yusuf Mansur Kritik...
Disebut mahal, tingkat margin pembiayaan bank syariah saat ini diklaim sudah jauh membaik. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) merespons pandangan mahalnya pembiayaan dari perbankan syariah . Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat menegaskan, tingkat margin pembiayaan bank syariah saat ini sudah jauh membaik.

Bahkan, tegas dia, bank syariah besar seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) sudah mampu bersaing dengan bank konvensional dalam hal tingkat margin pembiayaan.

"Perlu dilihat lagi. Tingkat margin perbankan syariah saat ini sudah kompetitif, terutama di bank besar," katanya di Jakarta, Jumat (21/5/2021).

Baca Juga: MUI Optimistis Perbankan Syariah RI Bakal Maju Pesat

Terkait masih adanya pembiayaan di bank syariah yang mahal, Emir mengatakan bahwa hal ini bukan karena aspek syariahnya, melainkan lebih kepada aspek ekonominya seperti ukuran bank syariahnya. Kemudian, terkait struktur dana pihak ketiga di bank syariah tersebut yang mungkin masih banyak berasal dari dana-dana mahal.

Kritik akan mahalnya pembiayaan dari perbankan syariah belum lama ini dilontarkan Ustad Yusuf Mansur yang juga investor saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Menurutnya, relatif mahalnya pembiayaan bank syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional menyebabkan pembiayaan oleh perbankan syariah sulit diakses oleh masyarakat luas. Padahal, bank syariah seharusnya justru menyentuh lapisan masyarakat bawah.

"Ini baru permulaan, saya mau buka mahalnya pembiayaan dibandingkan konvensional, biar masyarakat melek," katanya lewat akun Instagram, @yusufmansurnew.

Terkait komentar tersebut, Emir tak mau menanggapinya secara langsung. Namun, di luar itu dia menilai masih banyak ulama yang menganjurkan untuk mendukung perbankan syariah.

"Bagaimana pun bank adalah entitas yang sangat penting dalam perekonomian namun yang kurang sesuai dari bank konvensional adalah mode operasinya yang mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh syariah. Oleh karena itu, yang perlu diubah adalah mode operasi banknya. Itulah alasan kenapa muncul bank syariah di dunia," sebutnya.

Emir juga menilai kata mahal merupakan deskripsi yang sempit dalam menilai kinerja bank syariah. Dia berdalih masyarakat memilih bank syariah adalah untuk menghindari riba dan unsur-unsur lain yang dilarang syariah.

"Itu bagian dari syariat Islam. Pilihan kita mesti sesuatu yang baik menurut kacamata Allah SWT. Itu yang harusnya menjadi perhatian utama dalam memilih bank syariah," kata Emir.

Baca Juga: Tolong Palestina, Politisi Pakistan Desak Negaranya Membom Atom Israel

Kendati demikian, Emir tak menampik beberapa bank syariah kecil masih berupaya untuk menurunkan margin pembiayaannya dengan meningkatkan rasio dana murah terutama dana giro dan dana tabungan. Bank-bank syariah tersebut, menurut Emir, terus mengajak banyak masyarakat yang belum terlayani untuk ikut menabung di bank syariah. Diharapkan dengan semakin banyaknya masyarakat yang menabung di bank syariah, maka bank syariah tersebut bisa mencapai economic of scale sehingga dapat memberikan pembiayaan dengan harga yang kompetitif.

"Nah dalam hal ini jugalah, peran masyarakat yang harus mendukung bank syariah dengan menabung di bank syariah. Bahkan, Kementerian BUMN sudah memfasilitasi pilihan karyawan BUMN untuk mendapatkan gaji melalui bank syariah," katanya.

Dia mengaku sangat menyayangkan saat ini masih banyak masyarakat yang belum memahami sistem perbankan syariah. Artinya literasi tentang perbankan syariah masih menjadi pekerjaan rumah bersama. "Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa perbankan syariah menggunakan bunga," tutupnya.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Cicil Emas BSI Makin...
Cicil Emas BSI Makin Diminati, Meningkat Lebih dari 97,90% Setahun
BRI Gandeng Syailendra...
BRI Gandeng Syailendra Capital Hadirkan Investasi Syariah melalui Super App BRImo
BTN Resmi Lepas UUS...
BTN Resmi Lepas UUS Jadi Bank Syariah Nasional, Bagaimana Nasib Karyawannya?
Dapat Duit Rp10 Triliun...
Dapat Duit Rp10 Triliun dari Purbaya, Dirut BSI: Sebentar Lagi Juga Habis
Gelar Rakernas 2025,...
Gelar Rakernas 2025, Perbarindo Siap Bersinergi Menyalurkan Dana Rp200 Triliun
Spin Off BTN Syariah...
Spin Off BTN Syariah Tertahan, Pengamat Ungkap Penyebab Utamanya
Melalui Syariah untuk...
Melalui Syariah untuk Semua, Permata Bank Hadirkan Layanan Inklusif
Kolaborasi Perdana BSN...
Kolaborasi Perdana BSN dan Al Bahjah Peduli Gelar Khitanan Massal
Pastikan Dana Haji Aman,...
Pastikan Dana Haji Aman, Kepala BPKH: Kami Utamakan Transparansi dan Prinsip Syariah
Rekomendasi
Beri Semangat Anak Pejuang...
Beri Semangat Anak Pejuang Leukemia, Polres Jakpus Wujudkan Harapan Deni Jadi Polisi Cilik
Kendaraan Listrik Siap...
Kendaraan Listrik Siap Menjadi Sumber Energi Baru bagi Amerika Serikat
GTV Targetkan Ribuan...
GTV Targetkan Ribuan Peserta Liga Bintang Juara, Siapkan Babak Nasional di Jakarta
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved