Diterpa Banyak Isu Miring, Saham Grup Bakrie Betah di Klub Gocap

Jum'at, 28 Mei 2021 - 13:49 WIB
loading...
Diterpa Banyak Isu Miring,...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Perusahaan di bawah Grup Bakrie terus dibayangi sentimen negatif. Hampir seluruh saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie harganya berada pada level Rp50 per saham alias saham gocapan lantaran tidak likuid dan kinerjanya kurang bagus. Kinerja perusahaan dan pasar saham yang kurang baik tersebut akibat diterpa sejumlah isu miring terkait dari utang jumbo, pengelolaan perusahaan yang mengedepankan gali lobang tutup lobang, hingga dugaan keterlibatan dalam kasus Jiwasraya.

Tidak hanya itu, lasus Lapindo pun tak kunjung tuntas. Bahkan, seringkali proyeknya mangkrak sehingga terlilit utang seperti kasus tagihan utang Rp75 miliar dari KFC ke anak usaha Grup Bakrie bidang properti. Anak usaha lain yakni Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan utang hingga triwulan III 2020 senilai Rp 10,18 triliun, yang merupakan utang jangka pendek. Dengan banyaknya sentimen negatif, banyak kalangan meminta publik harus berhati hati dalam mengambil keputusan terkait bisnis Grup Bakrie. "Dari dulu sudah banyak pengalaman buruk terkait Grup Bakrie ini. Jadi harus hati-hati," Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara, Jumat (18/5/2021).

Baca Juga: Mau Daftar Vaksin Gotong Royong? Cek Rincian Harganya

Meskipun Grup Bakrie mengklaim akan mampu membayarkan utang dan memperbaiki kinerja seiring dengan peluang kenaikan penguatan harga batu bara, tetapi publik tetap harus hati-hati karena perusahaan ini memiliki masalah. Karena, kata Marwan, sentimen negatif selalu membayangi Bakrie Group mulai utang yang menggunung dan kasus Lapindo yang saat ini masih menjadi preseden buruk. Termasuk, kata Marwan juga kasus kasus yang merugikan nasabah, saham pun sering digadaikan. "Nah publik harus berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait bisnis Grup Bakrie," beber dia.

Kata Marwan penggunan batu bara kotor yang juga banyak diproduksi anak usaha Bakrie sudah dibatasi oleh seluruh negara. Sehingga, jangan terbuai dengan iming-imingan return yang diberikan. Sementara itu, Direktur Energy Watch Mamit Setiawan menilai, masyarakat perlu berhati-hati dengan kondisi yang terjadi di tubuh Group Bakrie, yang saat ini memiliki utang yang cukup signigikan. "Dan kita tahu, banyak usaha dari Group Bakrie yang memang banyak masalah," beber dia.

Group Bakrie, kata dia, juga memiliki utang kepada pihak-pihak lain, sehingga bila ada pihak yang ingin melakukan investasi perlu menerapkan kehati-hatian. Masih ingat betul, katanya, seperti kasus Lapindo, karena sulit ketika pemerintah menjadikan ini bencana nasional dan pemerintah yang harus membayar ganti rugi. "Bakrie justru punya komitmen terhadap pemerintah yang belum diselesaikan semuanya," tegasnya.

Beban utang denominasi dolar di Grup Bakrie bisa membahayakan, jika terjadi fluktuasi mata uang. Jika kondisi pasar makin tak stabil utang bisa makin menggunung. Apalagi emiten-emiten sekarang ini lebih memilih rupiah demi menghindari fluktuasi. Sementara analis pasar modal Lucky Bayu menilai perusahaan Bakrie Group harus segera melakukan restrukturisasi internal terlebih dahulu untuk melakukan optimalisasi asset yang di nilai masih memiliki peluang produktifitas. "Melakukan merger, (penggabungan usaha dengan pihak/partner strategis, agar memungkingkan untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan di masa yang akan datang," jelas dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar RUPS Luar Biasa,...
Gelar RUPS Luar Biasa, Brigit Biofarmaka Teknologi Bahas Penyesuaian Klasifikasi Usaha
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
Dibuka Menguat 0,33%,...
Dibuka Menguat 0,33%, IHSG Berbalik Melemah di Menit Pertama
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
Perusahaan yang Sahamnya...
Perusahaan yang Sahamnya Dimiliki Kaesang Kesandung Kredit Macet, Utang Bank Tembus Rp2,8 Triliun
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Depresiasi Rupiah di...
Depresiasi Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham
Lampu Kuning Investor...
Lampu Kuning Investor Pasar Modal
5 Hari Turun Tajam,...
5 Hari Turun Tajam, IHSG Berpeluang Rebound di Akhir Pekan Ini
Rekomendasi
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Tegaskan Pelimpahan...
Tegaskan Pelimpahan Kasus Febrie Adriansyah dari Polri Sah, Jamwas Kejagung: Pernah Dilakukan di Perkara Asabri
Dilantik Jadi Jampidsus,...
Dilantik Jadi Jampidsus, Kuntadi Janji Tuntaskan Kasus Besar hingga Evaluasi Perkara
Berita Terkini
IHSG Ditutup Anjlok...
IHSG Ditutup Anjlok 1,88% ke 6.196, Hampir Seluruh Sektor Merana
BRI dan Kembara Nusa...
BRI dan Kembara Nusa Sinergi Perluas Layanan Kesehatan Gigi di Wilayah 3T
Cegah Penyelundupan,...
Cegah Penyelundupan, Barantin dan Bea Cukai Siapkan Pengawasan Bersama
Kendalikan Konsumsi...
Kendalikan Konsumsi BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mendidih, Purbaya Sebut Kuota Tetap
60 Negara Kena Getok...
60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Beli Rumah Bukan Lagi...
Beli Rumah Bukan Lagi Mimpi! BRI x REI Expo Semarang 2026 Hadirkan KPR Super Ringan
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved