alexametrics

Perketat Klaster Bisnis, Erick Ingin Basmi "Raja-raja Kecil" di Perusahaan BUMN

loading...
Perketat Klaster Bisnis, Erick Ingin Basmi Raja-raja Kecil di Perusahaan BUMN
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan perombakan pimpinan di perusahaan BUMN bukan hanya sekadar menempatkan orang. Ia menekankan perombakan tersebut demi menjaga strategis perusahaan dari oknum tidak bertanggung jawab di kalangan perusahaan pelat merah.

"Dalam menentukan kepemimpinan di BUMN kadang kita sibuk hanya penempatan orang tetapi tidak dijaga strategis perusahan ini untuk apa. Ini yang membahayakan sehingga ada raja-raja kecil atau oknum-oknum," kata Erick dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (24/5/2020).

Erick melanjutkan, saat ini pihaknya tidak hanya fokus memproses kepemimpinan tetapi memastikan klaster bisnis BUMN diperketat dan dihubungkan dengan bidang bisnis yang saling berkaitan. Tujuannya menghindari terjadinya tumpang tindih pada bisnis antar BUMN.



"Sekarang kita akan turunkan jumlah klaster kita, yang tadinya 27 nanti hanya 12. Dan semuanya dihubungkan dengan supply chain," ujarnya. Baca: Erick Siap Kerahkan BUMN Distribusikan Bansos ke Masyarakat Terdampak Covid-19

Erick mengaku selama ini, perusahaan perusahaan pelat merah tidak fokus antara nilai ekonomi alias mencari untung dengan tujuan pelayanan publiknya.

"Kita harus melihat kalau kita melakukan nilai ekonomi dengan pelayanan publik, tetapi ini yang menjadi kondisi tidak ada kejelasan. Karena itu, kami coba klasifikasi pemecahan dan klasifikasi bagaimana nilai ekonomi dan pelayanan publik di masing-masing BUMN," ucapnya.

Sambung dia, pelayanan publik akan menjadi tanggung jawab perusahaan BUMN, utamanya untuk penanganan proyek-proyek strategis. Dengan begitu, BUMN diharapkan dapat membangun ekosistem.

"Misalnya saja, industri semen yang dihubungkan dengan industri karya, lalu industri farmasi dengan industri rumah sakit, industri pangan dengan industri pupuk," pungkasnya.
(bon)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top