Harga Batu Bara Terkerek Kenaikan Permintaan China

loading...
Harga Batu Bara Terkerek Kenaikan Permintaan China
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Head of Corporate Ratings PT PEFINDO, Niken Indriarsih, mengatakan harga batu bara global menunjukkan penguatan yang signifikan. Penguatan itu disebabkan oleh spekulasi kenaikan permintaan di China .

Naiknya permintaan China karena pemulihan ekonomi negara itu mulai menggeliat. Pemulihan itu karena vaksinasi yang dijalankan sehingga kondisi ekonominya jauh lebih baik dibandingkan 2020.

“Kemajuan yang terjadi di China itu memicu naiknya permintaan. Terutama permintaan meningkat dari sektor rumah tangga,” ujarnya dalam Market Review di IDX Channel, Senin (14/6/2021).

Baca juga:Bacaan dan Keutamaan Zikir Hauqolah

Terkait hal tersebut, akan memicu pendapatan dari para pemain di sektor batu bara. Niken menerangkan, perlu adanya perhatian lebih rinci lagi dari sisi penjualan. Apakah banyak diperoleh dari porsi spot atau kontrak.

“Kalau penjualan secara kontrak, harga sudah ditentukan sebelumnya. Sementara porsi spot yang lebih besar bisa diuntungkan dengan potensi kenaikan pendapatan yang lebih besar pada tahun ini. Walaupun tentunya akan ada risiko tambahan pada saat harga batu bara mengalami penurunan,” jelas Niken.



Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkap Indonesia berencana mengurangi penggunaan batu bara hingga 60% pada tahun 2050. Kebijakan dilakukan untuk menekan dampak krisis iklim dan sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca yang berperan besar dalam peningkatan suhu global.

Merujuk pada wacana pemerintah tersebut, Niken menilai kebijakan itu adalah suatu langkah yang baik untuk mengamankan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, kemudian juga untuk mengurangi dampak buruk yang dihasilkan dari industri pertambangan bagi lingkungan.

Niken memprediksi rencana pemerintah baru dapat terealisasikan dalam jangka panjang, lantaran perlu mempertimbangkan infrastruktur dan kebijakan pendukung. Baginya semua rencana tersebut perlu dipersiapkan dengan baik.

Baca juga:Jelang Bigmatch Lawan Jerman, Mbappe dan Giroud Malah Bertengkar



“Dan juga dari kontrak yang masih berlaku antara perusahaan listrik negara dengan penyedia listrik pihak ketiga,” tambahnya.

Selanjutnya, Niken menyampaikan bahwa PLN akan mengkaji rencana pemerintah begitu juga kontrak-kontrak tersebut kapan berakhirnya. Dalam hal ini, ia memprediksikan paling cepat sekitar tahun 2030 kontrak berakhir.

“Sambil menunggu proses berlangsung, dalam jangka panjang PLN akan melakukan pengurangan konsumsi tenaga uap dengan pembangkit listrik yang memakai tenaga terbarukan,” terangnya.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top