Peritel Ingin ‘Gas-Rem’ Diatur Secara Bijak
Selasa, 22 Juni 2021 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Vaksinasi Sasar Pelaku Ritel dan UMKM di Jakarta, Anies: Semoga Jakarta Bisa Cepat Bangkit
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, saat ini tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan saat ini memang mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan lalu. Tapi, kata dia, hal itu wajar karena biasanya setelah Idulfitri pusat perbelanjaan memasuki low season.
“Jadi sekarang ini belum bisa disimpulkan bahwa penurunan tingkat kunjungan adalah akibat terjadinya peningkatan jumlah kasus positif Covid-19,” katanya.
Pihaknya berharap pemerintah dapat memastikan protokol kesehatan diberlakukan secara ketat, disiplin dan konsisten agar supaya jumlah kasus positif Covid- 19 terkendali. Sehingga dapat menghindari adanya tambahan pemberlakuan pembatasan yang berpotensi mengganggu perekonomian kembali.
Baca juga: Nasib Bisnis Ritel hingga Akhir 2021: Masih Dibayangi Kebangkrutan
Alphonzus mengatakan, kalangan pelaku usaha sama sekali tidak mengharapkan adanya tambahan pembatasan. Jika diberlakukan kembali pembatasan, kata dia, tentu akan sangat bepengaruh pada jumlah kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan.
“Oleh karenanya diharapkan pemerintah dapat segera memastikan dan menegakkan pemberlakuan protokol kesehatan secara ketat, disiplin dan konsisten agar supaya peningkatan jumlah kasus positif Covid- 19 dapat terkendali,” tukasnya.
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, situasi pemberlakukan PPKM Mikro terkait erat dengan sentimen kepada konsuman karena khawatir penularan Covid-19.
Padahal, tutur dia, indikator kepercayaan konsumen mulai pulih yang terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) per Mei 2021 sebesar 104,4 atau berada diatas level 100.
"Sementara indeks penjualan riil per April 2021 juga menunjukkan perbaikan karena naik 17,3% dibanding bulan sebelumnya," ujar Bhima kepada KORAN SINDO, di Jakarta, Senin (21/6) sore.
Dia membeberkan, data mobilitas Google pun mengindikasikan pulihnya mobilitas masyarakat ke pusat perbelanjaan retail dan rekreasi karena hanya turun menjadi -3% pada periode 17 Juni 2021 dibanding baseline. Akan tetapi, ujar dia, jika ada lonjakan kasus dan kembali diberlakukan pengetatan mobilitas masyarakat dikhawatirkan sektor ritel belum siap mengantisipasi.
“Khawatir ritel yang mulai bergeliat terpaksa harus lakukan efisiensi lagi. Tidak menutup kemungkinan menutup gerai yang merugi, PHK karyawan hingga mengajukan penundaan pembayaran utang," ungkapnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, saat ini tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan saat ini memang mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan lalu. Tapi, kata dia, hal itu wajar karena biasanya setelah Idulfitri pusat perbelanjaan memasuki low season.
“Jadi sekarang ini belum bisa disimpulkan bahwa penurunan tingkat kunjungan adalah akibat terjadinya peningkatan jumlah kasus positif Covid-19,” katanya.
Pihaknya berharap pemerintah dapat memastikan protokol kesehatan diberlakukan secara ketat, disiplin dan konsisten agar supaya jumlah kasus positif Covid- 19 terkendali. Sehingga dapat menghindari adanya tambahan pemberlakuan pembatasan yang berpotensi mengganggu perekonomian kembali.
Baca juga: Nasib Bisnis Ritel hingga Akhir 2021: Masih Dibayangi Kebangkrutan
Alphonzus mengatakan, kalangan pelaku usaha sama sekali tidak mengharapkan adanya tambahan pembatasan. Jika diberlakukan kembali pembatasan, kata dia, tentu akan sangat bepengaruh pada jumlah kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan.
“Oleh karenanya diharapkan pemerintah dapat segera memastikan dan menegakkan pemberlakuan protokol kesehatan secara ketat, disiplin dan konsisten agar supaya peningkatan jumlah kasus positif Covid- 19 dapat terkendali,” tukasnya.
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, situasi pemberlakukan PPKM Mikro terkait erat dengan sentimen kepada konsuman karena khawatir penularan Covid-19.
Padahal, tutur dia, indikator kepercayaan konsumen mulai pulih yang terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) per Mei 2021 sebesar 104,4 atau berada diatas level 100.
"Sementara indeks penjualan riil per April 2021 juga menunjukkan perbaikan karena naik 17,3% dibanding bulan sebelumnya," ujar Bhima kepada KORAN SINDO, di Jakarta, Senin (21/6) sore.
Dia membeberkan, data mobilitas Google pun mengindikasikan pulihnya mobilitas masyarakat ke pusat perbelanjaan retail dan rekreasi karena hanya turun menjadi -3% pada periode 17 Juni 2021 dibanding baseline. Akan tetapi, ujar dia, jika ada lonjakan kasus dan kembali diberlakukan pengetatan mobilitas masyarakat dikhawatirkan sektor ritel belum siap mengantisipasi.
“Khawatir ritel yang mulai bergeliat terpaksa harus lakukan efisiensi lagi. Tidak menutup kemungkinan menutup gerai yang merugi, PHK karyawan hingga mengajukan penundaan pembayaran utang," ungkapnya.
Lihat Juga :