Peritel Ingin ‘Gas-Rem’ Diatur Secara Bijak
Selasa, 22 Juni 2021 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
Bhima berpandangan, guna menghadapi gelombang kedua pandemi dan PPKM Mikro yang kesekian kali maka yang harus dilakukan sektor ritel sebaiknya segera mengantisipasi dengan pindah core business ke ritel bidang kesehatan dan kosmetik. Penjualan obat misalnya diperkirakan kembali naik dan kosmetik adalah subsektor ritel yang penjualannya tetap positif meski ada pandemi. Karenanya, pengusaha harus pintar-pintar putar core business dari grocery ke segmen lain.
"Model penjualan O2O (offline to online) juga jadi pilihan yakni menambah pemasaran secara online, atau pengantaran langsung ke konsumen. Segmen menengah atas paling peka soal isu kesehatan, jadi selama PSBB ketat mereka akan beli barang lewat kurir delivery," tegasnya.
Dia menggariskan, Celios memperkirakan proyeksi indeks penjualan riil pada bulan Juni diperkirakan kembali melambat dengan pertumbuhan rendah yakni 5-7% dibanding bulan sebelumnya. Pasalnya, masyarakat antisipasi pembelian barang di toko rietl fisik. Pada Juli, ujar Bhima, apabila terdapat kebijakan lockdown maka bisa kembali negatif -10% sampai -15% dibanding bulan sebelum terjadinya lockdown.
"Pengusaha harus bersiap hadapi kontraksi seperti periode Januari 2021 dimana kasus positif menembus 14.000 saat itu," bebernya.
Bhima melanjutkan, kampanye dan kegiatan hari belanja online nasional (harbolnas) bisa diperbanyak frekuensinya untuk menarik minat beli masyarakat di masa pandemi agar sektor ritel tetap berkibar. Harbolnas itu disertai dengan berbagai macam promo sehingga masyarakat masih bisa mengandalkan belanja retail online. Berikutnya, model retail harus diperkecil dari grocery store yang biaya operasionalnya mahal di mal menjadi minimarket yang dekat dari pemukiman penduduk.
"Model bisnis minimarket diperkirakan akan bertahan bahkan ekspansi karena barang yang dijual relatif sama dengan pasar swalayan di mal, sementara konsumen diuntungkan dengan jarak yang dekat serta biaya parkir yang lebih murah misalnya. Jarak akan jadi faktor kunci perubahan prilaku konsumen terhadap pembelian barang di toko ritel," ucap Bhima.
Peneliti Indef Agus Herta Sumarto menuturkan, melonjaknya kasus Covid-19 saat ini menjadi bukti bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari kata selesai. Kasus di India, Thailand, dan Malaysia telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bagaimana pelonggaran protokol kesehatan demi menggenjot kinerja ekonomi malah berdampak sangat buruk dan mengakibatkan lonjakan kasus Covid-19 yang sangat tinggi dan di luar kendali.
“Pengendalian aktivitas masyarakat dan pelaksanaan protokol kesehatan yang sangat ketat diperlukan untuk meminimalisasi penyebaran virus Covid-19. Namun pengendalian aktivitas masyarakat dan pelaksanaan prokes yang ketat ini harus diusahakan tidak menimbulkan efek negatif ekonomi yang terlampau besar khususnya bagi para pelaku ekonomi dan industri terutama para pelaku ritel dan UMKM,” katanya.
Ditegaskannya, pemerintah harus fair bahwa yang dibatasi secara ketat atau bahkan di-lockdown adalah wilayah-wilayah yang telah menjadi kluster penyebaran virus Covid-19. Bagi wilayah yang masih hijau atau orange area maka masih diberikan izin terbatas.
“Jika perlu, pemerintah menerbitkan semacam kartu akses kesehatan elektronik (electronic health card) yang sifatnya lokal yang menjadi semacam izin/garansi bagi masyarakat yang mau masuk ke pusat-pusat perbelanjaan, restoran, atau bahkan minimarket,” katanya.
Jadi, kata dia, hanya orang yang benar-benar sehat dan telah melakukan vaksin yang bisa melakukan aktivitas ekonomi secara terbatas. Di sisi lain, para pelaku usaha juga harus mengerti dan memahami bahwa saat ini yang terpenting adalah usaha mereka bisa bertahan di masa pandemi sehingga bisa melewati masa pandemi dengan baik.
Dengan kata lain, tujuan utama para pelaku usaha saat ini yang terpenting adalah bisa menutupi biaya variabel usahanya serta kewajiban jangka pendeknya yang sudah jatuh tempo.
"Model penjualan O2O (offline to online) juga jadi pilihan yakni menambah pemasaran secara online, atau pengantaran langsung ke konsumen. Segmen menengah atas paling peka soal isu kesehatan, jadi selama PSBB ketat mereka akan beli barang lewat kurir delivery," tegasnya.
Dia menggariskan, Celios memperkirakan proyeksi indeks penjualan riil pada bulan Juni diperkirakan kembali melambat dengan pertumbuhan rendah yakni 5-7% dibanding bulan sebelumnya. Pasalnya, masyarakat antisipasi pembelian barang di toko rietl fisik. Pada Juli, ujar Bhima, apabila terdapat kebijakan lockdown maka bisa kembali negatif -10% sampai -15% dibanding bulan sebelum terjadinya lockdown.
"Pengusaha harus bersiap hadapi kontraksi seperti periode Januari 2021 dimana kasus positif menembus 14.000 saat itu," bebernya.
Bhima melanjutkan, kampanye dan kegiatan hari belanja online nasional (harbolnas) bisa diperbanyak frekuensinya untuk menarik minat beli masyarakat di masa pandemi agar sektor ritel tetap berkibar. Harbolnas itu disertai dengan berbagai macam promo sehingga masyarakat masih bisa mengandalkan belanja retail online. Berikutnya, model retail harus diperkecil dari grocery store yang biaya operasionalnya mahal di mal menjadi minimarket yang dekat dari pemukiman penduduk.
"Model bisnis minimarket diperkirakan akan bertahan bahkan ekspansi karena barang yang dijual relatif sama dengan pasar swalayan di mal, sementara konsumen diuntungkan dengan jarak yang dekat serta biaya parkir yang lebih murah misalnya. Jarak akan jadi faktor kunci perubahan prilaku konsumen terhadap pembelian barang di toko ritel," ucap Bhima.
Peneliti Indef Agus Herta Sumarto menuturkan, melonjaknya kasus Covid-19 saat ini menjadi bukti bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari kata selesai. Kasus di India, Thailand, dan Malaysia telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bagaimana pelonggaran protokol kesehatan demi menggenjot kinerja ekonomi malah berdampak sangat buruk dan mengakibatkan lonjakan kasus Covid-19 yang sangat tinggi dan di luar kendali.
“Pengendalian aktivitas masyarakat dan pelaksanaan protokol kesehatan yang sangat ketat diperlukan untuk meminimalisasi penyebaran virus Covid-19. Namun pengendalian aktivitas masyarakat dan pelaksanaan prokes yang ketat ini harus diusahakan tidak menimbulkan efek negatif ekonomi yang terlampau besar khususnya bagi para pelaku ekonomi dan industri terutama para pelaku ritel dan UMKM,” katanya.
Ditegaskannya, pemerintah harus fair bahwa yang dibatasi secara ketat atau bahkan di-lockdown adalah wilayah-wilayah yang telah menjadi kluster penyebaran virus Covid-19. Bagi wilayah yang masih hijau atau orange area maka masih diberikan izin terbatas.
“Jika perlu, pemerintah menerbitkan semacam kartu akses kesehatan elektronik (electronic health card) yang sifatnya lokal yang menjadi semacam izin/garansi bagi masyarakat yang mau masuk ke pusat-pusat perbelanjaan, restoran, atau bahkan minimarket,” katanya.
Jadi, kata dia, hanya orang yang benar-benar sehat dan telah melakukan vaksin yang bisa melakukan aktivitas ekonomi secara terbatas. Di sisi lain, para pelaku usaha juga harus mengerti dan memahami bahwa saat ini yang terpenting adalah usaha mereka bisa bertahan di masa pandemi sehingga bisa melewati masa pandemi dengan baik.
Dengan kata lain, tujuan utama para pelaku usaha saat ini yang terpenting adalah bisa menutupi biaya variabel usahanya serta kewajiban jangka pendeknya yang sudah jatuh tempo.
(ynt)
Lihat Juga :