Unilever Indonesia Cetak Laba Bersih Rp3 Triliun di Kuartal II 2021
Kamis, 22 Juli 2021 - 19:22 WIB
loading...
A
A
A
Tiadak hanya itu, seiring dengan dinamika segmen konsumen tanah air terkini, perseroan terus berinovasi dalam menjawab kebutuhan konsumen di value segment dan juga premium segment melalui berbagai inovasi. Sejumlah inovasi dalam premium segment yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, antara lain peluncuran Baby Dove untuk meraih potensi besar di market bayi, peluncuran range Sensitive Expert berkekuatan teknologi terdepan Active Remin Complex, hasil dari 10 tahun riset bersama Dokter Gigi kelas dunia, dan daging vegetarian The Vegetarian Butcher dari Unilever Food Solutions (UFS) untuk menjawab demandopsi makanan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Unilever juga akan fokus ekspansi pada kategori produk kecantikan dan perawatan diri, didukung produk kategori rumah tangga khususnya untuk kelompok konsumen premium. Ditambah upaya integrasi riset dan teknologi agar lebih agresif demi menjawab kebutuhan konsumen secara berkelanjutan. Selain itu, tekanan daya beli konsumen dijawab dengan strategi harga terjangkau pada portofolio unggulan seperti Kecap Bango.
Disisi lain,pertumbuhan positif diraih karena dukungan pemerintah dalam meningkatkan kinerja perekonomian di tengah pengendalian pandemi Covid-19. Proyeksi pertumbuhan dari sejumlah lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF dan OECD untuk tahun 2021 masih memberikan pandangan optimis dan menempatkan pertumbuhan ekonomi kita dari 4,3% menjadi 4,9% dan dari 5,0% menjadi 5,8% pada tahun 2022. "Harapannya, keseimbanagn pemulihan kesehatan dapat berjalan beriring dengan giat perekonomian," kata dia.
Baca Juga: Dukung Pemulihan Ekonomi, Unilever Siap Vaksinasi 10.000 Karyawan dan Keluarganya
Analis pasar modal sekaligus ekonom dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menilai, kinerja yang masih cukup positif yang diraih Unilever yang mewakili pemimpin pasar FMCG kuncinya ada pada tiga hal yakni produksi, konsumsi, dan distribusi. Jika tiga hal tersebut mampu dijaga, maka secara kinerja akan bisa terus tumbuh positif. Sektor FMCG masuk kelompok prioritas, berdaya tahan, karena hampir semua produknya sudah jadi kebutuhan masyarakat yang digunakan sehari-hari.
"Tiga hal itu jadi dasar kenapa mayoritas perusahaan consumer goods tetap tumbuh, mengalami kenaikan, karena harganya terjangkau. Seperti Unilever dan lainnya. Produk FMCG tetap dibutuhkan masyarakat dan tetap dikonsumsi, apalagi jika disesuaikan daya beli konsumen, alias terjangkau," jelas Lucky saat dihubungi media, Kamis (22/7/2021).
Unilever juga akan fokus ekspansi pada kategori produk kecantikan dan perawatan diri, didukung produk kategori rumah tangga khususnya untuk kelompok konsumen premium. Ditambah upaya integrasi riset dan teknologi agar lebih agresif demi menjawab kebutuhan konsumen secara berkelanjutan. Selain itu, tekanan daya beli konsumen dijawab dengan strategi harga terjangkau pada portofolio unggulan seperti Kecap Bango.
Disisi lain,pertumbuhan positif diraih karena dukungan pemerintah dalam meningkatkan kinerja perekonomian di tengah pengendalian pandemi Covid-19. Proyeksi pertumbuhan dari sejumlah lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF dan OECD untuk tahun 2021 masih memberikan pandangan optimis dan menempatkan pertumbuhan ekonomi kita dari 4,3% menjadi 4,9% dan dari 5,0% menjadi 5,8% pada tahun 2022. "Harapannya, keseimbanagn pemulihan kesehatan dapat berjalan beriring dengan giat perekonomian," kata dia.
Baca Juga: Dukung Pemulihan Ekonomi, Unilever Siap Vaksinasi 10.000 Karyawan dan Keluarganya
Analis pasar modal sekaligus ekonom dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menilai, kinerja yang masih cukup positif yang diraih Unilever yang mewakili pemimpin pasar FMCG kuncinya ada pada tiga hal yakni produksi, konsumsi, dan distribusi. Jika tiga hal tersebut mampu dijaga, maka secara kinerja akan bisa terus tumbuh positif. Sektor FMCG masuk kelompok prioritas, berdaya tahan, karena hampir semua produknya sudah jadi kebutuhan masyarakat yang digunakan sehari-hari.
"Tiga hal itu jadi dasar kenapa mayoritas perusahaan consumer goods tetap tumbuh, mengalami kenaikan, karena harganya terjangkau. Seperti Unilever dan lainnya. Produk FMCG tetap dibutuhkan masyarakat dan tetap dikonsumsi, apalagi jika disesuaikan daya beli konsumen, alias terjangkau," jelas Lucky saat dihubungi media, Kamis (22/7/2021).
Lihat Juga :