Transisi Lancar, Produksi Blok Rokan Diyakini Dapat Dipertahankan
Kamis, 22 Juli 2021 - 20:25 WIB
loading...
A
A
A
Fatar menegaskan, strategi dalam pengelolaan blok Rokan pascatransisi untuk jangka pendek pada 2021 adalah mempertahankan produksi dan transisi yang sukses ke PHR. Selanjutnya, periode 2022-2025 adalah upaya peningkatan produksi dengan investasi yang signifikan. "Jangka panjangnya pada 2026 adalah produksi yang tinggi sesuai long term plan (LTP) PHR Rokan," tuturnya.
Direktur Utama PHR Jaffee Arizon Suardin menyampaikan apresiasinya atas dukungan SKK Migas sehingga proses alih kelola berjalan lancar. Dengan dukungan tersebut, kata dia, PHR siap melanjutkan pengelolaan Blok Riokan sehingga produksi tetap terjaga.
"Pengeboran adalah salah satu upaya menjaga produksi. Dari target 192 sumur tadi, yang tidak bisa direalisasikan oleh existing operator akan dilanjutkan oleh PHR, termasuk sumur-sumur yang direncanakan oleh PHR. Kami perkirakan dengan asumsi 70 sumur belum bisa diselesaikan saat alih kelola, jumlah sumur yang bisa dibor sampai Desember 2021 akan mencapai sekitar 164 sumur," ujarnya.
Jaffee mengakui bahwa pengelolan Blok Rokan sangat menantang. Selain menyumbang 24% produksi minyak nasional, blok ini memiliki total 104 lapangan yang tersebar dari utara sampai ke selatan. "Ini yang harus kita manage agar produksi bisa dipertahankan," tegasnya.
Jaffe mengatakan, PHR akan mengebor dan menyiapkan sumber daya untuk 161 sumur dengan asumsi 77 sumur yang belum sempat diselesaikan oleh operator sebelumnya. "Saat ini, persiapan terus dilakukan. Pertamina sudah menyiapkan sekitar 16-17 rig dan material," tuturnya.
Bahkan, ujar dia, rig dan material tersebut bisa digunakan sebelum tanggal 9 Agustus untuk bisa membantu sumur yang sedang dikerjakan existing operator. "Tujuannya agar proses alih kelola ini bisa jalan lancar tanpa gangguan. PHR berkomitmen menggali semua potensi yang ada secara masif, agresif, dan efisien," tandasnya.
Direktur Utama PHR Jaffee Arizon Suardin menyampaikan apresiasinya atas dukungan SKK Migas sehingga proses alih kelola berjalan lancar. Dengan dukungan tersebut, kata dia, PHR siap melanjutkan pengelolaan Blok Riokan sehingga produksi tetap terjaga.
"Pengeboran adalah salah satu upaya menjaga produksi. Dari target 192 sumur tadi, yang tidak bisa direalisasikan oleh existing operator akan dilanjutkan oleh PHR, termasuk sumur-sumur yang direncanakan oleh PHR. Kami perkirakan dengan asumsi 70 sumur belum bisa diselesaikan saat alih kelola, jumlah sumur yang bisa dibor sampai Desember 2021 akan mencapai sekitar 164 sumur," ujarnya.
Jaffee mengakui bahwa pengelolan Blok Rokan sangat menantang. Selain menyumbang 24% produksi minyak nasional, blok ini memiliki total 104 lapangan yang tersebar dari utara sampai ke selatan. "Ini yang harus kita manage agar produksi bisa dipertahankan," tegasnya.
Jaffe mengatakan, PHR akan mengebor dan menyiapkan sumber daya untuk 161 sumur dengan asumsi 77 sumur yang belum sempat diselesaikan oleh operator sebelumnya. "Saat ini, persiapan terus dilakukan. Pertamina sudah menyiapkan sekitar 16-17 rig dan material," tuturnya.
Bahkan, ujar dia, rig dan material tersebut bisa digunakan sebelum tanggal 9 Agustus untuk bisa membantu sumur yang sedang dikerjakan existing operator. "Tujuannya agar proses alih kelola ini bisa jalan lancar tanpa gangguan. PHR berkomitmen menggali semua potensi yang ada secara masif, agresif, dan efisien," tandasnya.
Lihat Juga :