Diterjang Pandemi, Pelaku UMKM Vape Sulit 'Ngebul'
Senin, 02 Agustus 2021 - 15:04 WIB
loading...
Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 dan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) semakin menekan industri hasil produk tembakau lainnya (HPTL) atau industri vape . Selama ini, industri HPTL telah menanggung beban pungutan cukai yang cukup tinggi.
Ketua Asosiasi Penghantar Nikotin Elektrik (Apnnindo) Roy Lefrans mengatakan, di saat pandemi dan PPKM, industri HPTL menjadi salah satu industri yang paling terpukul bisnisnya. Sebab, selain beban tarif cukai yang tinggi, juga terkena dampak penurunan daya beli.
“Jadi industri HPTL ini menanggung beban ganda. Tarif cukai yang tinggi, ditambah tren penurunan penjualan akibat pandemi. Tanpa ada PPKM pun sebenarnya penjualan sudah menurun karena daya beli masyarakat menurun,” kata Roy, dikutip Senin (2/8/2021).
Ia menjelaskan, akibat pandemi, saat ini banyak toko-toko pengecer HPTL yang gulung tikar akibatnya berkurangnya kunjungan konsumen. Meski tak menyebut angka pastinya, namun Roy mengatakan jumlah peritel HPTL yang gulung tikar cukup signifikan, sehingga berdampak langsung kepada penyerapan tenaga kerja. Sementara beberapa pelaku lain mencoba mencari selamat dengan mengalihkan fokus penjualan secara daring.
Baca juga:Ganda Putri Bulutangkis Indonesia Bawa Pulang Medali Emas, Gading Marten: Terima Kasih Pahlawanku!
Lantaran masih baru pula, industri HPTL masih ditopang oleh pelaku usaha skala UMKM yang pertumbuhannya masih sangat terbatas. Saat ini yang menjadi fokus industri HPTL adalah mempertahankan keberlangsungan industri tanpa perlu melakukan pengurangan pekerja.
Ketua Asosiasi Penghantar Nikotin Elektrik (Apnnindo) Roy Lefrans mengatakan, di saat pandemi dan PPKM, industri HPTL menjadi salah satu industri yang paling terpukul bisnisnya. Sebab, selain beban tarif cukai yang tinggi, juga terkena dampak penurunan daya beli.
“Jadi industri HPTL ini menanggung beban ganda. Tarif cukai yang tinggi, ditambah tren penurunan penjualan akibat pandemi. Tanpa ada PPKM pun sebenarnya penjualan sudah menurun karena daya beli masyarakat menurun,” kata Roy, dikutip Senin (2/8/2021).
Ia menjelaskan, akibat pandemi, saat ini banyak toko-toko pengecer HPTL yang gulung tikar akibatnya berkurangnya kunjungan konsumen. Meski tak menyebut angka pastinya, namun Roy mengatakan jumlah peritel HPTL yang gulung tikar cukup signifikan, sehingga berdampak langsung kepada penyerapan tenaga kerja. Sementara beberapa pelaku lain mencoba mencari selamat dengan mengalihkan fokus penjualan secara daring.
Baca juga:Ganda Putri Bulutangkis Indonesia Bawa Pulang Medali Emas, Gading Marten: Terima Kasih Pahlawanku!
Lantaran masih baru pula, industri HPTL masih ditopang oleh pelaku usaha skala UMKM yang pertumbuhannya masih sangat terbatas. Saat ini yang menjadi fokus industri HPTL adalah mempertahankan keberlangsungan industri tanpa perlu melakukan pengurangan pekerja.
Lihat Juga :