Tembus Ekspor, Cau Coklat Kembangkan Pertanian dari Hulu ke Hilir
Senin, 16 Agustus 2021 - 01:56 WIB
loading...
Kadek Surya Prasetya Wiguna menggandeng petani Bali untuk menggarap potensi kakao dari hulu ke hilir hingga menembus pasar ekspor (Foto: Dok. BPPSDMP)
A
A
A
JAKARTA - Seruan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar pertanian dikelola dari hulu hingga hilir, diimplementasikan oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna. Kadek bersama petani Tabanan dan Jembrana mengolah kakao Bali menjadi penganan oleh-oleh hingga menembus pasar ekspor , dengan branding internasional Cau Chocolates.
Kadek memilih mundur sebagai eksekutif muda di bank BUMN untuk alih profesi menjadi petani. Fokus awal, memutus rantai pasok kakao ke pabrik coklat yang merugikan petani. Kini, petani menjual kakao ke koperasi lalu masuk ke PT Chau Chocolate Bali sehingga petani diuntungkan dari harga jual panen yang tinggi.
(Baca juga:MRAT Perluas Pasar Ekspor ke Timur Tengah dan Rusia)
Apresiasi diberikan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak petani milenial. Pasalnya, sekitar 71% berusia 45 tahun ke atas sehingga dituntut adanya regenerasi petani.
Menurutnya, petani dan kelompok tani ke depan, dituntut mampu mengelola pertanian dari hulu ke hilir (on farm dan off farm) untuk mengelola pascapanen hingga pengemasan dan perdagangan lintas negara.
“Kita harus tahu persaingan produk pertanian sekarang sudah lintas negara. Petani Indonesia harus kompetitif dalam keterampilan teknis, pemanfaatan model bisnis dengan manajemen modern,” kata Mentan Syahrul.
Kadek memilih mundur sebagai eksekutif muda di bank BUMN untuk alih profesi menjadi petani. Fokus awal, memutus rantai pasok kakao ke pabrik coklat yang merugikan petani. Kini, petani menjual kakao ke koperasi lalu masuk ke PT Chau Chocolate Bali sehingga petani diuntungkan dari harga jual panen yang tinggi.
(Baca juga:MRAT Perluas Pasar Ekspor ke Timur Tengah dan Rusia)
Apresiasi diberikan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak petani milenial. Pasalnya, sekitar 71% berusia 45 tahun ke atas sehingga dituntut adanya regenerasi petani.
Menurutnya, petani dan kelompok tani ke depan, dituntut mampu mengelola pertanian dari hulu ke hilir (on farm dan off farm) untuk mengelola pascapanen hingga pengemasan dan perdagangan lintas negara.
“Kita harus tahu persaingan produk pertanian sekarang sudah lintas negara. Petani Indonesia harus kompetitif dalam keterampilan teknis, pemanfaatan model bisnis dengan manajemen modern,” kata Mentan Syahrul.
Lihat Juga :