Pemerintah-DPR Sepakati Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 2021 di 5,2-5,5%
Selasa, 31 Agustus 2021 - 13:34 WIB
loading...
Menkeu Sri Mulyani mengakui sasaran pertumbuhan ekonomi 5,5% di 2022 cukup sulit mengingat tingginya ketidakpastian. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah dan Komisi XI DPR RI menyepakati Asumsi Dasar Ekonomi Makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2022 (RAPBN 2022). Sasaran pertumbuhan ekonomi yang disepakati adalah 5,2-5,5% (yoy).
Sementara, tingkat inflasi dipatok 3%, nilai tukar rupiah Rp14.350 per USD dan tingkat suku bunga SUN tenor 10 tahun ditetapkan 6,8%. "Ini adalah salah satu forecast yang mungkin paling sulit dalam ketidakpastian begitu banyak. Pandeminya tidak bisa 100% kita bisa prediksi,” kata Sri Mulyani, Selasa (31/8/2021).
Baca Juga: Ketua Banggar DPR Optimistis Target Realistis RAPBN 2022
Sri Mulyani juga mengatakan perlua mewaspadai faktor tapering, supply disruption, dan administered price dalam menjaga inflasi. Meski rata-rata inflasi tahun 2021 masih di bawah 1,5%, banyak faktor yang bisa memengaruhi inflasi tahun depan.
“Pemerintah akan terus melakukan berbagai reformasi untuk bisa memperbaiki sisi komunikasi, sisi distribusi, sisi suplai, dan juga untuk melihat pola dari seasonality atau musiman yang biasanya juga mempengaruhi inflasi,” papar Sri Mulyani.
Sementara, tingkat inflasi dipatok 3%, nilai tukar rupiah Rp14.350 per USD dan tingkat suku bunga SUN tenor 10 tahun ditetapkan 6,8%. "Ini adalah salah satu forecast yang mungkin paling sulit dalam ketidakpastian begitu banyak. Pandeminya tidak bisa 100% kita bisa prediksi,” kata Sri Mulyani, Selasa (31/8/2021).
Baca Juga: Ketua Banggar DPR Optimistis Target Realistis RAPBN 2022
Sri Mulyani juga mengatakan perlua mewaspadai faktor tapering, supply disruption, dan administered price dalam menjaga inflasi. Meski rata-rata inflasi tahun 2021 masih di bawah 1,5%, banyak faktor yang bisa memengaruhi inflasi tahun depan.
“Pemerintah akan terus melakukan berbagai reformasi untuk bisa memperbaiki sisi komunikasi, sisi distribusi, sisi suplai, dan juga untuk melihat pola dari seasonality atau musiman yang biasanya juga mempengaruhi inflasi,” papar Sri Mulyani.
Lihat Juga :