Punya Utang Jumbo Capai Rp4.270 Triliun, Akankah Evergrande Mengulang Krisis 2008?

Selasa, 21 September 2021 - 20:57 WIB
loading...
Punya Utang Jumbo Capai Rp4.270 Triliun, Akankah Evergrande Mengulang Krisis 2008?
Utang Evergrande telah menembus angka USD300 miliar atau setara hampir Rp4.270 triliun. Foto/Instagram @pandaily
A A A
JAKARTA - Krisis keuangan yang tengah melanda salah satu grup properti terbesar di China , Evergrande menjadi pembicaraan publik belakangan ini. Pasalnya, jeratan utang Evergrande telah menembus angka USD300 miliar atau setara hampir Rp4.270 triliun / Rp4,2 kuadriliun.

Perusahaan telah memberi peringatan kepada investor atas risiko gagal bayar, meskipun kemungkinan masuknya pendapatan baru masih terbuka lebar, hal ini memiliki risiko mengingat dana perusahaan yang terbatas.

Baca juga: IHSG Berkutat di Zona Merah 2 Hari Beruntun, Ini Kata Analis

Sejumlah analis mengkhawatirkan apa yang dialami Evergrande saat ini dapat mengulangi hal serupa yang terjadi pada 2008, tepatnya krisis Subprime Mortgage yang puncaknya terjadi pada 15 September 2008, membuat raksasa keuangan dunia Lehman Brothers bangkrut.

Senior Technical Analyst PT Henan Putihrai Sekuritas, Lisa C. Suryanata meyakini bahwa apa yang dialami Evergrande tidak sebesar krisis 2008. Argumen Lisa berangkat dari perbandingan total utang yang dialami kedua entitas tersebut.

"Perlu dicermati dengan kepala dingin bahwa krisis Evergrande tidak sebesar krisis properti tahun 2008 Subprime Mortgage yang angkanya mencapai USD10 triliun," kata Lisa dalam 2nd Session Closing, Selasa (21/9/2021).

Baca juga: Ngemplang Rp8,2 Triliun, Duit Kaharudin Ongko Baru Disita Rp110 Miliar

Dia mencermati pemerintah China sanggup melakukan bailout atau pemberian dana talangan bagi grup tersebut untuk mengurangi dampak di masyarakat. "Tapi tampaknya pemerintah China sudah bisa gerak cepat dan gesit untuk menyuntikkan likuiditas atas utang yang mencapai 2 persen dari PDB China tersebut," tuturnya.

Lisa pun berharap kabar buruk dari China itu tidak terlalu membawa dampak buruk bagi pasar modal Indonesia. "Mudah-mudahan, efek sentimen negatifnya di market akan lambat laun mencair setelah ada kabar bailout," tandasnya.
(ind)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2918 seconds (11.252#12.26)