Wamenparekraf Apresiasi Konsep Sustainable Agriculture dari Agradaya, Perkuat Wellness Tourism Indonesia
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 12:08 WIB
loading...
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo puji konsep keberlanjutan yang dihadirkan Agradaya. Foto/Kemenparekraf
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo mengapresiasi konsep keberlanjutan yang dihadirkan Agradaya, suatu usaha berbasis komunitas dan kewirausahaan sosial yang bergerak dalam bidang agrikultur dan produksi aneka pangan lokal serta pengembangan produk rempah dengan melibatkan petani-petani lokal di wilayah perbukitan menoreh, Yogyakarta.
Baca juga: Angela Tanoesoedibjo Puji Generasi Muda yang Mampu Implementasikan Sustainable Agriculture
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo saat melakukan kunjungan ke Agradaya di Desa Sendangrejo, Minggir, Yogyakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, kehadiran Agradaya tidak hanya memberikan nilai tambah terhadap berbagai produk-produk rempah asli Indonesia sehingga dapat menjadi daya tarik kunjungan wisatawan khususnya dalam bingkai wisata kesehatan. Tapi juga memberikan dampak yang besar terhadap petani-petani lokal sebagai mitra.
"Hal ini sejalan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia ke depan yang berfokus pada pariwisata berkualitas dan berkelanjutan," kata Wamenparekraf Angela.
Melalui kemitraan dengan kelompok tani, Agradaya hingga kini telah berhasil memproduksi berbagai produk olahan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, temulawak, cengkeh, kapulaga, dan lainnya untuk dihasilkan dalam bentuk essential oil, herbal drink, dan ekstrak power.
Pengembangan pun terus dilakukan dengan menjadi berbagai minuman yang kerap jadi favorit milenial. Seperti turmeric latter, chocolate ginger, serta perpaduan kopi, susu dan kunyit.
Namun yang paling menarik adalah bagaimana Agradaya membangun kemitraan dengan petani lokal dengan memberikan pelatihan dan pendampingan sehingga posisi tawar para petani semakin meningkat. Mulai dari pola pertanian alami (organic farming) dan manajemen lahan kepada petani binaan, serta pemanfaatan teknologi solar dryer house untuk melakukan pengeringan bahan-bahan rempah.
Baca juga: Angela Tanoesoedibjo Puji Generasi Muda yang Mampu Implementasikan Sustainable Agriculture
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo saat melakukan kunjungan ke Agradaya di Desa Sendangrejo, Minggir, Yogyakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, kehadiran Agradaya tidak hanya memberikan nilai tambah terhadap berbagai produk-produk rempah asli Indonesia sehingga dapat menjadi daya tarik kunjungan wisatawan khususnya dalam bingkai wisata kesehatan. Tapi juga memberikan dampak yang besar terhadap petani-petani lokal sebagai mitra.
"Hal ini sejalan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia ke depan yang berfokus pada pariwisata berkualitas dan berkelanjutan," kata Wamenparekraf Angela.
Melalui kemitraan dengan kelompok tani, Agradaya hingga kini telah berhasil memproduksi berbagai produk olahan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, temulawak, cengkeh, kapulaga, dan lainnya untuk dihasilkan dalam bentuk essential oil, herbal drink, dan ekstrak power.
Pengembangan pun terus dilakukan dengan menjadi berbagai minuman yang kerap jadi favorit milenial. Seperti turmeric latter, chocolate ginger, serta perpaduan kopi, susu dan kunyit.
Namun yang paling menarik adalah bagaimana Agradaya membangun kemitraan dengan petani lokal dengan memberikan pelatihan dan pendampingan sehingga posisi tawar para petani semakin meningkat. Mulai dari pola pertanian alami (organic farming) dan manajemen lahan kepada petani binaan, serta pemanfaatan teknologi solar dryer house untuk melakukan pengeringan bahan-bahan rempah.
Lihat Juga :