Kembangkan Pangan Lokal, Kementan Tingkatkan Produksi Ubi Kayu
Kamis, 04 Juni 2020 - 10:57 WIB
loading...
Ilustrasi petani singkong. Foto/Okezone
A
A
A
JAKARTA - Pengembangan pangan lokal menjadi salah satu program yang sedang digaungkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah pandemi Covid-19. Beberapa jenis komoditas pangan lokal menjadi andalan untuk dikembangkan saat ini seperti ubi kayu, ubijalar, talas, ganyong, porang, sagu dan lainnya.
Seperti halnya ubi kayu, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, komoditas ini patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus. Ubi kayu ini gampang budidayanya, tidak memerlukan lahan yang spesifik dan bahkan bisa ditanam di pekarangan rumah.
“Mari kita mulai manfaatkan lahan yang ada, salah satunya ya dengan nanam ubi kayu ini,” ujar Suwandi di Jakarta, kemarin. (Baca: Pelaksanaan Ibadah Haji Ditunda, Menag Diharapkan Beri Penjelasan ke DPR)
Perlu diketahui bahwa luas panen ubi kayu di Indonesia tahun 2019 seluas 0,63 juta hectare (ha) dengan produksi 16,35 juta ton. Varietas yang umum digunakan Adira 1, 2, 4, UJ 3, 5, Malang 1, 2,4,6, Darul Hidayah, Litbang UK 2. Ubi kayu banyak ditemukan pengembangan skala luas di di Lampung Tengah, Lampung Utara, Lampung Timur, Wonogiri, Gunungkidul, Serdang Bedagai, Simalungun, Sikka dan lainnya
Pengembangan ubikayu memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa tantangan seperti bibit unggul bersertifikat, kondisi harga, umur panen panjang, produktivitas perlu ditingkatkan dan penanganan pascapanen. Namun Suwandi optimistis ubikayu bisa menjadi komoditas primadona asalkan dikelola dengan baik.
Menariknya, sambung Suwandi, ada salah satu jenis varietas yang bisa mencapai produktivitas 102 ton dan umur panen 10 bulan yaitu varietas Darul Hidayah. Jenis singkong ini sudah banyak dibudidayakan, umbinya besar-besar sehingga harus menyediakan lokasi lahan yang cukup luas karena harus bisa menampung umbi yang cukup besar di dalam tanah. “Jenis singkong ini banyak dipakai untuk industri mocaf (modified cassava flour,” jelasnya. (Baca juga: SYL: Stok 11 Komoditi Pangan Aman Terkendali)
Oleh karena itu, Suwandi mendorong petani lokal untuk bisa meningkatkan produktivitas ubikayu. Salah satunya dengan pemilihan varietas tersebut dan pemupukan. Jika rata-rata produktivitas ubikayu 26 ton per ha maka bisa ditingkatkan lagi.
Seperti halnya ubi kayu, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, komoditas ini patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus. Ubi kayu ini gampang budidayanya, tidak memerlukan lahan yang spesifik dan bahkan bisa ditanam di pekarangan rumah.
“Mari kita mulai manfaatkan lahan yang ada, salah satunya ya dengan nanam ubi kayu ini,” ujar Suwandi di Jakarta, kemarin. (Baca: Pelaksanaan Ibadah Haji Ditunda, Menag Diharapkan Beri Penjelasan ke DPR)
Perlu diketahui bahwa luas panen ubi kayu di Indonesia tahun 2019 seluas 0,63 juta hectare (ha) dengan produksi 16,35 juta ton. Varietas yang umum digunakan Adira 1, 2, 4, UJ 3, 5, Malang 1, 2,4,6, Darul Hidayah, Litbang UK 2. Ubi kayu banyak ditemukan pengembangan skala luas di di Lampung Tengah, Lampung Utara, Lampung Timur, Wonogiri, Gunungkidul, Serdang Bedagai, Simalungun, Sikka dan lainnya
Pengembangan ubikayu memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa tantangan seperti bibit unggul bersertifikat, kondisi harga, umur panen panjang, produktivitas perlu ditingkatkan dan penanganan pascapanen. Namun Suwandi optimistis ubikayu bisa menjadi komoditas primadona asalkan dikelola dengan baik.
Menariknya, sambung Suwandi, ada salah satu jenis varietas yang bisa mencapai produktivitas 102 ton dan umur panen 10 bulan yaitu varietas Darul Hidayah. Jenis singkong ini sudah banyak dibudidayakan, umbinya besar-besar sehingga harus menyediakan lokasi lahan yang cukup luas karena harus bisa menampung umbi yang cukup besar di dalam tanah. “Jenis singkong ini banyak dipakai untuk industri mocaf (modified cassava flour,” jelasnya. (Baca juga: SYL: Stok 11 Komoditi Pangan Aman Terkendali)
Oleh karena itu, Suwandi mendorong petani lokal untuk bisa meningkatkan produktivitas ubikayu. Salah satunya dengan pemilihan varietas tersebut dan pemupukan. Jika rata-rata produktivitas ubikayu 26 ton per ha maka bisa ditingkatkan lagi.
Lihat Juga :