Kembangkan Pangan Lokal, Kementan Tingkatkan Produksi Ubi Kayu

loading...
Kembangkan Pangan Lokal, Kementan Tingkatkan Produksi Ubi Kayu
Ilustrasi petani singkong. Foto/Okezone
JAKARTA - Pengembangan pangan lokal menjadi salah satu program yang sedang digaungkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah pandemi Covid-19. Beberapa jenis komoditas pangan lokal menjadi andalan untuk dikembangkan saat ini seperti ubi kayu, ubijalar, talas, ganyong, porang, sagu dan lainnya.

Seperti halnya ubi kayu, menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, komoditas ini patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus. Ubi kayu ini gampang budidayanya, tidak memerlukan lahan yang spesifik dan bahkan bisa ditanam di pekarangan rumah.

“Mari kita mulai manfaatkan lahan yang ada, salah satunya ya dengan nanam ubi kayu ini,” ujar Suwandi di Jakarta, kemarin. (Baca: Pelaksanaan Ibadah Haji Ditunda, Menag Diharapkan Beri Penjelasan ke DPR)

Perlu diketahui bahwa luas panen ubi kayu di Indonesia tahun 2019 seluas 0,63 juta hectare (ha) dengan produksi 16,35 juta ton. Varietas yang umum digunakan Adira 1, 2, 4, UJ 3, 5, Malang 1, 2,4,6, Darul Hidayah, Litbang UK 2. Ubi kayu banyak ditemukan pengembangan skala luas di di Lampung Tengah, Lampung Utara, Lampung Timur, Wonogiri, Gunungkidul, Serdang Bedagai, Simalungun, Sikka dan lainnya

Pengembangan ubikayu memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa tantangan seperti bibit unggul bersertifikat, kondisi harga, umur panen panjang, produktivitas perlu ditingkatkan dan penanganan pascapanen. Namun Suwandi optimistis ubikayu bisa menjadi komoditas primadona asalkan dikelola dengan baik.



Menariknya, sambung Suwandi, ada salah satu jenis varietas yang bisa mencapai produktivitas 102 ton dan umur panen 10 bulan yaitu varietas Darul Hidayah. Jenis singkong ini sudah banyak dibudidayakan, umbinya besar-besar sehingga harus menyediakan lokasi lahan yang cukup luas karena harus bisa menampung umbi yang cukup besar di dalam tanah. “Jenis singkong ini banyak dipakai untuk industri mocaf (modified cassava flour,” jelasnya. (Baca juga: SYL: Stok 11 Komoditi Pangan Aman Terkendali)

Oleh karena itu, Suwandi mendorong petani lokal untuk bisa meningkatkan produktivitas ubikayu. Salah satunya dengan pemilihan varietas tersebut dan pemupukan. Jika rata-rata produktivitas ubikayu 26 ton per ha maka bisa ditingkatkan lagi.

“Kita bisa pakai bibit yang bagus, seperti bibit gajah ataupun bibit Darul Hidayah dan sejenisnya, supaya bisa lebih kompetitif dengan produk luar,” terangnya.

Lebih lanjut Suwandi menyebutkan industri singkong saat ini sudah banyak. Oleh karena itu perlu didorong penyediaan bahan baku dari dalam negeri. Industri olahan singkong di Indonesia saat ini ada 21 unit, dominan di Lampung 8 unit dan di Jawa Barat 8 unit.

Kementan mulai menggandeng industri singkong untuk mulai bermitra dengan petani. Dalam hal proses produksi tahun ini akan disalurkan bantuan budidaya ubikayu seluas 11.175 ha di Aceh, Sumut, Lampung, Kalbar, Sulteng, Sulsel, Sultra, NTB, NTT, Banten, Babel, Kepri, dan Sulbar dengan total anggaran Rp12,8 miliar. Kementan juga mendorong pemanfaatan KUR bagi pengembangan ubikayu, dan catatan menunjukkan sampai dengan akhir Mei 2020 realisasi KUR ubi kayu sebanyak Rp321,8 miliar. (Baca juga: Penuhi Pasokan Pangan, Mentan Akan Sederhanakan Rantai Distribusi)



Di hilir, Kementan mendorong kemitraan, sinergi dunia usaha dengan pihak terkait termasuk dengan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI). “Pangan lokal ubi kayu ini kuncinya ada pada market driven, sehingga fokus pada sisi demand,” tegasnya. (Sudarsono)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top