Emak-emak Curhat: Sudah Hemat Pakai Minyak Goreng tapi Harganya Makin Naik
Selasa, 09 November 2021 - 18:05 WIB
loading...
A
A
A
"Ini bukan naik lagi saya sebutnya, tapi sudah ganti harga. Dan ini merugikan sekali bagi para pedagang, termasuk pembeli. Apalagi pedagang-pedagang jajanan gorengan, nasi goreng, itu kalau beli minyak di sini. Mereka ngeluh," tuturnya.
Baca juga: Kemendag Ungkap Biang Keladi Melonjaknya Harga Minyak Goreng
Adapun minyak goreng yang dijual di warungnya untuk kemasan 2 liter dibanderol Rp33.000, naik dari sebelumnya Rp30.000. "Besok kalau saya beli untuk tambah stok, pasti harganya berubah lagi," tukasnya.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyanakan kenaikan harga minyak goreng yang terjadi saat ini lebih dikarenakan harga internasional yang naik cukup tajam. Menurut Kemendag, tren kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sudah terjadi sejak Mei 2020. Hal ini disebabkan turunnya pasokan minyak sawit dunia seiring penurunan produksi sawit Malaysia sebagai salah satu penghasil CPO terbesar.
Tak hanya itu, faktor pemicu lainnya juga karena rendahnya stok minyak nabati lainnya seperti adanya krisis energi di Uni Eropa, China, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Selain itu, gangguan logistik selama pandemi Covid-19 seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal.
Baca juga: Kemendag Ungkap Biang Keladi Melonjaknya Harga Minyak Goreng
Adapun minyak goreng yang dijual di warungnya untuk kemasan 2 liter dibanderol Rp33.000, naik dari sebelumnya Rp30.000. "Besok kalau saya beli untuk tambah stok, pasti harganya berubah lagi," tukasnya.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyanakan kenaikan harga minyak goreng yang terjadi saat ini lebih dikarenakan harga internasional yang naik cukup tajam. Menurut Kemendag, tren kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sudah terjadi sejak Mei 2020. Hal ini disebabkan turunnya pasokan minyak sawit dunia seiring penurunan produksi sawit Malaysia sebagai salah satu penghasil CPO terbesar.
Tak hanya itu, faktor pemicu lainnya juga karena rendahnya stok minyak nabati lainnya seperti adanya krisis energi di Uni Eropa, China, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Selain itu, gangguan logistik selama pandemi Covid-19 seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal.
(ind)
Lihat Juga :