Nambah Lagi, Utang Luar Negeri RI Bengkak Tembus Rp6.000 Triliun
Senin, 15 November 2021 - 11:19 WIB
loading...
Utang Luar Negeri Indonesia meningkat 3,7 persen menjadi USD423,1 miliar atau setara Rp6.000 triliun di kuartal III 2021. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat 3,7 persen menjadi USD423,1 miliar atau setara Rp6.000 triliun (kurs (Rp14.189 per dolar AS) pada akhir kuartal III 2021. Adapun secara kuartal utang tumbuh 2 persen.
Direktur Eksekutif Bank Indonesia Erwin Haryono mengungkapkan pertumbuhan utang disebabkan kenakan pertumbuhan ULN di sektor publik dan swasta. ULN pemerintah tercatat sebesar USD205,5 miliar atau naik 4,1 persen secara tahunan pada kuartal III 2021.
"Kenaikan terjadi karena pembayaran neto pinjaman seiring lebih tingginya pinjaman yang jatuh tempo dibandingkan penarikan pinjaman," kata dia melelui pernyataan resmi, Senin (15/11/2021).
Baca Juga: Benarkah Utang RI Rp6.711 Triliun Sudah Izin ke Rakyat? Cek Fakta Berikut
Menurut dia hal itu terjadi akibat penerbitan Global Bonds, termasuk Sustainable Development Goals (SDG) Bond sebesar 500 juta Euro, yang merupakan salah satu penerbitan SDG Bond konvensional pertama di Asia. Penerbitan SDG Bond ini menunjukkan upaya Indonesia dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan dan langkah yang signifikan dalam pencapaian SDG.
Utang tersebut digunakan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah, termasuk kelanjutan upaya mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), antara lain mencakup dukungan pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 17,9 persen dari total ULN Pemerintah, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 17,3 persen, sektor jasa pendidikan 16,5 persen, sektor konstruksi 15,5 persen dan sektor jasa keuangan dan asuransi 12,1 persen.
"Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN Pemerintah aman karena hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah," kata dia.
Direktur Eksekutif Bank Indonesia Erwin Haryono mengungkapkan pertumbuhan utang disebabkan kenakan pertumbuhan ULN di sektor publik dan swasta. ULN pemerintah tercatat sebesar USD205,5 miliar atau naik 4,1 persen secara tahunan pada kuartal III 2021.
"Kenaikan terjadi karena pembayaran neto pinjaman seiring lebih tingginya pinjaman yang jatuh tempo dibandingkan penarikan pinjaman," kata dia melelui pernyataan resmi, Senin (15/11/2021).
Baca Juga: Benarkah Utang RI Rp6.711 Triliun Sudah Izin ke Rakyat? Cek Fakta Berikut
Menurut dia hal itu terjadi akibat penerbitan Global Bonds, termasuk Sustainable Development Goals (SDG) Bond sebesar 500 juta Euro, yang merupakan salah satu penerbitan SDG Bond konvensional pertama di Asia. Penerbitan SDG Bond ini menunjukkan upaya Indonesia dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan dan langkah yang signifikan dalam pencapaian SDG.
Utang tersebut digunakan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah, termasuk kelanjutan upaya mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), antara lain mencakup dukungan pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 17,9 persen dari total ULN Pemerintah, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 17,3 persen, sektor jasa pendidikan 16,5 persen, sektor konstruksi 15,5 persen dan sektor jasa keuangan dan asuransi 12,1 persen.
"Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN Pemerintah aman karena hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah," kata dia.
Lihat Juga :