Proyeksi Bank Mandiri: Ekonomi RI Kuartal IV 2021 Tumbuh 5,04%
Rabu, 08 Desember 2021 - 16:41 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan dari sisi inflasi di dalam negeri juga masih relatif terkendali. Sampai dengan bulan November 2021, tercatat mengalami kenaikan menjadi 1,75% yoy masih di bawah target Bank Indonesia. "Inflasi masih akan tetap terkendali dan berada di bawah target BI sampai dengan akhir tahun 2021," kata dia.
Dari sisi eksternal, kata dia, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan surplus yang terus meningkat. Pada Oktober 2021, surplus neraca perdagangan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD5,7 miliar.
Adapun neraca transaksi berjalan Indonesia pada triwulan III 2021 mengalami surplus USD4,47 miliar atau 1,49% terhadap PDB, didorong oleh peningkatan surplus neraca barang. Kondisi saat ini diperkirakan akan mampu menahan gejolak pasar yang timbul karena dampak dari normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju khususnya Amerika Serikat (AS).
Tak hanya itu, kebijakan moneter dan fiskal masih tetap akomodatif di tengah masih tingginya risiko ketidakpastian pandemi. Inflasi yang terkendali memberi ruang kepada BI untuk tetap menahan suku bunga kebijakan pada level terendah sepanjang sejarah pada 3.5% untuk mendukung pemulihan ekonomi.
Di sisi fiskal, realisasi belanja Pemerintah terus ditingkatkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Kontribusi APBN terhadap pemulihan ekonomi antara lain juga didukung oleh kinerja program-program penanganan Covid-19. "Realisasi PEN sampai dengan tanggal 19 November 2021 telah mencapai Rp495,8 triliun atau 67% dari pagu yang sebesar Rp744,8 triliun," jelasnya.
Dari sisi eksternal, kata dia, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan surplus yang terus meningkat. Pada Oktober 2021, surplus neraca perdagangan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD5,7 miliar.
Adapun neraca transaksi berjalan Indonesia pada triwulan III 2021 mengalami surplus USD4,47 miliar atau 1,49% terhadap PDB, didorong oleh peningkatan surplus neraca barang. Kondisi saat ini diperkirakan akan mampu menahan gejolak pasar yang timbul karena dampak dari normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju khususnya Amerika Serikat (AS).
Tak hanya itu, kebijakan moneter dan fiskal masih tetap akomodatif di tengah masih tingginya risiko ketidakpastian pandemi. Inflasi yang terkendali memberi ruang kepada BI untuk tetap menahan suku bunga kebijakan pada level terendah sepanjang sejarah pada 3.5% untuk mendukung pemulihan ekonomi.
Di sisi fiskal, realisasi belanja Pemerintah terus ditingkatkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Kontribusi APBN terhadap pemulihan ekonomi antara lain juga didukung oleh kinerja program-program penanganan Covid-19. "Realisasi PEN sampai dengan tanggal 19 November 2021 telah mencapai Rp495,8 triliun atau 67% dari pagu yang sebesar Rp744,8 triliun," jelasnya.
Lihat Juga :