Inovasi Sosial PEP Prabumulih, Atasi Sampah dan Angkat Ekonomi Masyarakat
Kamis, 09 Desember 2021 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
"Dengan program Pak Dalang, kami bisa mengolah 466,06 ton sa,pah anorganik. Dan kami juga bisa mengklaim bahwa program ini bisa meningkatkan pendapatan pemulung hingga 200%," ujarnya.
Sementara melalui Program Sarah, lanjut dia, ibu-ibu di Majasari mampu memanfaatkan kulit nanas untuk diolah menjadi minuman probiotik. Selain itu, mengolah ampas tahu menjadi makanan yang bernilai gizi dan menjadi oleh-oleh khas dari Prabumulih.
Kontribusi program tersebut diakui oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Prabumulih Dwi Koryana. Dia mengatakan, dengan mengembangkan program Pesat ini diharapkan ada pengurangan sampah kota hingga 30% di 2025. Dia menambahkan, Keberhasilan program Pak Dalang ini menjadikan Prabumulih satu-satunya kota di Sumatera yang dapat dana insentif daerah. Bahkan, kata dia, Romdoni sebagai local hero di balik program ini berhasil meraih penghargaan Kalpataru.
Romdoni, sang local hero, mengungkapkan kiprahnya dalam pengelolaan sampah dimulai pada 2008. Dirinya yang saat itu masih menjadi petani karet beralih menggeluti pengelolaan sampah ketika harga karet turun drastis. "Di Prabumulih banyak penggiat sampah, sampah umum yang banyak dikenal orang yang diabaikan dianggap tidak ada nilai ekonominya," ujarnya.
Romdoni pun tergerak belajar mengolah sampah hingga Malang dan ikut dalam Asosiasi Pengusaha Daur Ulang Plastik Indonesia untuk menimba ilmu mengolah sampah plastik. Sampai akhirnya Pemerintah Kota Prabumulih memperhatikan apa yang dilakukannya dan diminta untuk membantu pengelolaan sampah di Prabumulih. "Pertamina Prabumulih Field lalu ikut gabung dan terciptalah program Pak Dalang," jelasnya.
Sementara, Syamsul Asinar, local hero di program Sarah mengatakan bahwa jika program Pak Dalang fokus mengolah sampah anorganik, maka program Sarah mengolah sampah organik menjadi kompos. "Program ini bisa mendukung urban farming dan mendukung masalah para petani karet. Program ini kemudian direplikasi oleh kelompok perempuan, kebetulan pada masa pandemi ibu-ibu banyak di rumah," kata dia.
Sementara melalui Program Sarah, lanjut dia, ibu-ibu di Majasari mampu memanfaatkan kulit nanas untuk diolah menjadi minuman probiotik. Selain itu, mengolah ampas tahu menjadi makanan yang bernilai gizi dan menjadi oleh-oleh khas dari Prabumulih.
Kontribusi program tersebut diakui oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Prabumulih Dwi Koryana. Dia mengatakan, dengan mengembangkan program Pesat ini diharapkan ada pengurangan sampah kota hingga 30% di 2025. Dia menambahkan, Keberhasilan program Pak Dalang ini menjadikan Prabumulih satu-satunya kota di Sumatera yang dapat dana insentif daerah. Bahkan, kata dia, Romdoni sebagai local hero di balik program ini berhasil meraih penghargaan Kalpataru.
Romdoni, sang local hero, mengungkapkan kiprahnya dalam pengelolaan sampah dimulai pada 2008. Dirinya yang saat itu masih menjadi petani karet beralih menggeluti pengelolaan sampah ketika harga karet turun drastis. "Di Prabumulih banyak penggiat sampah, sampah umum yang banyak dikenal orang yang diabaikan dianggap tidak ada nilai ekonominya," ujarnya.
Romdoni pun tergerak belajar mengolah sampah hingga Malang dan ikut dalam Asosiasi Pengusaha Daur Ulang Plastik Indonesia untuk menimba ilmu mengolah sampah plastik. Sampai akhirnya Pemerintah Kota Prabumulih memperhatikan apa yang dilakukannya dan diminta untuk membantu pengelolaan sampah di Prabumulih. "Pertamina Prabumulih Field lalu ikut gabung dan terciptalah program Pak Dalang," jelasnya.
Sementara, Syamsul Asinar, local hero di program Sarah mengatakan bahwa jika program Pak Dalang fokus mengolah sampah anorganik, maka program Sarah mengolah sampah organik menjadi kompos. "Program ini bisa mendukung urban farming dan mendukung masalah para petani karet. Program ini kemudian direplikasi oleh kelompok perempuan, kebetulan pada masa pandemi ibu-ibu banyak di rumah," kata dia.
Lihat Juga :