Duh, Kenaikan Harga Pangan Masih Akan Berlanjut Tahun Ini
Selasa, 04 Januari 2022 - 13:39 WIB
loading...
Minyak goreng jadi salah satu bahan pangan yang kenaikan harganya sangat tinggi. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pengamat dari IPB , Sahara, mengatakan tren harga pangan tinggi disebabkan meningkatnya permintaan akibat mobilitas masyarakat yang naik. Sementara, di sisi suplainya terjadi kontraksi.
Baca juga: 5 Bahan Pangan yang Harganya Naik di 2021, Cabai Rawit Paling Melejit
"Makanan minuman jadi penyumbang utama inflasi. Ini dampak mobilitas masyarakat akibat momen Nataru, sehingga permintaan produk pangan melonjak namun suplainya terkontraksi. Trennya sama dengan di global, yaitu bulan November dan Desember. Indeks harga pangan tinggi, seperti daging, sereal, minyak sayur, dan produk dairy naik," ujar Sahara dalam live IDX Channel di Jakarta, Selasa (4/1/2021).
Lebih lanjut dia mengingatkan harga pangan tinggi saat ini berisiko berlanjut ke depannya. Pasalnya, faktor global, yaitu pupuk sebagai komponen utama produksi pangan, harganya tengah naik, khususnya di negara berkembang. Kemudian juga terdapat kenaikan harga energi, pestisida, obat-obatan, dan pengaruh kondisi cuaca.
"Harga pupuk meningkat pesat bisa membuat kenaikan harga pangan jangka panjang," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, kelompok pengeluaran makanan dan minuman, komoditas penyumbang utama inflasi adalah cabai rawit, minyak goreng, dan telur ayam ras. Cabai rawit menyumbang 0,11%, minyak goreng sebesar 0,8%, dan telur ayam ras sebesar 0,05% terhadap inflasi pada Desember 2021.
Baca juga: Waspada, Pasien Covid-19 di RSDC Wisma Atlet Bertambah 90 Orang
"Inflasi untuk ayam dan telur disebabkan kenaikan harga pakan sehingga produksi ayam telur tidak bisa digenjot di saat permintaan sedang naik," katanya.
Baca juga: 5 Bahan Pangan yang Harganya Naik di 2021, Cabai Rawit Paling Melejit
"Makanan minuman jadi penyumbang utama inflasi. Ini dampak mobilitas masyarakat akibat momen Nataru, sehingga permintaan produk pangan melonjak namun suplainya terkontraksi. Trennya sama dengan di global, yaitu bulan November dan Desember. Indeks harga pangan tinggi, seperti daging, sereal, minyak sayur, dan produk dairy naik," ujar Sahara dalam live IDX Channel di Jakarta, Selasa (4/1/2021).
Lebih lanjut dia mengingatkan harga pangan tinggi saat ini berisiko berlanjut ke depannya. Pasalnya, faktor global, yaitu pupuk sebagai komponen utama produksi pangan, harganya tengah naik, khususnya di negara berkembang. Kemudian juga terdapat kenaikan harga energi, pestisida, obat-obatan, dan pengaruh kondisi cuaca.
"Harga pupuk meningkat pesat bisa membuat kenaikan harga pangan jangka panjang," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, kelompok pengeluaran makanan dan minuman, komoditas penyumbang utama inflasi adalah cabai rawit, minyak goreng, dan telur ayam ras. Cabai rawit menyumbang 0,11%, minyak goreng sebesar 0,8%, dan telur ayam ras sebesar 0,05% terhadap inflasi pada Desember 2021.
Baca juga: Waspada, Pasien Covid-19 di RSDC Wisma Atlet Bertambah 90 Orang
"Inflasi untuk ayam dan telur disebabkan kenaikan harga pakan sehingga produksi ayam telur tidak bisa digenjot di saat permintaan sedang naik," katanya.
(uka)
Lihat Juga :