ID Food Beberkan Rumusan Transformasi Industri Gula Nasional
Sabtu, 15 Januari 2022 - 23:53 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Utama ID Food sekaligus Ketua Dewan Pengarah AGI, Arief Prasetyo Adi mencatat beberapa poin dalam rumusan itu diantaranya resiliensi sektor pangan di era pandemi mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional, dengan pertumbuhan sebesar 14%, di mana subsektor perkebunan menyumbang 26,5% terhadap PDB Pertanian secara keseluruhan.
“Di bidang pergulaan, upaya peningkatan perlu terus ditingkatkan melalui perluasan lahan, revitalisasi sarana produksi, kemitraan dan sinergi BUMN. Selain itu, pembentukan Holding Pangan diharapkan dapat terus bersinergi dengan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem pangan nasional, termasuk memberdayakan BUMDES untuk meningkatkan nilai tukar petani Tebu,” jelas dia.
Baca juga: Kejar Target Produksi 1,8 Juta Ton di 2025, PTPN III Restrukturisasi Bisnis Gula
Rumusan lainnya sebagai upaya transformasi industri gula nasional adalah melalui penyediaan lahan tebu untuk pengembangan areal, disamping melalui kemitraan dengan petani tebu, juga dimungkinkan untuk memanfaatkan lahan Area Penggunaan Lain (APL), lahan HGU, lahan hutan Produksi/Perhutani/Inhutani dan lahan adat/ulayat.
Menurut Arief, para pelaku industri gula menilai bahwa isu Industri gula nasional yang masih dihadapi antara lain produktivitas yang rendah di kisaran 72 ton per ha, rendemen tebu rendah di kisaran 7,30%, tidak tercapainya optimalisasi kapasitas giling khususnya PG-PG di Jawa karena pasokan tebu yang kurang, hingga keterbatasan kemampuan pendanaan dan inefisiensi produksi.
Untuk itu, lanjut Arief, para pelaku industri gula baik asosiasi maupun BUMN yang bergerak di industri gula perlu melakukan transformasi untuk menciptakan ekosistem gula yang terintegrasi melalui sinergi industri gula dalam mengoptimalisasi lahan tebu, peningkatan peran petani tebu rakyat melalui perbaikan hubungan kemitraan.
Lalu, penerapan inovasi dan teknologi future practices berbasis teknologi digital sepanjang rantai nilai Industri gula, serta dukungan kemampuan pendanaan bagi Industri gula, antara lain dengan mengimplementasikan PP No. 24/2015 tentang penghimpunan dana perkebunan.
“Di bidang pergulaan, upaya peningkatan perlu terus ditingkatkan melalui perluasan lahan, revitalisasi sarana produksi, kemitraan dan sinergi BUMN. Selain itu, pembentukan Holding Pangan diharapkan dapat terus bersinergi dengan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem pangan nasional, termasuk memberdayakan BUMDES untuk meningkatkan nilai tukar petani Tebu,” jelas dia.
Baca juga: Kejar Target Produksi 1,8 Juta Ton di 2025, PTPN III Restrukturisasi Bisnis Gula
Rumusan lainnya sebagai upaya transformasi industri gula nasional adalah melalui penyediaan lahan tebu untuk pengembangan areal, disamping melalui kemitraan dengan petani tebu, juga dimungkinkan untuk memanfaatkan lahan Area Penggunaan Lain (APL), lahan HGU, lahan hutan Produksi/Perhutani/Inhutani dan lahan adat/ulayat.
Menurut Arief, para pelaku industri gula menilai bahwa isu Industri gula nasional yang masih dihadapi antara lain produktivitas yang rendah di kisaran 72 ton per ha, rendemen tebu rendah di kisaran 7,30%, tidak tercapainya optimalisasi kapasitas giling khususnya PG-PG di Jawa karena pasokan tebu yang kurang, hingga keterbatasan kemampuan pendanaan dan inefisiensi produksi.
Untuk itu, lanjut Arief, para pelaku industri gula baik asosiasi maupun BUMN yang bergerak di industri gula perlu melakukan transformasi untuk menciptakan ekosistem gula yang terintegrasi melalui sinergi industri gula dalam mengoptimalisasi lahan tebu, peningkatan peran petani tebu rakyat melalui perbaikan hubungan kemitraan.
Lalu, penerapan inovasi dan teknologi future practices berbasis teknologi digital sepanjang rantai nilai Industri gula, serta dukungan kemampuan pendanaan bagi Industri gula, antara lain dengan mengimplementasikan PP No. 24/2015 tentang penghimpunan dana perkebunan.
Lihat Juga :