Pandemi Corona, Bank Thailand Ramai-ramai Akusisi Perbankan Indonesia
Kamis, 23 April 2020 - 17:37 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Sekretaris Perusahaan Astra International Gita Tiffani Boer, perseroan bersama Standard Chartered dan Bangkok Bank telah menandatangani amendment to conditional sales purchase agreement pada 20 April 2020. Dalam CSPA tersebut transaksi penjualan saham BNLI ditargetkan tuntas sebelum 30 Juni 2020. Seperti diketahui sejak 2018 lalu Standard Chartered memang ingin melepas kepemilikan sahamnya di Bank Permata. Sejumlah korporasi besar pun sempat tertarik untuk membeli BNLI. Sebut saja Bank BRI, DBS Bank bank terbesar di Singapura, lalu ada Bank Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) yang juga asal Singapura dan Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMBC) asal Jepang. Namun akhirnya saham BNLI berlabuh di Bangkok Bank.
Nama Bangkok Bank baru muncul sebagai kandidat pembeli Bank Permata di akhir tahun 2019. Saat itu Bangkok Bank menandatangani CPSA pada 12 Desember 2019. Dalam perjanjian ini harga saham Bank Permata disepakati seebsar 1,77 kali dari book value. Transaksi harus diselesaikan paling lambat 12 bulan setelah CPSA di tandatangani. Berdasarkan kesepakatan ini harga beli Bank Permata ada di angka Rp37,43 triliun.
Dalam perjalanannya, akibat merosotnya kondisi bisnis global, baik karena perang dagang maupun Virus Corona, pemegang saham lama pun menawarkan diskon harga beli kepada Bangkok Bank. Berdasarkan revisi CPSA yang ditandatanagni 23 April , harga jual Bank Permata menjadi hanya 1,63 kali book value atau totalnya menjadi sekitar Rp34 Triliun. Lebih murah Rp3,43 Triliun, namun penyelesian transaksinya lebih cepat, yakni sebelum 30 Juni 2020. Dari kesepakatan ini, Bangkok Bank berhasil membeli Bank Permata dengan harga lebih murah. Sementara Astra Internasional dan Standard Chartered bakal mendapatkan dana segar lebih cepat dari kesepakatan sebelumnya.
Grup Salim Punya Bank Lagi
Pertengahan April lalu (14/4) juga jadi waktu yang penting bagi Group Salim. Saat itu, Pieter Tanuri dan perusahaannya PT Philadel Terra Lestari mengumumkan mundur dari pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) dan pemegang saham pengendali (PSP) pada PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Pengunduran diri Philadel Terra Lestari sebagai PSP dan Pieter Tanuri sebagai PSPT disampaikan oleh Direktur Utama Bank Ina Perdana, Daniel Budirahayu.
Pengunduran diri itu membuat Anthoni Salim kini menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir (ultimate shareholder) dan PT Indolife Pensiontama menjadi pemegang saham pengendali BINA. Setelah terpaksa melepas Bank BCA saat Krismon 1998, kini Salim Group benar-benar memiliki sekaligus menjadi satu-satunya pengendali utama sebuah bank yang tercatat di BEI.
Nama Bangkok Bank baru muncul sebagai kandidat pembeli Bank Permata di akhir tahun 2019. Saat itu Bangkok Bank menandatangani CPSA pada 12 Desember 2019. Dalam perjanjian ini harga saham Bank Permata disepakati seebsar 1,77 kali dari book value. Transaksi harus diselesaikan paling lambat 12 bulan setelah CPSA di tandatangani. Berdasarkan kesepakatan ini harga beli Bank Permata ada di angka Rp37,43 triliun.
Dalam perjalanannya, akibat merosotnya kondisi bisnis global, baik karena perang dagang maupun Virus Corona, pemegang saham lama pun menawarkan diskon harga beli kepada Bangkok Bank. Berdasarkan revisi CPSA yang ditandatanagni 23 April , harga jual Bank Permata menjadi hanya 1,63 kali book value atau totalnya menjadi sekitar Rp34 Triliun. Lebih murah Rp3,43 Triliun, namun penyelesian transaksinya lebih cepat, yakni sebelum 30 Juni 2020. Dari kesepakatan ini, Bangkok Bank berhasil membeli Bank Permata dengan harga lebih murah. Sementara Astra Internasional dan Standard Chartered bakal mendapatkan dana segar lebih cepat dari kesepakatan sebelumnya.
Grup Salim Punya Bank Lagi
Pertengahan April lalu (14/4) juga jadi waktu yang penting bagi Group Salim. Saat itu, Pieter Tanuri dan perusahaannya PT Philadel Terra Lestari mengumumkan mundur dari pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) dan pemegang saham pengendali (PSP) pada PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Pengunduran diri Philadel Terra Lestari sebagai PSP dan Pieter Tanuri sebagai PSPT disampaikan oleh Direktur Utama Bank Ina Perdana, Daniel Budirahayu.
Pengunduran diri itu membuat Anthoni Salim kini menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir (ultimate shareholder) dan PT Indolife Pensiontama menjadi pemegang saham pengendali BINA. Setelah terpaksa melepas Bank BCA saat Krismon 1998, kini Salim Group benar-benar memiliki sekaligus menjadi satu-satunya pengendali utama sebuah bank yang tercatat di BEI.
Lihat Juga :