Sambut Industri 5.0, AMA Tekankan Pentingnya Belajar Cepat dan Beradaptasi
Jum'at, 28 Januari 2022 - 18:18 WIB
loading...
Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) menggelar webinar Learning 5.1, Duluan Tiba di Masa Depan dan pelantikan pengurus AMA Chapter DKI Jakarta. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Teknologi yang berkembang pesat menuntut manusia untuk cepat beradaptasi jika tak ingin ketinggalan zaman dan tidak gagap teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi, dunia saat ini menyongsong hadirnya industri 5.0.
Guna mengetahui karakteristik dan kiat-kiat pembelajaran di era 5.0, Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) Chapter DKI Jakarta pada Rabu (26/1/2022) menggelar webinar bertajuk “Learning 5.1, Duluan Tiba di Masa Depan” yang dibawakan Ketua Umum BPP AMA Alex Denni. Acara ini digelar bersamaan dengan pelantikan pengurus AMA Chapter DKI Jakarta masa jabatan 2022-2025.
Alex Denni mengatakan, merujuk data human resource global index, daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih berada di papan tengah. "Belajar dengan cepat adalah satu-satunya cara untuk dapat menjadikan daya saing sumber daya manusia Indonesia naik ke papan atas, dan seiring dengan itu pula mengangkat Indonesia menjadi bagian elit negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia,” papar Alex, dikutip Jumat (28/1/2022).
Baca juga: 5 Teknologi Kuno yang Bikin Ilmuwan Melongo
Berbicara tentang perjalanan tahapan pembelajaran atau learning di dunia, menurut Alex, saat ini warga dunia tengah berada dalam fase Learning 4.0 dan menuju Learning 5.0.
Industri 5.0 memang belum sepenuhnya hadir. Namun, karakteristiknya telah banyak digambarkan sebagai industri yang didominasi pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang mampu menggantikan peran manusia untuk berhubungan dengan manusia lain (humanoid).
"Terlebih lagi dengan makin luas dan makin tidak terbatasnya akses ilmu pengetahuan di dunia maya. Berbagai ilmu, keterampilan, dan informasi penting lainnya mengenai segala hal kini tidak lagi susah dijangkau, karena telah tersedia lengkap di depan layar komputer atau smartphone masing-masing," tuturnya.
Alex menilai di era yang cepat berubah seperti sekarang ini, pola pembelajaran harus segera berubah tidak seperti akhir-akhir ini, yang masih terpaku antara pengajar dengan peserta belajar. Salah satunya, tidak boleh lagi ada pola pikir perubahan saat ini hanya bisa diikuti kaum muda. "Siapa pun harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang ada," tandasnya.
Baca juga: Moeldoko Tegaskan jika Ingin Bertahan Harus Manfaatkan Platform Digital
Lebih lanjut, Alex menyampaikan, disrupsi digital dan pandemi yang tengah berlangsung mengharuskan manusia untuk dapat belajar cepat dan beradaptasi untuk menghindari kemunduran, serta tetap bisa melakukan transformasi dengan kecepatan penuh.
“Untuk menghadapi dunia yang berubah cepat seperti sekarang dibutuhkan cara berpikir (mindset), keterampilan atau kemahiran (skillset) dan perangkat kerja atau teknologi (toolset) yang baru. Mengadopsi Learning 5.1 adalah solusi atas tantangan tersebut,” tegasnya.
“Learning 5.1 mengajarkan kepada kita untuk dapat menembus batas pemikiran, menerobos konversi dan kesepakatan, mengubah kebiasaan dan mentransformasi cara belajar yang ketinggalan jaman,” imbuhnya.
Sementara itu, Muhammad Rifqi Alam yang baru saja kembali terpilih sebagai President AMA Indonesia Chapter DKI Jakarta, menegaskan komitmen untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
"Kita dapat memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia ke depannya yang dilandasi oleh program-program unggulan yaitu kesehatan, ekonomi digital, kewirausahaan dan kompetensi," ujarnya usai pengukuhan pengurus AMA Chapter DKI Jakarta.
Guna mengetahui karakteristik dan kiat-kiat pembelajaran di era 5.0, Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) Chapter DKI Jakarta pada Rabu (26/1/2022) menggelar webinar bertajuk “Learning 5.1, Duluan Tiba di Masa Depan” yang dibawakan Ketua Umum BPP AMA Alex Denni. Acara ini digelar bersamaan dengan pelantikan pengurus AMA Chapter DKI Jakarta masa jabatan 2022-2025.
Alex Denni mengatakan, merujuk data human resource global index, daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih berada di papan tengah. "Belajar dengan cepat adalah satu-satunya cara untuk dapat menjadikan daya saing sumber daya manusia Indonesia naik ke papan atas, dan seiring dengan itu pula mengangkat Indonesia menjadi bagian elit negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia,” papar Alex, dikutip Jumat (28/1/2022).
Baca juga: 5 Teknologi Kuno yang Bikin Ilmuwan Melongo
Berbicara tentang perjalanan tahapan pembelajaran atau learning di dunia, menurut Alex, saat ini warga dunia tengah berada dalam fase Learning 4.0 dan menuju Learning 5.0.
Industri 5.0 memang belum sepenuhnya hadir. Namun, karakteristiknya telah banyak digambarkan sebagai industri yang didominasi pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang mampu menggantikan peran manusia untuk berhubungan dengan manusia lain (humanoid).
"Terlebih lagi dengan makin luas dan makin tidak terbatasnya akses ilmu pengetahuan di dunia maya. Berbagai ilmu, keterampilan, dan informasi penting lainnya mengenai segala hal kini tidak lagi susah dijangkau, karena telah tersedia lengkap di depan layar komputer atau smartphone masing-masing," tuturnya.
Alex menilai di era yang cepat berubah seperti sekarang ini, pola pembelajaran harus segera berubah tidak seperti akhir-akhir ini, yang masih terpaku antara pengajar dengan peserta belajar. Salah satunya, tidak boleh lagi ada pola pikir perubahan saat ini hanya bisa diikuti kaum muda. "Siapa pun harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang ada," tandasnya.
Baca juga: Moeldoko Tegaskan jika Ingin Bertahan Harus Manfaatkan Platform Digital
Lebih lanjut, Alex menyampaikan, disrupsi digital dan pandemi yang tengah berlangsung mengharuskan manusia untuk dapat belajar cepat dan beradaptasi untuk menghindari kemunduran, serta tetap bisa melakukan transformasi dengan kecepatan penuh.
“Untuk menghadapi dunia yang berubah cepat seperti sekarang dibutuhkan cara berpikir (mindset), keterampilan atau kemahiran (skillset) dan perangkat kerja atau teknologi (toolset) yang baru. Mengadopsi Learning 5.1 adalah solusi atas tantangan tersebut,” tegasnya.
“Learning 5.1 mengajarkan kepada kita untuk dapat menembus batas pemikiran, menerobos konversi dan kesepakatan, mengubah kebiasaan dan mentransformasi cara belajar yang ketinggalan jaman,” imbuhnya.
Sementara itu, Muhammad Rifqi Alam yang baru saja kembali terpilih sebagai President AMA Indonesia Chapter DKI Jakarta, menegaskan komitmen untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
"Kita dapat memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia ke depannya yang dilandasi oleh program-program unggulan yaitu kesehatan, ekonomi digital, kewirausahaan dan kompetensi," ujarnya usai pengukuhan pengurus AMA Chapter DKI Jakarta.
(ind)
Lihat Juga :