Industri Baja Nasional Cetak Kinerja Gemilang, Investasinya Naik Rp215 Triliun
Sabtu, 05 Februari 2022 - 06:09 WIB
loading...
Data positif investasi sektor baja ini dinilai menunjukan sebuah keberhasilan kebijakan pengendalian impor dengan subtitusi impor terukur yang dilakukan oleh Pemerintah. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Investasi sektor baja pada tahun 2021 berdasarkan data asosiasi baja Indonesia (IISIA) mencapai tercatat USD12 miliar yang diperkirakan naik USD15,2 miliar atau setara dengan Rp215 Triliun. Ekonom Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara menerangkan, data positif investasi sektor baja ini menunjukan sebuah keberhasilan kebijakan pengendalian impor dengan subtitusi impor terukur yang dilakukan oleh Pemerintah.
Menurutnya kinerja investasi di sektor logam dan baja sangat menjanjikan meski masih dalam suasana pandemi Covid -19 yang masuk Indonesia sejak tahun 2020 hingga saat ini. Sambung Surya, dorongan investasi sektor baja didorong oleh demand baja nasional dan ekspor yang terus meningkat terutama di sektor baja hilir.
Baca Juga: Kondisi Industri Baja Nasional: Banjir Produk Luar atau Ketergantungan Impor?
Dari data investasi di sektor logam dan baja tumbuh terus tiap tahunnya dimana tahun 2020 sebesar Rp94,85 triliun dan 2021 mencapai di atas Rp114 triliun. Dimana hal ini memberikan konsrkuensi pemenuhan bahan baku, namun yang disupplai dari industri hulu baja terutama baja carbon dari dalam negeri jauh dari harapan.
Oleh karenanya lanjut Surya, untuk menjaga iklim investasi bahan baku ini harus dipenuhi dengan impor. Dilanjutkan juga olehnya bahwa pertumbuhan investasi di sektor baja sama sekali tidak terpengaruh dengan narasi banjir impor baja yang sering muncul entah apa motifnya perlu didalami.
Sebelumnya, pemerhati perumahan alumni Fakultas Teknik UI, Cindar Hari Prabowo menyampaikan, data BPS tentang data Baja impor tanpa pengendalian pemerintah (tanpa lartas) seperti slab, bilet dan iron ore mengalami peningkatan dari tahun 2019 sebesar 4,7 juta ton menjadi 5,22 juta ton di tahun 2021.
Cindar mengartikan investasi yang ada di sektor hulu baja karbon saat ini bahan bakunya juga dipenuhi dari impor bukan mengolah dari dalam negeri karena hambatan teknis dan ekonomis. Dikatakan juga, oleh pemerhati UI ini bahwa baja yang dilakukan pengendalian pemerintah (dengan lartas) pada tahun 2019 sebesar 7,89 juta ton berhasil dikendalikan sebesar 6,35 juta ton atau turun 19 persen meskipun industri baja dikatagorikan import processing industry.
Menurutnya kinerja investasi di sektor logam dan baja sangat menjanjikan meski masih dalam suasana pandemi Covid -19 yang masuk Indonesia sejak tahun 2020 hingga saat ini. Sambung Surya, dorongan investasi sektor baja didorong oleh demand baja nasional dan ekspor yang terus meningkat terutama di sektor baja hilir.
Baca Juga: Kondisi Industri Baja Nasional: Banjir Produk Luar atau Ketergantungan Impor?
Dari data investasi di sektor logam dan baja tumbuh terus tiap tahunnya dimana tahun 2020 sebesar Rp94,85 triliun dan 2021 mencapai di atas Rp114 triliun. Dimana hal ini memberikan konsrkuensi pemenuhan bahan baku, namun yang disupplai dari industri hulu baja terutama baja carbon dari dalam negeri jauh dari harapan.
Oleh karenanya lanjut Surya, untuk menjaga iklim investasi bahan baku ini harus dipenuhi dengan impor. Dilanjutkan juga olehnya bahwa pertumbuhan investasi di sektor baja sama sekali tidak terpengaruh dengan narasi banjir impor baja yang sering muncul entah apa motifnya perlu didalami.
Sebelumnya, pemerhati perumahan alumni Fakultas Teknik UI, Cindar Hari Prabowo menyampaikan, data BPS tentang data Baja impor tanpa pengendalian pemerintah (tanpa lartas) seperti slab, bilet dan iron ore mengalami peningkatan dari tahun 2019 sebesar 4,7 juta ton menjadi 5,22 juta ton di tahun 2021.
Cindar mengartikan investasi yang ada di sektor hulu baja karbon saat ini bahan bakunya juga dipenuhi dari impor bukan mengolah dari dalam negeri karena hambatan teknis dan ekonomis. Dikatakan juga, oleh pemerhati UI ini bahwa baja yang dilakukan pengendalian pemerintah (dengan lartas) pada tahun 2019 sebesar 7,89 juta ton berhasil dikendalikan sebesar 6,35 juta ton atau turun 19 persen meskipun industri baja dikatagorikan import processing industry.
Lihat Juga :