Konflik Rusia-Ukraina Picu Kenaikan Harga BBM dan LPG
Selasa, 08 Maret 2022 - 17:17 WIB
loading...
A
A
A
BBM jenis Pertamax yang saat ini masih harga normal pun berpotensi turut mengalami kenaikan harga jika ketegangan antara Rusia dengan Ukraina belum mereda.
"Sesuai dengan Peraturan Presiden, tertuang bahwa Pertamina bisa menyesuaikan dengan harga minyak dunia. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk beradaptasi dengan harga yang fluktuatif, karena sangat tergantung dengan harga minyak mentah dunia. Tapi berpeluang turun jika harga minyak dunia juga sudah turun," jelas Taufiq, Selasa (8/3/2022).
Dia melanjutkan, meski harga melesat, tapi Pertamina memastikan terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan seluruh stakeholder agar pasokan BBM dan LPG tetap aman dan selalu tersedia. "Kami berupaya menjaga agar tidak terjadi kelangkaan," sambungnya.
Menghadapi bulan suci Ramadan, di mana stok konsumsi BBM dan LPG biasanya melonjak dibandingkan dengan hari normal, Pertamina sudah menyiapkan tambahan pasokan. Meski demikian, pihaknya tetap meminta kepada Kepolisian dan Pemda untuk melakukan pengawasan pendistribusian BBM dan LPG agar tidak ada oknum yang memanfaatkan kesempatan.
"Mari sama-sama meningkatkan kewaspadaan karena di dalam Perpres juga diatur bahwa tanpa perintah pun, Kepolisian dan Dinas terkait bisa melakukan sidak kepada oknum yang diduga memanfaatkan situasi dengan menimbun," ajak Taufiq.
Sebelumnya, naiknya harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg juga disebut-sebut berpotensi mengalihkan konsumen ke LPG 3 Kg. Meski demikian, sejak terjadi kenaikan harga, konsumsi LPG 5,5 Kg dan 12 Kg masih normal.
"Ada opini bahwa masyarakat bisa saja beralih ke LPG 3 Kg, tapi pantauan data kami itu konsumsi Bright Gas masih bertahan di 12-15 persen per hari, jadi sama dengan normal harian. Jadi tidak mengalami penurunan konsumsi. Jadi menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat non subsidi ini loyal," sebut Taufiq.
"Sesuai dengan Peraturan Presiden, tertuang bahwa Pertamina bisa menyesuaikan dengan harga minyak dunia. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk beradaptasi dengan harga yang fluktuatif, karena sangat tergantung dengan harga minyak mentah dunia. Tapi berpeluang turun jika harga minyak dunia juga sudah turun," jelas Taufiq, Selasa (8/3/2022).
Dia melanjutkan, meski harga melesat, tapi Pertamina memastikan terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan seluruh stakeholder agar pasokan BBM dan LPG tetap aman dan selalu tersedia. "Kami berupaya menjaga agar tidak terjadi kelangkaan," sambungnya.
Menghadapi bulan suci Ramadan, di mana stok konsumsi BBM dan LPG biasanya melonjak dibandingkan dengan hari normal, Pertamina sudah menyiapkan tambahan pasokan. Meski demikian, pihaknya tetap meminta kepada Kepolisian dan Pemda untuk melakukan pengawasan pendistribusian BBM dan LPG agar tidak ada oknum yang memanfaatkan kesempatan.
"Mari sama-sama meningkatkan kewaspadaan karena di dalam Perpres juga diatur bahwa tanpa perintah pun, Kepolisian dan Dinas terkait bisa melakukan sidak kepada oknum yang diduga memanfaatkan situasi dengan menimbun," ajak Taufiq.
Sebelumnya, naiknya harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg juga disebut-sebut berpotensi mengalihkan konsumen ke LPG 3 Kg. Meski demikian, sejak terjadi kenaikan harga, konsumsi LPG 5,5 Kg dan 12 Kg masih normal.
"Ada opini bahwa masyarakat bisa saja beralih ke LPG 3 Kg, tapi pantauan data kami itu konsumsi Bright Gas masih bertahan di 12-15 persen per hari, jadi sama dengan normal harian. Jadi tidak mengalami penurunan konsumsi. Jadi menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat non subsidi ini loyal," sebut Taufiq.
Lihat Juga :