Presidensi G20 Momentum Menggeser Arah Prioritas Investasi
Senin, 28 Maret 2022 - 08:39 WIB
loading...
A
A
A
"Hingga 2020, pandemi Covid-19 menurunkan pencapaian penanggulangan TB. Global Tuberculosis Report 2021 secara tegas memperingatkan kita agar kembali berkomitmen dalam penanganan TB," kata Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama dalam sebuah acara diskusi, di Jakarta, baru-baru ini.
Dokumen Strategi Nasional Penanggulangan (Stratnas) TBC 2020-2024 menunjukkan bahwa dari keseluruhan anggaran yang dibutuhkan untuk penanggulangan tuberkulosis tahun 2019 di Indonesia, proporsi pendanaan dari dalam negeri sebesar 30 persen, sementara pendanaan luar negeri sebesar 13 persen, dan masih terdapat kesenjangan sebesar 57 persen. Hal ini mengisyaratkan bahwa arsitektur kesehatan global memegang peran signifikan dalam meminimalkam kesenjangan kemampuan sumber daya antarnegara.
Indonesia bisa belajar tentang bagaimana menggunakan JKN sebagai sarana pengungkit kualitas dan efisiensi pembiayaan layanan TBC sehingga akses dapat diperluas dan kesinambungan program JKN tetap terjaga. Prof Tjandra mendorong forum tingkat tinggi Health Working Group Meeting (HWG) I yang akan berlangsung di Yogyakarta pada 28-30 Maret 2022 mendatang momentum mendorong prioritas investasi global memperkuat aristektur kesesehatan.
Selain membahas tentang arsitektur kesehatan global sebagai salah satu agenda utama G20 tahun ini, forum HWG I G20 ini juga akan membahas TB secara khusus pada side event yang akan berlangsung 29-30 Maret 2022.
"Apa yang bisa kita hubungkan antara TB dengan presidensi G20 yang saat ini berlangsung di Indonesia? Pertama, tentunya pada G20 ini nantinya kita ingin agar investasi untuk penanggulangan TB di dunia maupun di Indonesia secara angka bisa disepakati di akhir pertemuan G20," jelasnya.
Menurut data organisasi The Golbal Fund, dampak bencana Covid-19 berimbas cukup
signifikan pada investasi melawan TB secara global. Pada 2020 saat pandemi Covid-19 pertama kali melanda dunia, angka perawatan drug-resistant TB pada negara-negara yang mendapat investasi dari Global Fund, turun sebesar 19%. Lalu investasi untuk perawatan lanjutan bagi pasien drug-resistant TB tercatat turun sebesar 39%.
Padahal di tahun 2018 sebelum pandemi Covid-19, pada Konferensi Tingkat Tinggi Dunia untuk Tuberkulosis (United Nation High-Level Meeting on TB/UNHLM), pemimpin dunia sudah berkomitmen untuk berinvestasi sebesar USD15 miliar, tapi yang baru terealisasi kurang dari setengahnya hingga saat ini.
Dokumen Strategi Nasional Penanggulangan (Stratnas) TBC 2020-2024 menunjukkan bahwa dari keseluruhan anggaran yang dibutuhkan untuk penanggulangan tuberkulosis tahun 2019 di Indonesia, proporsi pendanaan dari dalam negeri sebesar 30 persen, sementara pendanaan luar negeri sebesar 13 persen, dan masih terdapat kesenjangan sebesar 57 persen. Hal ini mengisyaratkan bahwa arsitektur kesehatan global memegang peran signifikan dalam meminimalkam kesenjangan kemampuan sumber daya antarnegara.
Indonesia bisa belajar tentang bagaimana menggunakan JKN sebagai sarana pengungkit kualitas dan efisiensi pembiayaan layanan TBC sehingga akses dapat diperluas dan kesinambungan program JKN tetap terjaga. Prof Tjandra mendorong forum tingkat tinggi Health Working Group Meeting (HWG) I yang akan berlangsung di Yogyakarta pada 28-30 Maret 2022 mendatang momentum mendorong prioritas investasi global memperkuat aristektur kesesehatan.
Selain membahas tentang arsitektur kesehatan global sebagai salah satu agenda utama G20 tahun ini, forum HWG I G20 ini juga akan membahas TB secara khusus pada side event yang akan berlangsung 29-30 Maret 2022.
"Apa yang bisa kita hubungkan antara TB dengan presidensi G20 yang saat ini berlangsung di Indonesia? Pertama, tentunya pada G20 ini nantinya kita ingin agar investasi untuk penanggulangan TB di dunia maupun di Indonesia secara angka bisa disepakati di akhir pertemuan G20," jelasnya.
Menurut data organisasi The Golbal Fund, dampak bencana Covid-19 berimbas cukup
signifikan pada investasi melawan TB secara global. Pada 2020 saat pandemi Covid-19 pertama kali melanda dunia, angka perawatan drug-resistant TB pada negara-negara yang mendapat investasi dari Global Fund, turun sebesar 19%. Lalu investasi untuk perawatan lanjutan bagi pasien drug-resistant TB tercatat turun sebesar 39%.
Padahal di tahun 2018 sebelum pandemi Covid-19, pada Konferensi Tingkat Tinggi Dunia untuk Tuberkulosis (United Nation High-Level Meeting on TB/UNHLM), pemimpin dunia sudah berkomitmen untuk berinvestasi sebesar USD15 miliar, tapi yang baru terealisasi kurang dari setengahnya hingga saat ini.
Lihat Juga :