Ada Apa dengan IHSG Usai Terlempar dari Level 7.000, Ini Analisanya
Rabu, 11 Mei 2022 - 06:40 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Efek Domino Kenaikan Suku Bunga The Fed terhadap Pasar Modal Indonesia
William memberi catatan bahwa secara teknikal pola long legged hammer dapat membawa respons positif pelaku pasar yang mengharapkan terjadinya rebound. Namun, penguatan masih harus diuji terlebih dahulu di area resisten psikologis 7.000-an.
"Sehingga untuk hari ini IHSG memiliki peluang untuk rebound, terbatas dengan resistance yang diuji adalah pada 7.000 – 7.060. Jika penguatan masih terbatas di area ini dan mulai melemah kembali, maka arah tren IHSG masih melemah." pungkasnya.
Fundamental
Secara garis besar, fundamental makro dalam negeri terbilang cukup positif di mana pertumbuhan ekonomi hingga kuartal pertama tahun ini mencapai 5,01% yoy. Tetapi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi RI pada April 2022 naik sebesar 0,95% secara bulanan (mtm), menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017, sedangkan secara tahunan (yoy), inflasi RI melejit 3,47% atau terbesar sejak Agustus 2019.
Lonjakan harga bahan pokok seperti minyak goreng, bensin, daging ayam ras, hingga tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama inflasi RI.
"Tantangan paska lebaran adalah berlanjutnya kenaikan harga barang atau inflasi," kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira saat dihubungi MNC Portal Indonesia belum lama ini.
William memberi catatan bahwa secara teknikal pola long legged hammer dapat membawa respons positif pelaku pasar yang mengharapkan terjadinya rebound. Namun, penguatan masih harus diuji terlebih dahulu di area resisten psikologis 7.000-an.
"Sehingga untuk hari ini IHSG memiliki peluang untuk rebound, terbatas dengan resistance yang diuji adalah pada 7.000 – 7.060. Jika penguatan masih terbatas di area ini dan mulai melemah kembali, maka arah tren IHSG masih melemah." pungkasnya.
Fundamental
Secara garis besar, fundamental makro dalam negeri terbilang cukup positif di mana pertumbuhan ekonomi hingga kuartal pertama tahun ini mencapai 5,01% yoy. Tetapi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi RI pada April 2022 naik sebesar 0,95% secara bulanan (mtm), menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017, sedangkan secara tahunan (yoy), inflasi RI melejit 3,47% atau terbesar sejak Agustus 2019.
Lonjakan harga bahan pokok seperti minyak goreng, bensin, daging ayam ras, hingga tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama inflasi RI.
"Tantangan paska lebaran adalah berlanjutnya kenaikan harga barang atau inflasi," kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira saat dihubungi MNC Portal Indonesia belum lama ini.
Lihat Juga :