Tak Dinyana! Lahir di Bekas Kandang Ayam, Pria Ini Kini Kantongi Harta Rp47 Triliun
Selasa, 24 Mei 2022 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Kehidupannya yang kebelangsak membuat keluarganya harus tinggal berpindah-pindah karena tak memiliki tempat tinggal. Pada September 1962, ketika orang tuanya menempati sebuah rumah berukuran kecil yang dahulunya berfungsi sebagai kandang ayam, Hermanto pun lahir. Hunian berlokasi di Kota Malang dengan ukuran 1,5 meter x 9 meter tersebut disewa oleh ayahnya.
Kesusahan yang menyelimuti keluarganya tak menyurutkan tekad sang ayah. Berkat kerja kerasa dan keuletan ayahnya, Hermanto bisa belajar. Sang ayah, Soetikno Tanoko, sempat menjadi petani palawija. Dia harus mengayuh sepeda dari Singosari ke Malang untuk menjual hasil bumi, sedangkan ibunya berjualan pakaian bekas.
Sinar kehidupan mulai menyembul tatkala ayah Hermanto mendirikan usaha kecil dengan membuka toko cat pada 1962 di Malang. Tak mau sang suami berjuang sendirian, ibunya pun membuka toko kelontong dua tahun kemudian.
Usaha cat ini yang mengantarkan Hermanto dan saudaranya sukses. Hermanto yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara ternyata sudah dikenalkan dengan dunia bisnis sejak dini. Sejak usia 5 tahun, angpau yang dia peroleh rutin dibelanjakan untuk membeli beberapa barang dari toko kelontong ibunya yang harganya diperkirakan akan naik seperti terigu, biskuit, telur dan sebagainya.
Sejak saat itu, Hermanto mulai kenal dengan yang namanya investasi. Dia juga diajarkan mengelola bisnia saat berusia 8 tahun dengan membantu ayahnya menjaga toko cat. Bahkan saat usianya menginjak 14 tahun, Hermanto diberikan kepercayaan oleh ayahnya untuk mengelola apotek. Pengetahuan perihal investasi emas juga diajarkan oleh kedua orang tuanya, mulai dari gram hingga 1 kg emas pada usia 15 tahun.
Kesusahan yang menyelimuti keluarganya tak menyurutkan tekad sang ayah. Berkat kerja kerasa dan keuletan ayahnya, Hermanto bisa belajar. Sang ayah, Soetikno Tanoko, sempat menjadi petani palawija. Dia harus mengayuh sepeda dari Singosari ke Malang untuk menjual hasil bumi, sedangkan ibunya berjualan pakaian bekas.
Sinar kehidupan mulai menyembul tatkala ayah Hermanto mendirikan usaha kecil dengan membuka toko cat pada 1962 di Malang. Tak mau sang suami berjuang sendirian, ibunya pun membuka toko kelontong dua tahun kemudian.
Usaha cat ini yang mengantarkan Hermanto dan saudaranya sukses. Hermanto yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara ternyata sudah dikenalkan dengan dunia bisnis sejak dini. Sejak usia 5 tahun, angpau yang dia peroleh rutin dibelanjakan untuk membeli beberapa barang dari toko kelontong ibunya yang harganya diperkirakan akan naik seperti terigu, biskuit, telur dan sebagainya.
Sejak saat itu, Hermanto mulai kenal dengan yang namanya investasi. Dia juga diajarkan mengelola bisnia saat berusia 8 tahun dengan membantu ayahnya menjaga toko cat. Bahkan saat usianya menginjak 14 tahun, Hermanto diberikan kepercayaan oleh ayahnya untuk mengelola apotek. Pengetahuan perihal investasi emas juga diajarkan oleh kedua orang tuanya, mulai dari gram hingga 1 kg emas pada usia 15 tahun.
Lihat Juga :