Pendapatan Bruto GoTo Melonjak 53%, Bagaimana dengan Kerugiannya?
Selasa, 31 Mei 2022 - 21:35 WIB
loading...
A
A
A
Jika dibandingkan dengan angka take rate perusahaan sejenis, seperti Alibaba untuk bisnis e-commerce, Uber dan Grab untuk bisnis on demand, GoTo dinilai masih memiliki ruang yang cukup besar untuk meningkatkan kembali take rate ke depannya, sehingga hal ini dapat berdampak positif pada kenaikan pendapatan bruto dan menguatkan jalur menuju profitabilitas.
Tren penguatan bisnis GoTo sejatinya sudah terlihat sejak tahun lalu. Di tengah pemulihan ekonomi yang positif, pada tahun 2021 pendapatan bruto GoTo tumbuh 45% yoy mencapai Rp17,1 triliun dari Rp11,85 triliun. Sehingga pendapatan bersih perseroan naik 7% menjadi Rp5,16 triliun dari Rp4,82 triliun.
Pada tahun 2021, Gross Transaction Value (GTV) perusahaan menembus Rp461,60 triliun, naik 40% dibandingkan dengan Rp330,18 triliun di 2020. Dari jumlah GTV ini, kontribusi bisnis on-demand services (mobilitas, pesan-antar makanan dan bahan kebutuhan pokok, dan logistik) mencapai Rp50,31 triliun, naik 25,21% dari Rp40,18 triliun.
Segmen e-commerce menyumbang transaksi senilai Rp230,59 triliun, tumbuh 45,82% dari Rp158,13 triliun. Sementara pilar financial technology (fintech) menyumbang transaksi GTV sebanyak Rp214,91 triliun, melesat 80% dari sebelumnya Rp119,52 triliun.
Kenaikan GTV di ekosistem GoTo terus terjadi pada tahun ini. Hingga kuartal I-2022 angka GTV GoTo mencapai Rp139,54 triliun, tumbuh 45,04% daripada Rp96,21 triliun di kuartal I-2021.
GTV adalah metrik operasional yang mencakup jumlah nilai transaksi dari on-demand services; jumlah nilai produk dan jasa yang tercatat di platform marketplace e-commerce, dan nilai pembayaran yang diproses via platform fintech, tapi tidak termasuk nilai transaksi antar entitas di perusahaan yang dieliminasi saat konsolidasi.
Tren penguatan bisnis GoTo sejatinya sudah terlihat sejak tahun lalu. Di tengah pemulihan ekonomi yang positif, pada tahun 2021 pendapatan bruto GoTo tumbuh 45% yoy mencapai Rp17,1 triliun dari Rp11,85 triliun. Sehingga pendapatan bersih perseroan naik 7% menjadi Rp5,16 triliun dari Rp4,82 triliun.
Pada tahun 2021, Gross Transaction Value (GTV) perusahaan menembus Rp461,60 triliun, naik 40% dibandingkan dengan Rp330,18 triliun di 2020. Dari jumlah GTV ini, kontribusi bisnis on-demand services (mobilitas, pesan-antar makanan dan bahan kebutuhan pokok, dan logistik) mencapai Rp50,31 triliun, naik 25,21% dari Rp40,18 triliun.
Segmen e-commerce menyumbang transaksi senilai Rp230,59 triliun, tumbuh 45,82% dari Rp158,13 triliun. Sementara pilar financial technology (fintech) menyumbang transaksi GTV sebanyak Rp214,91 triliun, melesat 80% dari sebelumnya Rp119,52 triliun.
Kenaikan GTV di ekosistem GoTo terus terjadi pada tahun ini. Hingga kuartal I-2022 angka GTV GoTo mencapai Rp139,54 triliun, tumbuh 45,04% daripada Rp96,21 triliun di kuartal I-2021.
GTV adalah metrik operasional yang mencakup jumlah nilai transaksi dari on-demand services; jumlah nilai produk dan jasa yang tercatat di platform marketplace e-commerce, dan nilai pembayaran yang diproses via platform fintech, tapi tidak termasuk nilai transaksi antar entitas di perusahaan yang dieliminasi saat konsolidasi.
Lihat Juga :