Triwulan I/2020, PII Indonesia Catat Penurunan Kewajiban Neto
Jum'at, 26 Juni 2020 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan, penurunan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor revaluasi atas instrumen investasi berdenominasi rupiah sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. "Posisi AFLN menurun terutama didorong oleh transaksi aset dalam bentuk cadangan devisa," jelasnya.
Dia memerinci, AFLN pada akhir triwulan I/2020 turun 2,9% (qtq) dari USD373,4 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi USD362,6 miliar. Selain karena faktor transaksi, penurunan AFLN juga didorong oleh revaluasi akibat penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia dan penurunan rerata indeks saham di sebagian besar negara penempatan investasi residen.
Terlepas dari itu, BI memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I/2020 relatif terjaga. Hal ini tercermin dari penurunan posisi kewajiban neto PII dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang.
Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian. Ke depan, kata Onny, BI meyakini kinerja PII Indonesia akan makin baik sejalan dengan stabilitas perekonomian yang terjaga dan pemulihan ekonomi Indonesia yang berlanjut pasca COVID-19 didukung oleh konsistensi dan sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia, kebijakan fiskal, dan reformasi struktural.
Dia memerinci, AFLN pada akhir triwulan I/2020 turun 2,9% (qtq) dari USD373,4 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi USD362,6 miliar. Selain karena faktor transaksi, penurunan AFLN juga didorong oleh revaluasi akibat penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia dan penurunan rerata indeks saham di sebagian besar negara penempatan investasi residen.
Terlepas dari itu, BI memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I/2020 relatif terjaga. Hal ini tercermin dari penurunan posisi kewajiban neto PII dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang.
Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian. Ke depan, kata Onny, BI meyakini kinerja PII Indonesia akan makin baik sejalan dengan stabilitas perekonomian yang terjaga dan pemulihan ekonomi Indonesia yang berlanjut pasca COVID-19 didukung oleh konsistensi dan sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia, kebijakan fiskal, dan reformasi struktural.
(fai)
Lihat Juga :