Negara-negara Ini Pernah Bangkrut di Era Modern, Nomor 3 Kuasai Nuklir
Selasa, 12 Juli 2022 - 15:52 WIB
loading...
A
A
A
5. Libanon
Krisis Lebanon dimulai pada akhir 2019 setelah pemerintah mengumumkan pajak-pajak baru, termasuk biaya bulanan USD6 untuk menggunakan panggilan suara Whatsapp. Langkah-langkah tersebut memicu kemarahan yang lama membara terhadap kelas penguasa dan protes massa selama berbulan-bulan.
Pada Maret 2020, Lebanon gagal membayar kembali utangnya yang pada saat itu bernilai sekitar USD90 miliar atau 170% dari PDB negara tersebut. Pada Juni 2021, dengan mata uang yang telah kehilangan hampir 90% nilainya, Bank Dunia mengatakan krisis tersebut menempati peringkat salah satu yang terburuk di dunia dalam lebih dari 150 tahun. Pada April 2020, Wakil Perdana Menteri pemerintah Lebanon Saadeh al-Shami mengumumkan kebangkrutan negara dan Bank Sentral Lebanon.
Baca Juga: Uni Eropa Prediksi Rusia Akan Bangkrut, Ini Reaksi Moskow
Saat ini, ketika dunia kembali dihadapkan krisis bermata tiga, yaitu pandemi, meningkatnya biaya utang, dan kenaikan harga pangan dan bahan bakar akibat perang Rusia-Ukraina, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh dunia dihadapkan pada risiko bangkrut.
Mengutip theguardian.com, Presiden Bank Dunia David Malpass mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut. "Saya sangat prihatin dengan negara-negara berkembang. Mereka menghadapi kenaikan harga mendadak untuk energi, pupuk dan makanan, dan kemungkinan kenaikan suku bunga. Masing-masing memukul mereka dengan keras," tuturnya.
Badan Perdagangan dan Pengembangan PBB - UNCTAD dalam laporannya baru-baru ini menyatakan bahwa ada 107 negara yang menghadapi setidaknya satu dari tiga guncangan tersebut. UNCTAD menambahkan, sebanyak 69 negara bahkan menghadapi ketiga krisis itu sekaligus.
Krisis Lebanon dimulai pada akhir 2019 setelah pemerintah mengumumkan pajak-pajak baru, termasuk biaya bulanan USD6 untuk menggunakan panggilan suara Whatsapp. Langkah-langkah tersebut memicu kemarahan yang lama membara terhadap kelas penguasa dan protes massa selama berbulan-bulan.
Pada Maret 2020, Lebanon gagal membayar kembali utangnya yang pada saat itu bernilai sekitar USD90 miliar atau 170% dari PDB negara tersebut. Pada Juni 2021, dengan mata uang yang telah kehilangan hampir 90% nilainya, Bank Dunia mengatakan krisis tersebut menempati peringkat salah satu yang terburuk di dunia dalam lebih dari 150 tahun. Pada April 2020, Wakil Perdana Menteri pemerintah Lebanon Saadeh al-Shami mengumumkan kebangkrutan negara dan Bank Sentral Lebanon.
Baca Juga: Uni Eropa Prediksi Rusia Akan Bangkrut, Ini Reaksi Moskow
Saat ini, ketika dunia kembali dihadapkan krisis bermata tiga, yaitu pandemi, meningkatnya biaya utang, dan kenaikan harga pangan dan bahan bakar akibat perang Rusia-Ukraina, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh dunia dihadapkan pada risiko bangkrut.
Mengutip theguardian.com, Presiden Bank Dunia David Malpass mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut. "Saya sangat prihatin dengan negara-negara berkembang. Mereka menghadapi kenaikan harga mendadak untuk energi, pupuk dan makanan, dan kemungkinan kenaikan suku bunga. Masing-masing memukul mereka dengan keras," tuturnya.
Badan Perdagangan dan Pengembangan PBB - UNCTAD dalam laporannya baru-baru ini menyatakan bahwa ada 107 negara yang menghadapi setidaknya satu dari tiga guncangan tersebut. UNCTAD menambahkan, sebanyak 69 negara bahkan menghadapi ketiga krisis itu sekaligus.
(fai)
Lihat Juga :