Hindari Resesi, Jaga Daya Beli
Selasa, 19 Juli 2022 - 09:47 WIB
loading...
A
A
A
"Jadi, negara-negara ini justru terpukul akibat kenaikan harga energi. Ekonomi mereka langsung kena dampaknya karena tidak punya komoditas dan energi sehingga ketika terjadi kenaikan harga pangan atau energione to onelangsung ditransmisikan ke dalam negeri. Berbeda dengan Indonesia, barang-barang kita, kita jual ke luar negeri. Kita dapatwindfall,β ujarnya saat dihubungiKORAN SINDO, Senin (18/7/2022).
Dariwindfallitu, menurutnya, pemerintah mengalokasikan untuksocial benefittransferdan menahan harga. Pemerintah memang menahan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dan solar. Bahkan pertamax pun tak dilepas sepenuhnya sesuai harga keekonomiannya. Jika harga BBM subsidi itu dinaikkan, hal itu akan merembet ke harga pangan. Ujungnya,daya beli masyarakat yang baru pulih, bisa kembali terpukul.
Seperti diketahui, 60% ekonomi Tanah Air ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Penerimaan yang tinggi dari ekspor komoditas itu juga dialokasikan untuk 40% kelompok masyarakat bawah.βItu yang dilakukan pemerintah. Maka kita bisa tumbuh di atas 5% dua kuartal terakhir. Kalau kita lihat data, dalam 26 bulan neraca perdagangan surplus. Itu sangat jauh berbeda dengan negara-negara Asia yang ditampilkan (survei) Bloomberg itu,β klaimnya.
Baca juga: Taji APBN Hadapi (Ancaman) Inflasi
Beberapa langkah yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global lainnya, antara lain, terus menggenjot ekspor dan mengoptimalkan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp455,62 triliun. Hingga Juni lalu, dana yang sudah digunakan Rp113,5 triliun. Porsi terbesar untuk perlinsos, yakni Rp57 triliun dari pagu Rp154,76 triliun. Iskandar menyatakan untuk dana PEN tahun depan, pemerintah akan melihat situasi.
Dari sisi eksternal, perang Rusia-Ukraina selain telah menyebabkan gejolak harga energi dan komoditas, juga berimbas pada angka inflasi di berbagai negara seperti Amerika Serikat yang melonjak. Di Negeri Paman Sam, inflasi pada Juni mencapai 9,1%, tertinggi dalam empat dekade terakhir.
Dengan kondisi ini, The Federal Reserve(The Fed) kemungkinan besar kembali menaikkan suku bunganya. Tahun ini, The Fed sudah beberapa kali menaikkan suku bunga. Yang terakhir, menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin(bps) ke kisaran 1,5β1,75%. Sejumlah analis memperkirakan The Fed bisa saja menaikkan suku bunga acuan di kisaran 3% pada tahun depan.
Dariwindfallitu, menurutnya, pemerintah mengalokasikan untuksocial benefittransferdan menahan harga. Pemerintah memang menahan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dan solar. Bahkan pertamax pun tak dilepas sepenuhnya sesuai harga keekonomiannya. Jika harga BBM subsidi itu dinaikkan, hal itu akan merembet ke harga pangan. Ujungnya,daya beli masyarakat yang baru pulih, bisa kembali terpukul.
Seperti diketahui, 60% ekonomi Tanah Air ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Penerimaan yang tinggi dari ekspor komoditas itu juga dialokasikan untuk 40% kelompok masyarakat bawah.βItu yang dilakukan pemerintah. Maka kita bisa tumbuh di atas 5% dua kuartal terakhir. Kalau kita lihat data, dalam 26 bulan neraca perdagangan surplus. Itu sangat jauh berbeda dengan negara-negara Asia yang ditampilkan (survei) Bloomberg itu,β klaimnya.
Baca juga: Taji APBN Hadapi (Ancaman) Inflasi
Beberapa langkah yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global lainnya, antara lain, terus menggenjot ekspor dan mengoptimalkan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp455,62 triliun. Hingga Juni lalu, dana yang sudah digunakan Rp113,5 triliun. Porsi terbesar untuk perlinsos, yakni Rp57 triliun dari pagu Rp154,76 triliun. Iskandar menyatakan untuk dana PEN tahun depan, pemerintah akan melihat situasi.
Dari sisi eksternal, perang Rusia-Ukraina selain telah menyebabkan gejolak harga energi dan komoditas, juga berimbas pada angka inflasi di berbagai negara seperti Amerika Serikat yang melonjak. Di Negeri Paman Sam, inflasi pada Juni mencapai 9,1%, tertinggi dalam empat dekade terakhir.
Dengan kondisi ini, The Federal Reserve(The Fed) kemungkinan besar kembali menaikkan suku bunganya. Tahun ini, The Fed sudah beberapa kali menaikkan suku bunga. Yang terakhir, menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin(bps) ke kisaran 1,5β1,75%. Sejumlah analis memperkirakan The Fed bisa saja menaikkan suku bunga acuan di kisaran 3% pada tahun depan.
Lihat Juga :