Dampak Kebijakan The Fed buat RI Tak Akan Seperti yang Digembar-gemborkan
Selasa, 09 Agustus 2022 - 22:36 WIB
loading...
A
A
A
Keadaan likuiditas dalam sistem finansial Indonesia dinilai lebih dari cukup, ditunjukkan juga oleh indikator lainnya, seperti rasio alat likuid atau non-core deposit (AL/NCD) ada di level 133,4% dan alat likuid/DPK (AL/DPK) di level 29,9% pada Juni 2022. Nilai ini berada di atas threshold masing-masing minimal 50% dan 10%.
“Intinya likuiditas perbankan nasional tetap terjaga dengan baik. Perlu ditekankan lagi di sini bahwa kondisi likuiditas itu bukan hanya tergantung pada kondisi global saja, karena sebenarnya kondisi likuiditas perbankan ada di bawah kendali kita sendiri. Bank sentral kita senantiasa menjaga likuiditas perbankan dan memonitor terus dari waktu ke waktu. Dan KSSK sudah menemukan cara yang jitu untuk memelihara atau menjaga likuiditas perbankan nasional,” tambah Purbaya.
Lebih lanjut, menjawab pertanyaan mengenai susutnya kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) yang menurut data terakhir mengecil ke angka sekitar 15%, Purbaya menjelaskan bahwa ada dua sisi yang dapat dilihat dari perkembangan tersebut. Sisi baik dari pengurangan itu adalah ketergantungan kita terhadap dana asing untuk pembangunan semakin kecil, lebih banyak uang yang bersumber dari dalam negeri yang dapat digunakan untuk membiayai misalnya pembangunan infrastruktur nasional.
Keuntungan lainnya adalah stabilitas pasar SBN menjadi lebih mudah dijaga karena kita tidak terlalu terpengaruh lagi oleh pegerakan investor asing di pasar obligasi. Dengan jumlah kepemilikan asing yang lebih sedikit, maka akan relatif lebih memudahkan bagi bank sentral maupun pemerintah mengendalikan gejolak di pasar obligasi.
"Sehingga stabilitas pasar finansial relatif lebih mudah dijaga," jelasnya.
“Intinya likuiditas perbankan nasional tetap terjaga dengan baik. Perlu ditekankan lagi di sini bahwa kondisi likuiditas itu bukan hanya tergantung pada kondisi global saja, karena sebenarnya kondisi likuiditas perbankan ada di bawah kendali kita sendiri. Bank sentral kita senantiasa menjaga likuiditas perbankan dan memonitor terus dari waktu ke waktu. Dan KSSK sudah menemukan cara yang jitu untuk memelihara atau menjaga likuiditas perbankan nasional,” tambah Purbaya.
Lebih lanjut, menjawab pertanyaan mengenai susutnya kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) yang menurut data terakhir mengecil ke angka sekitar 15%, Purbaya menjelaskan bahwa ada dua sisi yang dapat dilihat dari perkembangan tersebut. Sisi baik dari pengurangan itu adalah ketergantungan kita terhadap dana asing untuk pembangunan semakin kecil, lebih banyak uang yang bersumber dari dalam negeri yang dapat digunakan untuk membiayai misalnya pembangunan infrastruktur nasional.
Keuntungan lainnya adalah stabilitas pasar SBN menjadi lebih mudah dijaga karena kita tidak terlalu terpengaruh lagi oleh pegerakan investor asing di pasar obligasi. Dengan jumlah kepemilikan asing yang lebih sedikit, maka akan relatif lebih memudahkan bagi bank sentral maupun pemerintah mengendalikan gejolak di pasar obligasi.
"Sehingga stabilitas pasar finansial relatif lebih mudah dijaga," jelasnya.
Lihat Juga :