Jokowi: Sangat Lucu dan Bodoh, Kalau Uang Negara Dibelanjakan Produk Impor

Senin, 29 Agustus 2022 - 13:09 WIB
loading...
Jokowi: Sangat Lucu dan Bodoh, Kalau Uang Negara Dibelanjakan Produk Impor
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menyentil kebiasaan impor yang masih dilakukan pemerintah pusat dan daerah yang menurutnya sangat lucu dan bodoh saat Peluncuran Kartu Kredit Pemerintah Domestik. Foto: Humas Setkab/Agung.
A A A
JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menyentil kebiasaan impor yang masih dilakukan pemerintah pusat dan daerah. Lantaran kerap membelanjakan uang negara untuk produk impor, sehingga tidak dapat memberikan nilai tambah kepada perekonomian Indonesia.

"Saya sudah pesan betul, sangat lucu sekali, sangat bodoh sekali kalau uang yang dikumpulkan oleh pemerintah, baik dari pajak, PNBP, masuk menjadi APBN, masuk menjadi APBD kemudian belanjanya produk-produk impor," ujar Jokowi saat memberikan sambutan dalam launching Kartu Kredit Pemerintah Domestik dan QRIS Antarnegara yang disiarkan di youtube Bank Indonesia, Senin (29/8/2022).

Baca Juga: Ini Daftar Barang Impor yang Bikin Jokowi Marah

Jokowi juga mengatakan, kepada kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPK) untuk mengawal belanja pemerintah pusat dan daerah untuk membeli produk dalam negeri.

"Ini yang terus kepala LKPP saya sampaikan berkali-kali agar sistem yang mengawal ini betul-betul segera bisa selesai dan daerah semuanya dengan semangat yang sama beli produk dalam negeri," katanya.

Baca Juga: Jokowi Marah! Tempat Tidur RS, Traktor hingga Seragam TNI-Polri Masih Impor

Jokowi mengatakan, pemerintah pusat dan daerah sudah berkomitmen untuk membelanjakan kebutuhannya dengan membeli produk dalam negeri. Adapun nilai anggaran dana yang dikomitmenkan oleh pemerintah pusat dan daerah sebesar Rp800 triliun.

Sedangkan saat ini realisasi penggunaan anggaran tersebut dalam membelanjakan produk dalam negeri baru mencapai lebih dari Rp400 triliun. Jokowi berharap angka tersebut dapat terus mencapai taget komitmen tersebut.

"Tapi kalo bisa masuk ke Rp800 triliun dan betul-betul produknya dalam negeri apalagi produk lokal, UMKM. Maka pergerakan ekonomi di bawah ini akan keliatan," pungkasnya.

(akr)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1259 seconds (10.101#12.26)