Ajak Investor Masuk Kawasan Industri, Ketum HKI Beberkan Kelebihannya

Selasa, 20 September 2022 - 17:07 WIB
loading...
Ajak Investor Masuk...
Ketua Umum HKI Sanny Iskandar. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Sektor industri masih menjadi penopang utama perekonomian. Sejalan dengan itu, jumlah kawasan industri di Indonesia pun terus meningkat.

Kawasan Industri merupakan kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri. Tercatat hingga kini sebanyak 107 kawasan industri yang tergabung dalam Himpunan Kawasan Industri (HKI).

Ketua Umum HKI Sanny Iskandar dalam acara podcast “Sofa Panas” yang diselenggarakan PT Krakatau Sarana Properti menyebut kawasan industri yang ada saat ini sebagian besar berada di luar pulau Jawa.

“Ini seiring dengan keinginan Bapak Presiden Jokowi yang menginginkan pertumbuhan industri tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga di luar Pulau Jawa,” ujarnya, dikutip Selasa (20/9/2022).

Baca juga: Konsumsi Listrik di Jabar Tembus 37.235 GWh, Mayoritas Diserap Sektor Industri

Menurut dia, tujuan utama dari kehadiran kawasan industri adalah untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Karena itu, kawasan industri yang dirancang saat ini bukan hanya berisikan pabrik tetapi juga sudah dilengkapi dengan kawasan komersial dan juga perumahan,” tuturnya.

Dia berharap, seluruh anggota HKI terus mengembangkan dan memperluas kawasan industri di daerahnya masing-masing. Sanny juga mengingatkan agar jangan sampai ada investor yang ingin berinvestasi tetapi kawasannya belum ada, khususnya infrastruktur penunjang industri.

Selama ini, Sanny bilang, PLN dan PGN dengan senang hati mendistribusikan listrik dan gas ke kawasan industri karena infrastrukturnya sudah ada seperti kabel dan lain-lain.

“Bisa saja dibangun (pabrik) di luar kawasan tapi itu akan memunculkan banyak masalah, terkait tata ruang, lingkungan dan juga masyarakat sekitar. Karena itu, lebih baik apabila ada investor yang ingin masuk langsung diarahkan ke kawasan industri,” tuturnya.

Eksistensi HKI selama 34 tahun ini telah berkontribusi pada pengembangan industri manufaktur di berbagi wilayah di Indonesia.

Menurut Sanny, sektor industri manufaktur merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling besar kontribusinya terhadap Product Domestic Bruto (PDB) yang rata-rata sekitar 20% per tahun.

“Pencapaian pertumbuhan kawasan industri di daerah-daerah tidak hanya mampu menciptakan berbagai kegiatan ekonomi, akan tetapi mampu meningkatkan pertumbuhan kegiatan sosial, seperti aspek lingkungan dan tata ruang, serta kualitas sumber daya manusia,” bebernya.

“Dengan ekonomi yang tumbuh banyak menciptakan berbagai usaha-usaha komersial baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan industri manufaktur,” imbuh Sanny.

Baca juga: Antara Asa dan Realita Kawasan Industri Hasil Tembakau

Dia pun meminta kawasan industri untuk merekrut putra daerah menjadi tenaga kerja. Dengan demikian, putra daerah bisa memberikan kontribusi dalam pembangunan di wilayahnya.

“Kawasan Industri juga bisa membantu pemerintah dalam menyerap tenaga kerja. Karena, setiap tahun banyak lulusan kuliah yang tidak bisa terserap di dunia ketenagakerjaan. Di sini lah HKI bisa turut membantu pemerintah di sektor ketenagakerjaan,” tukasnya.

Terkait masalah buruh, Sanny menyebut bukan hanya upah yang menjadi isu utama tetapi juga produktivitas. Di era perdagangan bebas seperti sekarang, imbuh dia, Indonesia tidak hanya bersaing dengan Malaysia, Thailand atau Vietnam tetapi juga dengan China dan India.

“Katakanlah gaji buruh di sini Rp5 juta per bulan dan bisa menghasilkan 10 unit produk. Lalu di China gaji buruh Rp7 juta per bulan tapi bisa menghasilkan 20 unit produk. Secara gaji mungkin lebih besar tetapi produktivitasnya juga lebih tinggi,” tukasnya. Dia pun berharap para pekerja di kawasan industri bisa terus meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tok, Pemerintah Resmi...
Tok, Pemerintah Resmi Turunkan Harga Gas Industri Jadi USD13/MMBTU
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
Investor Saham Meningkat,...
Investor Saham Meningkat, Stockbit Andalkan Keamanan Berlapis
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Emas Now Tawarkan Investasi...
Emas Now Tawarkan Investasi Logam Mulia Lebih Inklusif
Bahlil Blak-blakan Terkait...
Bahlil Blak-blakan Terkait Isu Naiknya Harga Gas Industri di Jawa
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
International Industrial...
International Industrial Week Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Dorong Daya Saing Industri Melalui Inovasi dan Kemitraan Strategis
Evita DPR Soroti Ruwetnya...
Evita DPR Soroti Ruwetnya Industri Tekstil Nasional
Rekomendasi
Hari Anti Narkotika...
Hari Anti Narkotika Internasional, YAKITA Dorong Sinergi Penegakan Hukum, Rehabilitasi, dan Peran Keluarga
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
Berita Terkini
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Investasi Hijau, Pertamina...
Investasi Hijau, Pertamina Port & Logistics Tanam 600 Mangrove di Balikpapan
Belanja Puas, Dompet...
Belanja Puas, Dompet Aman dengan Promo Spesial Blibli BRIDAY
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
Hadir di CEO Talks Unand,...
Hadir di CEO Talks Unand, Pegadaian Ajak Generasi Muda Melek Investasi Sejak Dini
Infografis
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved