Kisah Bagaimana Kekayaan Qatar Menyentuh Jutaan Kehidupan di Inggris

Selasa, 29 November 2022 - 09:29 WIB
loading...
Kisah Bagaimana Kekayaan...
Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 tengah menjadi sorotan, tapi ternyata yang tidak banyak diketahui bahwa Qatar dan Inggris mempunyai hubungan erat yang menyentuh kehidupan jutaan orang. Foto/Dok
A A A
LONDON - Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 tengah menjadi sorotan usai diterpa kritik soal hak-hak asasi manusia yang di dalamnya mencakup pekerja migran. Namun tahukah kamu? ternyata Qatar dan Inggris mempunyai hubungan erat yang menyentuh kehidupan jutaan orang.

Baca Juga: Sejarah Penemuan Harta Karun Minyak yang Mengubah Nasib Qatar Menjadi Kaya Raya

Meski nilai-nilai kedua negara bertolak belakang, tapi inti dari hubungan itu adalah gas. Qatar adalah negara kecil seukuran Yorkshire tetapi memiliki salah satu cadangan alam terbesar di planet ini dan Inggris merupakan pelanggan utamanya.

Sekitar setengah dari gas Inggris diimpor dan sekitar setengahnya datang melalui pipa dari Norwegia. Tetapi Qatar berada di urutan kedua dalam daftar yang memasok sekitar 9% dari impor energi Inggris.

Secara teori, angka tersebut setara jumlah yang dibutuhkan untuk memberi daya pada sekitar satu juta rumah di Inggris. Dalam waktu kurang dari 20 tahun, Qatar telah menjadi bagian penting dari transisi energi Inggris.

Seperti dilansir BBC, Inggris dan Qatar memiliki sedikit hubungan historis dimana yang terakhir telah menyalurkan kekayaan berbasis gas ke dalam lanskap perusahaan dan properti Inggris. Emir Qatar menjadi salah satu dari sedikit pemimpin Teluk yang menghadiri pemakaman Ratu Elizabeth II.

Baca Juga: Lupakan Minyak dan Gas Rusia, Inggris Sudah Tak Lagi Impor

Sebelumnya Pangeran Charles yang saat ini menjadi Raja disebut-sebut menerima sumbangan untuk yayasan amalnya senilai lebih dari 2 juta pounds. Ia kabarnya menerimanya dalam sebuah koper berisi uang tunai senilai 1 juta euro atau Rp15,6 miliar dari seorang sheikh Qatar.

Sangat tidak biasa, angkatan udara negara Inggris juga telah membentuk dua skuadron gabungan - salah satunya berpatroli di langit di atas venue Piala Dunia. Lalu pada bulan September, Qatar mengambil alih kepemilikan 24 jet tempur yang dibangun di Lancashire, bagian dari kesepakatan 5 miliar pounds dengan sistem BAE.

Pemerintah Qatar juga memutar sebagian uang tunainya dengan berinvestasi di Inggris. Meski bukan salah satu investor terbesar , tetapi kepemilikannya dipilih secara strategis untuk memaksimalkan profil dan pengaruh. Mereka adalah salah satu dari selusin pemilik properti terbesar di Inggris.

Pusat kerajaan propertinya adalah Canary Wharf Group yang memiliki landmark termasuk 20 Fenchurch Street, dijuluki Walkie Talkie, dan pembangunan kembali Shell Centre di South Bank London.

Pemerintah Qatar juga memiliki department store mewah Harrods dan 5* hotel Claridge's di London. Selain itu Qatar juga memiliki kepemilikan saham yang signifikan untuk beberapa brand terbesar.

Bank Barclays, pusat perbelanjaan di Sainsburys atau bandara Heathrow, di antara yang mendapatkan manfaat dari Qatar. Secara total, Qatar telah menanamkan investasinya sekitar 40 miliar pounds di daerah-daerah yang menyentuh jutaan kehidupan Inggris, dan dirancang untuk memastikan pengaruh negara kecil itu jauh di atas bobotnya di tanah Inggris.

Dan dananya telah disambut baik oleh pemerintah Inggri dan bakal terus ditingkatkan. Pada bulan Mei, Perdana Menteri Boris Johnson saat itu membuat kesepakatan bagi Qatar untuk berinvestasi hingga 10 miliar pounds selama lima tahun ke depan di Inggris untuk beragam sektor mulai dari keamanan siber hingga ilmu pengetahuan.

Sementara itu ketergantungan Inggris kepada gas Qatar diyakini bisa meningkat di masa depan. Pemerintah Inggris telah memelihara hubungan dengan Doha, untuk memastikan keamanan pasokan karena cadangan Laut Utara mulai berkurang.

Inggris dalam beberapa bulan terakhir telah berhasil memotong impor dari Rusia. Meski hanya sekitar 4% dari total pasokan Inggris, tetapi gas yang bersumber dari Qatar semakin penting.

UE yang jauh lebih bergantung pada gas Rusia lebih mendesak dalam mengamankan pasokan alternatif. Secara keseluruhan, UE hanya mendapat 5% gasnya dari Qatar - tetapi itu bisa berubah.

Kanselir Jerman Olaf Schultz telah mengatakan, bahwa Qatar akan memainkan peran sentral dalam strategi negara itu untuk melakukan diversifikasi dari gas Rusia. Tapi hal itu tidak bisa terjadi dalam semalam.

Negosiasi kontrak menjadi rumit. Lantaran Qatar suka memasok gas di bawah kesepakatan jangka panjang, yang berlangsung 15-20 tahun, yang mungkin tidak konsisten dengan tujuan negara-negara Barat untuk melakukan dekarbonisasi.

Sebaliknya China, dengan rencana net-zero yang kurang ambisius, telah meluncurkan perjanjian 27 tahun untuk membeli gas Qatar senilai USD60 miliar. Jerman sendiri masih perlu meningkatkan infrastrukturnya, terutama terminal yang menerima gas alam cair atau yang dikenal sebagai LNG, untuk mengambil lebih banyak pasokan.

Inggris selangkah di depan berkat kerja sama dengan Qatar. Ditambah adanya terminal South Hook di Wales, di mana LNG diturunkan ke kontainer khusus. Diklaim lokasi itu dapat menampung seperlima dari kebutuhan gas harian Inggris - pemerintah Qatar disebut menginvestasikan jutaan dolar untuk meningkatkan kapasitas hingga seperempatnya pada tahun 2025.

Dan pada saat itu, Qatar mengharapkan bisa menggandakan output LNG-nya tanpa kekurangan pelanggan. Inggris mungkin tidak bisa menemukan partner selain Qatar yang bisa diandalkan, karenanya hubungan kedua negara tampaknya hanya akan menjadi lebih dekat di tahun-tahun mendatang.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Dalih Iran Soal Penutupan...
Dalih Iran Soal Penutupan Ketat di Selat Hormuz, Stabilitas Harga Energi Masih Jauh
Rupiah Masih Rapuh,...
Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Sentuh Level Rp17.104 per USD
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Rekomendasi
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Awkarin Dicecar 33 Pertanyaan...
Awkarin Dicecar 33 Pertanyaan soal Kerja Sama dengan Hanania Group
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Berita Terkini
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Infografis
Muhammad Jadi Nama Terpopuler...
Muhammad Jadi Nama Terpopuler untuk Bayi Lelaki di Inggris Raya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved